Unduh Mencari Keselamatan Dengan Mulazamah.
Rosulullohﷺ bersabda:
“Tidaklah terjadi kiamat sehingga ilmu (agama) dicabut, banyak terjadi gempa, waktu terasa singkat dan fitnah-fitnah merajalela” (HR Bukhari no:1036)
Inilah fitnah-fitnah di mana kita telah diperintahkan supaya berusaha berlindung darinya dengan segala cara yang mungkin bisa dilakukan ketika fitnah itu sudah mengelilingi kita laksana gelang melingkari pergelangan tangan. Lalu bagaimanakah seorang mukmin yang terbina bisa selamat darinya?
Keselamatan adalah dengan mulazamah (menetapi/konsisten) melaksanakan tiga hal ini:
(1) Mulazamah para guru ahli ilmu dan iman serta meneladani orang-orang pilihan. Allah Swt berfirman: “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka… “(QS al An’am:90)
Meneladani para figur soleh tersebut adalah dengan:
a- Jika masih hidup maka dengan berkunjung (sowan), meminta nasehat
dan menghadiri majlis-majlis mereka.
b- Jika sudah meninggal dunia maka dengan membaca wirid-wirid (yang mereka susun), berkirim do’a dan berziarah ke makam mereka.
Baca juga: Tausiyah Bulan January 2024
Sungguh dikatakan: “Barang siapa ber-taqlid (mengikuti) orang alim maka ia bertemu dengan Allah dalam keadaan selamat. Sungguh jika ulama’ adalah pewaris ilmu zhahir (para nabi) maka auliya’ adalah pewaris ilmu batin (para nabi). Jadi barang siapa mendapati seorang guru yang wali, arif billaah warosulih maka hendaknya ia terus menetapi dan selalu terhubung dengannya. (Perlu diimani) bahwa menetapi guru dan meminta nasehatnya dalam segala urusan adalah di antara perlindungan terbesar dari terjatuh dalam fitnah fitnah. Sungguh dengan cahaya Allah, seorang guru senantiasa bisa melihat hal yang samar bagi murid. (Ini) karena seorang guru bersambung dengan Allah dan RosulNya, sehingga mengikuti arahannya juga demikian halnya; sambung dan selamat.
Allah Swt berfirman: “Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan (kemenangan) atau ketakutan (kekalahan), mereka menyiarkannya. Padahal, seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulul amri (pemegang kekuasaan) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui tentang kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ululamri).
Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah engkau mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)“(QS Annisa’:83)
Ayat ini menyinggung salah satu dari ulah nyata orang-orang munafiq dan orang-orang yang lemah iman yang berupa menelan begitu saja berita apapun dan lalu menyebarluaskan (memviralkan) ke khalayak di mana saja tanpa terlebih dahulu mencari dan memastikan kebenarannya, atau mengkonfirmasi kepada sumbernya, sehingga terjadilah informasi palsu (hoax) yang menyebar luas. Padahal semestinya mereka terlebih dahulu menyampaikan berita berita tersebut kepada para pelaku (pihak terkait) agar bisa mendapatkan faedah berupa pengetahuan dan pemikiran yang sebenarnya, serta mereka juga bisa terhindar dari menjerumuskan kaum muslimin dalam ketersesatan informasi palsu.
Jadi ayat ini adalah teguran sangat keras (pengingkaran) atas pihak yang terburu-buru dalam berbagai hal sehingga lalu mengabarkan, menyuarakan dan menyebar luaskan sebelum memastikan, yang bahkan hal-hal itu sama sekali tidak benar. Rosululloh Saw bersabda: “Cukuplah seseorang berdusta jika mengabarkan semua yang didengarnya” (HR Abu Dawud no:4992)
(2). Mulazamah sunnah-sunnah karena sesungguhnya sunnah-sunnah adalah perlindungan dari fitnah-fitnah. Imam Tirmidzi dalam muqoddimah sunan-nya meriwayatkan hadits yang mulia: “Jika telah banyak fitnah maka tetapilah sunnah-sunnah!”
Hal ini sungguh telah dikuatkan oleh sebuah hadits: “Bersegara-lah menuju amal-amal (kebaikan sebelum datang) fitnah-fitnah laksana penggalan penggalan malam yang gelap gulita. Pagi hari seseorang masih beriman dan masuk sore hari ia telah kafir, atau sore hari ia masih beriman dan pagi hari ia telah kafir.
“Ia menjual agamanya dengan (harga) harta benda dunia” (HR Muslim no:118)
“Barang siapa berpegang teguh dengan sunnahku di masa kerusakan umatku maka baginya pahala seratus syahid” (Diriwayatkan oleh Ibnu Basyran dalam al amaalino:503)
Imam Malik ra berkata: “Sunnah laksana perahu Nabi Nuh as. Barang siapa menaikinya maka ia selamat. Dan barang siapa meninggalkannya maka ia tenggelam” (disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskus 14/9)
Maka wajib bagi orang mukmin yang terbina, jika telah banyak fitnah yang datang laksana gelombang, untuk menghadap total kepada Allah Swt dan RosulNyaﷺ dengan ibadah, dzikir, dan menetapi sunnah-sunnah karena berpegang teguh dengan sunnah sejatinya berpegang teguh dengan kebenaran yang keluar dari Allah al Haqq Swt. Sudah seharusnya ia tidak meremehkan urusan-urusan sunnah. Sungguh jika ia menjaga satu sunnah saja secara Istiqomah serta ikhlas di dalam berpegang dengannya maka itu sudah cukup dan bisa menyelamatkannya dari fitnah-fitnah.
(3). Mulazamah kelompok-kelompok dzikir serta majlis-majlis yang diselenggarakan dalam rangka berdzikir dan melantunkan sanjungan kepada Allah dan RosulNya. Dalam majlis majlis sinilah seorang mukmin yang terbina bisa bertemu dengan saudara fillah di taman taman surga, bukan di taman-taman kemesraan.
Dalam perkumpulan seperti inilah seseorang menyambut rohmat Allah Swt yang jika telah turun cahaya-cahayanya niscaya awan-awan fitnah akan sirna, dan tersibak pula penutupnya. Rosululloh Saw bersabda: “ dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah seraya membaca dan saling mengkaji Kitab Allah bersama-sama di antara mereka kecuali ketenangan turun atas mereka, rahmat menutup mereka (dengan rata), malaikat mengepung mereka, dan Allah menyebut mereka di kalangan orang-orang yang ada di sisiNya… “ (HR Muslim no:2699)
Kebaikan dalam majlis-majlis ini sangat bergantung kepada orang yang menghadiri dan mengundangnya. Jika di majlis itu ada seorang wali atau seorang alim maka cahaya akan lebih kuat dan pengaruhnya akan lebih langgeng.
Barang siapa menetapi tiga hal ini atau salah satunya secara istiqomah maka dipastikan ada keselamatan dan perlindungan baginya. Ia akan selalu mendapatkan taufiq dan inayah(Nya) dengan syarat ia tidak menzholimi siapapun karena kezholiman adalah tindakan melewati batas yang niscaya harus dimintakan halalnya dari pihak yang dizholimi. Jika tidak maka sesungguhnya gelap-gelap kezholiman yang dipadukan dengan gelap fitnah-fitnah akan menjadi semakin sulit dilenyapkan. Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian ia Istiqomah, akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati (memperoleh) serta surga bergembiralah dengan yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS Fusshilat:30).







