Saya kenal Abi melalui Ustadz saya, yaitu Ustadz Minhajun Ni’am tahun 2002. Waktu itu saya sudah menikah dan dalam pernikahan pasti ada ujian, biasa dalam kehidupan berumah tangga, dan dalam berdakwah juga banyak sekaii ujiannya. Cuma waktu itu ujiannya besar.
Saya berdakwah melalui TPQ dan Madrasah. Dalanm berdakwah, secara kejama’ahan tidak ada sama sekali. Saya sendirian. Pengalaman saya ketika di Malang kota, Malang jamaahnya kompak. Dan ketika di Tulungagung jamaahnya juga sangat kompak, sehingga saya berpikir, “Benar apa nggak ya kehidupan saya ini dalam berdakwah dan kehidupan saya nanti?”
Baca juga: Nyenengno Uwong
Saya pun memberanikan diri untuk sowan dan curhat kepada Abi dan minta arahannya. Sebelumnya waktu itu 2011 saya pernah sowan dan curhat sama Abi. Abi memberi arahan untuk bersabar. Tahun 2013 ujiannya tambah besar. Saya coba matur dan sowan lagi ke Abi, barangkali ada arahan yang lebih. Ternyata Abi tetap bilang untuk bersabar. Setelah saya dinasihati Abi, untuk bersabar, beliau dawuh, “Aku gawe pondok iki (waktu itu di Pujon) gak langsung apik.” (Saya membangun pondok ini tidak langsung bagus). Butuh proses dan perjuangan.
Beliau menceritakan awal mula pondok Nurul Haromain dan juga dakwah beliau dari Malang-Surabaya untuk memotiyasi saya dan beliau memberi arahan untuk bersabar 10 tahun.
Subhanallah, malamnya saya bermimpi Abuya. Abuya menatap saya dan tersenyum, terus Abuya memeluk saya! Saya kaget sekali, sehingga terbangun. Subhanallah, ketika saya bangun masih terasa dekapan Abuya dan terasa wangi sekali. Saya sangat merasa bersyukur sekali, berarti Abuya senang dan merestui dengan dakwah saya. Bukan hanya itu saja, Allah Subhaanahu wata’ala memberi bonus kepada saya melalui perantara mertua saya, yaitu disuruh mengelola lahan seluas 1 hektar lebih. tepat sepuluh tahun pernikahan. Saya terus bersemangat dalam berdakwah. Saya ingin sekali membuka Pondok Tahfizh bagi anak yatim dan anak orangtuanya yang tidak mampu saya gratiskan. saya sekarang membuka toko dan percetakan yang saya kasih nama Al-Ghina, merujuk ke pondok Pujon, dengan harapan nanti santri saya bisa berwira-usaha.
Baca juga: Doa Abi
Demikian cerita singkat saya ini semoga bisa membuat tambah semangat dalam berdakwah dan berjamaah bersama Abi Ihya’ Ulumiddin yang kesanadannya sambung ke Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani dan terus sambung ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallani. Semoga kita semua bisa bersabar dalam berdakwah dan dalam mengarungi kehidupan. Semoga kita kelak bisa berkumpul berjamaah bersama Abi Ihya’ serta bertemu dan memeluk Abu juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di jannah.
Aamiin ya rabbal ‘aalamin.
Dituturkan oleh: Muhammad Anwar Zaini, Jamaah Persyada Al-Haromain. Diambil dari buku “Bersama Sang Murobbi 2” terbitan Persyarikatan Dakwah Al-Haromain.







