Khutbah Jum’at: Berbakti pada Orang Tua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى:
Maasyiral Muslimin Sidang Jum’at Rahimakumulloh
Hal paling penting yang sering diabaikan manusia adalah bakti kepada orang tua. Banyak orang dengan suka rela membantu sahabat, kekasih atau bahkan orang yang tidak dikenal, tapi ketika orang tua meminta sedikit bantuan is menampakkan ketidak-sukaan. Padahal surga dan neraka kita tergantung kepada keridhoan kedua orang tua. Nabi ﷺ bersabda kepada seorang sahabat yang bertanya tentang hak orang tua:
هما جنتك ونارك
“Keduanya adalah penentu surga dan nerakamu.” (HR Ibnu Majah)
Di dalam al Quran, Allah SWT menyandingkan perintah bersyukur kepada-Nya dengan perintah bersyukur kepada orang tua:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman[31]: 14)
Siapa saja yang bersyukur kepada Allah, namun melupakan orang tua maka syukurnya tidak akan diterima begitu pula sebaliknya. Ini menunjukkan betapa agung jasa kedua orang tua kepada kita. Kita diperintahkan untuk bersyukur kepada mereka walau pun jasa mereka tidak akan pernah bisa dibalas dengan apa pun. Seorang lelaki pernah bertanya kepada sahabat Ibnu Umar ra,”Aku telah menggedong ibuku dari Khurasan sampai aku tuntaskan manasik hajinya. Apakah menurutmu aku sudah membalas jasa ibuku? “Sahabat Ibnu Umar ra dengan tegas menjawab: Belum, walau pun untuk membalas satu don tarikan nafasnya ketika melahirkan. Jika satu tarikan nafas ibu ketika melahirkan begitu agung nilainya sehinga tidak dapat dibalas dengan bakti luar biasa dari pemuda tadi, Maka bagaimana kita dapat membalas nafas-nafas ibu kita yang lain? Bagaimana kita dapat membalas tiap detik masa kehamilan ibu kita, setiap tetes air susu yang diberikan kepada kita dengan kasih sayang, setiap menit waktu tidur yang mereka korbankan untuk merawat kita?! Bagaimana pula kita mampu membalas jasa ayah, membalas setiap tetes keringat dalam bekerja menghidupi kita, terkadang ayah bekerja siang dan malam agar kita kenyang, menampakkan ketegaran walau pun lelah agar kita tenang, menampakkan kebahagiaan dan menyembunyikan kegundahan hati agar kita senang. Bahkan demi kita, ayah rela berhutang ke mana-mana. Bagaimana kita dapat membalas kasih sayang mereka yang tidak terbatas, penjagaan mereka yang sempurna sejak kita kecil sampai dewasa, semua harta yang mereka korbankan untuk merawat dan mendidik kita?! Tidak ada seorang pun yang mampu membalas itu semua. Maka pantaslah jika kewajiban syukur kepada orang tua disandingkan dengan kewajiban syukur kepada Allah, Pemilik segala nikmat dan kasih sayang.
Baca juga: Khutbah Jum’at: Keutamaan Sedekah
Maasyiral Muslimin Sidang Jum’at Rahimakumulloh
Tidak ada orang yang lebih pantas menerima perlakuan terbaik kita melebihi orang tua kita sendiri. Perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ seraya bertanya:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).
Ini adalah hadits agung yang sering kita dengar namun banyak dilalaikan umat Islam. Perhatikan saja, banyak anak yang lebih senang berteman dengan orang lain yang menjerumuskannya pada kelalaian daripada menemani orang-tua sendiri. Banyak anak yang lebih mempertahankan kekasih atau teman walau pun harus dengan meninggalkan dan mengabaikan orang tua. Yang lebih parah, banyak anak yang bertindak sesuka-hati untuk membahagiakan dirinya walau pun itu harus dengan membuat kedua orang tuanya susah dan sedih. Semua itu adalah dosa yang sangat besar saudara! Perhatikan bagaimana Allah SWT dengan tegas memerintahkan kita untuk menjaga perasaan kedua orang tua:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al Isra’[17]: 23)
Dalam ayat ini Allah SWT melarang kita menyakiti kedua orang tua walau pun hanya dengan ucapan “ah” yang menunjukkan perasaan enggan untuk melayani mereka. Dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لو عمل الله شيئا من العقوق ادنى من أف لنهى عن ذلك، فليعمل العاق ماساء ان يعمل، فلن يدخل الجنة، وليعمل البار ماشاء ان يعمل فلن يدخل النار
“Seandainya ada bentuk kedurhakaan yang lebih kecil dari pada ucapan “ah”pasti Allah akan melarangnya. Maka silahkan orang yang durhaka berbuat apa solo yang ia kehendaki, ia tidak akan pernah masuk ke dalam surga. Dan silahkan orang yang berbakti berbuat apa saja, ia tidak akan pernah masuk ke dalam neraka.” (HR Dailami)
Maka berhati-hatilah menjaga hati kedua orang tua. Perlakukan keduanya dengan perlakuan yang kita ingin anak-anak kita kelak memperlakukan kita dengannya. Bakti kepada mereka akan menjadi sebab bakti anak-anak kita kepada kita kelak. Rasulullah ﷺ bersabda:
بروا آباءكم تبركم ابناؤكم
“Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian maka anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian.” (HR Hakim)
Maasyiral Muslimin Sidang Jum’at Rahimakumulloh
Bakti kepada orang tua merupakan ibadah yang sangat agung, lebih utama daripada berperang di jalan Allah SWT. Sahabat Ibnu Masud ra pernah bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai amalan yang paling utama. Nabi ﷺ menjawab:
الصلاة لميقاتها قلت ثم ماذا يارسولالله قال برالوالدين قلت ثم ماذا يارسول الله الجهاد في سبيل الله
“Shalat pada waktunya.””Kemudian apa wahai Rasulullah?” Kota lbnu Masud. Nabi menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Sahabat lbnu Mas’ud bertanya lagi,”Kemudian apa wahai Rasulullah?” Nabi ﷺ menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (HR Turmudzi)
Betapa beruntung orang yang masih memiliki orang tua, sebab is bisa mendapatkan pahala yang sangat besar hanya dengan cara berbakti dan membahagiakan mereka. Dikatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
نومك على السرير برا بوالديك تضحكهما، ويضحكانك أفضل من جهادك باسيف فى سبيل الله عز وجل
“Tidurmu di atas dipan dalam keadaan berbakti kepada orang tuamu sembari membuat mereka tertawa dan mereka pun membuatmu tertawa, itu lebih balk daripada jihadmu dengan pedang di jalan Allah SWT.” (HR Baihaqi)
Sungguh rugi seorang yang tidak bisa memanfaatkan keberadaan kedua orang tuanya untuk meraih pahala yang melimpah. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
“Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya).”
“Sungguh rugi, sungguh rugi, sungguh rugi.” Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya yang telah berusia tua atau salah satu dari keduanya namun is tidak masuk ke dalam surga.” (HR Muslim)
Maka, bagi anda yang kedua orang tuanya masih hidup, ambil kesempatan emas ini. Perlakukan orang tua anda dengan sebaik-baiknya. Buatlah mereka Ridho kepada anda. Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ:
رضاالله في رضا الوالدين، وسخط الله في سخط الوالدين
“Keridhoan Allah ada pada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah ada di dalam kemurkaan kedua orang tua.” (HR Baihaqi)
Jika anda ingin mengetahui apakah Allah ridho atau murka, maka lihatlah bagaimana penilaian orang tua kepada anda. Sebab keridhoan dan kemurkaan Allah SWT ada di dalam keridhoan dan kemurkaan orang tua.
sampai kebakhilannya menjadi sebab ia termasuk orang yang celaka kelak di akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Jumat – Selamat Datang Bulan Sya’ban ini ditulis oleh Mohd. Ayub Syafii, penulis di kolom Tombo Ati Majalah Al-Haromain. Khutbah Jumat – Selamat Datang Bulan Sya’ban ini dapat diunduh dalam bentuk pdf dan disimpan dalam hp antum.







