….
Saat ke Jawa, tiada yang lebih indah selain meluapkan kerinduan itu pada Abina. Masih ingat teringat jelas kisah saat saat indah membersamai Abina.
Saat mau izin pulang, Abina menahan denganmengatakan, “Aja mulih dhisik. Mari ngene tak jak keliling dakwah.” (Jangan pulang dulu. Habis ini saya ajak keliling dakwah). “Awakmu nek tak jak mangan paling ya ngono kuwi rasane.” (Kamu kalau aku ajak makan, ya paling seperti itu rasanya).
Dan memang benar, dalam perjalanan ini bukan hanya memuaskan dahaga kerinduan, namun kebahagiaan Zhahiran wa batinan……
Kurang lebih seperti ini kisahnya…
***
Maasyaa Allah, betapa senangnya diajak Abi bersama Ji Fud, Umi Lahah, Bu Am, dan anak saya untuk keliling dakwah di salah satu daerah kabupaten Malang.
Sepanjang perjalanan terasa indah. Dari pagi hingga malam terus membersamai Abina tanpa melihat ada rasa lelah sedikitpun pada diri Abina dan tentu saja kami. Yang ada hanya indah dan indah. Seolah tersnjung sepanjang waktu…..
Usai keliling di beberapa wilayah ABS, melanjutkan menghadiri acara Maulid di Ust. Shomad di daerah Buring Malang hingga kurang lebih pukul 23.00 WIB.
Sungguh saya dengan anak saya menikmati dari awal hingga akhir acara Maulid tersebut. Meski dalam hati menunggu-nunggu taushiyah Abina. Hingga akhir acara, ternyata Abi tidak memberikan taushiyah. Setelah saya tanyakan kenapa Abi tidak memberikan taushiyah,dawuh Abi sambil tersenyum lebar, “Shomad iku wis seneng meski aku teko thok ae. Nyenengno Shomad.” (Shomad itu sudah senang saya datang saja. Menyenangkan Shomad).
Maayaa Allah Abi, meski pada acara tersebut bukan Abi — dan bahkan terhitung santri beliau yang memberikan taushiyah dengan bahasa Madura karena di sana mayoritas jama’ah Madura — tapi Abi tetap duduk khidmat dari awal hingga akhir.
Saya kira setelah usai acara di Ust. Shomad akan langsung menuju Pujon, karena waktu sudah tengah malam, hampir lewat dari pukul 24.00 WIB.
Ternyata di saat semua sudah terlelap, tiba-tiba Abi mengajak mencari rumah seseorang. Saya jadi bertanya-tanya, rumah siapakah yang di cari?
Maasyaa Allah! Setelah saya tanyakan, Abi dawuh bahwa orang ini lama sekali tidak jumpa Abi, dan sangat ingin jumpa Abi. Bahkan Abi pun kurang begitu jelas dengan orang ini. Pada saat orang ini mencari Abi ke Pujon, ternyata Abi tidak ada. Maka Abi merasa punya hutang dan berusaha mencari rumahnya.
Agak lama juga kami mencari alamat rumahnya karena dihubungi lewat HP tidak sambung-sambung juga.
Awalnya kami tidak bisa masuk karena pintu gerbang perumahan sudah terkunci. Setelah berusaha menelpon lama karena mungkin orangnya sudah tidur, akhirnya bisa sambung dan orangnya meminta izin security agar mobilkami bisa masuk. Tentu saja orang yang didatangi sangat terkejut.
Abi langsung turun dari mobil dan orang tersebut langsung memeluk Abi, meminta Abi ,asuk rumah, dan selanjutnya Abi langsung mendo’akan bayi yang baru dilahirkan istrinya.
“Maasyaa Allah Abi, meski pada acara tersebut bukan Abi – dan
Bahkan terhitung santri beliau yang memberikan taushiyah dengan bahasa Madura karena di sana mayoritas jama’ah Madura – tapi Abi tetap duduk khidmat dari awal hingga akhir.
Tak lama, karena sudah larut malam, Abi pun langsung pamitan. Maasyaa Allah! Sekali lagi saya tanyakan pada Abi tentang peristiwa tadi. Jawaban Abi, “Nyenengno uwong, masio mung sedelo.” (Menyenangkan orang, meski cuma sebentar).
Yaa Allah, tak terasa menetes air mata. Seorang kiai besar masih sempat mencari rumah seseorang yang entah berapa lama tak berjumpa, hanya untuk menyenangkan dan mendo’akan anaknya yang baru lahir. Padahal, dari pagi Abina keliling dakwah, tinggal lelahnya. Ssudah larut malam, masih juga menyempatkan menyenangkan orang yang mungkin tidak terlalu penting di mata kita.
Astaghfirullah…
Bisakah kita menirunya?
Diceritakan oleh: Is’adiyah (Santri Abi Ihya Ulumiddin di Papua). Diketik oleh : Juwariyyah, santri putri Ma’had Nurul Haromain Pujon
Kisah yang lain dapat anda temukan dalam buku ke-2 Bersama Sang Murobbi terbitan Persyadha.







