Ikut Ulama Jangan Sembarangan, Pilih yang Bersanad
“Mereka yang akan dan sedang berdakwah tidak boleh bertujuan agar mendapat kekaguman masyarakat pada dirinya.”

Secara umum, masyarakat muslim bukanlah dari kalangan ulama. Sebagian besar merupakan orang awam yang tidak pernah mempelajari sumber-sumber hukum syariat seperti Al-Qur’an dan hadits secara mendalam. Oleh karena itu, Abi Ihya pernah menyampaikan di dalam taushiyah beliau tentang kebolehan mengikuti/taklid pada ulama.
Lihat Artikel: Taklid pada Ulama, Bolehkah? Ini Penjelasan Abina
Lalu, pada zaman sekarang, ulama seperti apa yang boleh diikuti? K.H. Ahmad Muhammad Ali Imron Al Hanafi menjawab hal ini melalui ceramahnya saat penutupan kegiatan Amal Bakti Santri (ABS) Tajribiyah ke-32 di Desa Selorejo, Kecamatan Sambeng, Lamongan pada Selasa malam (1/10/2024). Beliau mewanti-wanti masyarakat agar berhati-hati saat akan mengaji pada seorang ulama. Terlebih jika akan mengikuti jalur mereka dalam menjalani kehidupan beragama.
Lihat Artikel: Penutupan ABS Tajribiyah ke-34: Perpisahan Bukanlah Kesedihan
Pilih karena dikenal, bukan terkenal

Masyarakat tidak boleh memilih seorang ulama hanya karena ia terkenal. Hal senada sering disampaikan Abi Ihya di dalam taklimnya agar mengikuti ulama yang dikenal, bukan terkenal. Dikenal yang dimaksud yakni orang yang mengikuti haris benar-benar kenal seluk beluk ulama yang akan diikuti.
“Suk mben bakal ono endok sing kluruk”, kata K.H. Ahmad mengutip kalam seorang ulama yang artinya besok bakal ada telur yang bisa berkokok. “Maksudnya, (ada orang) tidak pernah mondok tapi berceramah layaknya ulama” lanjut beliau menjelaskan. Ulama-ulama tersebut harus diwaspadai. Mereka banyak tampil di panggung dan mimbar.
Di era teknologi sekarang, mereka juga tampil di layar kaca dan media sosial. Maka dari itu, masyarakat harus selektif dalam memilih. Ikutilah ulama-ulama yang sanadnya menyambung kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Yakni, mereka yang belajar dan nyantri dengan serius pada ulama-ulama yang telah dikenal bersanad pada Rosululloh.
Kyai yang pernah nyantri kepada Abuya Sayyid Ahmad Al-Maliki ini mencontohkan salah satu ulama yang bisa diikuti yakni Abi Ihya. Abi dahulu nyantri kepada Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki di Mekkah. Sayyid Muhammad masyhur sebagai ulama yang tidak hanya sanadnya saja bersambung hingga Rosululloh, namun juga nasabnya.
Dukung Perjuangan Ulama

K.H. Ahmad juga menyampaikan pentingnya mengikuti ulama utamanya bagi orang-orang yang belum jadi ulama berdasarkan hadits Nabi.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ
“Jadilah engkau orang berilmu, penuntut ilmu, pendengar ilmu dan orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka.” (HR. Baihaqi).
Hadis tersebut menjelaskan pentingnya mendekat kepada orang-orang alim. Masyarakat juga hendaknya turut mendukung perjuangan orang-orang alim sebagai bentuk mencintai ilmu. Ngaji dan dakwah, dua ciri perjuangan ulama yang harus didukung karena keduanya merupakan wasilah tersampaikannya ajaran Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pada masyarakat. Di dalam sebauh hadits, Rosululloh bersabda:
مَنْ جَهَّز غَازِياً فَقَد غَزَا
“Siapa yang mempersiapkan bekal untuk orang yang berperang, sungguh ia telah ikut berperang.”
Pesan bagi para dai

Di dalam kesempatan ceramah di acara yang diselenggarakan para santri Ma’had Nurul Haromain tersebut, K.H. Ahmad juga memberi peringatan kepada santri dan dai. Mereka yang akan dan sedang berdakwah tidak boleh bertujuan agar mendapat kekaguman masyarakat pada dirinya. “Tujuan dakwah yakni agar masyarakat mengikuti Kanjeng Nabi”, terang beliau. Sebagai penutup, K.H. Ahmad menyimpulkan bahwa untuk mengikuti jalan syariat Nabi, caranya dengan mengikuti guru yang bersambung dengan Nabi.
Lihat Video: LIVE Penutupan ABS Tajribiyah ke-32
Kontributor: TI Haryadi







