Lapis-lapis Kebajikan: Di Surga Pasti Bertemu
Dua tahun yang lalu aku berkenalan dengan gadis itu di Kyrenia. Sebuah kota yang aman, aman juga hati penduduknya. Kadang-kadang memang suka terjadi kesalahpahaman di antara kedua keturunan itu, tetapi selalu bisa diatasi dengan baik. Dan aku melihat sendiri buktinya. Kristina Papadavos begitu intimnya bergaul dengan Omar Rempash.
“Arman,” kata Kristina pada suatu sore ketika aku diundang minum kopi di rumahnya. Mukanya berkabut, padahal di Siprus sedang musim semi waktu itu. “Kau percaya tidak pada firasat?”
Baca juga: Persilangan yang Damai
Aku pandangi dia, tidak mengerti. “Ayolah, kita bicara tentang negerimu yang kecil tapi indah,” jawabku.
Dia menunduk. “Semalam aku mimpi dicabik-cabik harimau. Omar melihat, tetapi tangan dan kakinya terbelenggu, sedangkan kau lihat tidak bisa berbuat apa-apa karena kau berada di balik ruangan kaca.”
“Ah, itu hanya mimpi,” jawabku sambil kuseka-seka tangannya.
Dia menatapku. “Tidak, aku merasa bahwa itu firasat buruk.”
Percakapan itu masih kuingat-ingat sampai sekarang. Dan ternyata benar apa yang ditakutkan Kristina. Tadinya aku menganggap firasatnya itu sekadar tahayul yang memang masih besar sekali pengaruhnya di kalangan orang-orang keturunan Yunani. Namun, setelah Nicolas Sampson mengambil alih kekuasaan dan pasukan-pasukan Turki serta Yunani berbaku meriam, aku jadi ngeri memikirkan nasib Kristina.
Segera aku terbang dari London, sekalian meminta fasilitas dari kedutaan Indonesia untuk mendapat izin khusus mengkover berita-berita on the spot tentang pergolakan di bekas negeri Makarios itu.
Turun dari DC-10 BOAC aku terus menelpon ke perusahaan angkutan Papadupulous. Kusewa sebuah Flat sport untuk sebulan. Dari airport aku langsung menuju ke Kyrenia.
Kota kecil itu telah di duduki pasukan-pasukan Turki. Sepanjang jalan bekas-bekas pertempuran masih belum dibersihkan. Bangkai-bangkai meriam dan kendaraan lapis baja berserakan dimana-mana. Bahkan sebuah pesawat Yunani teronggok di pinggir hutan, sangat ketat. Tentara Turki maupun anggota-anggota pasukan Siprus keturunan Turki sangat hati-hati untuk mengizinkan orang asing memasuki kota itu.
“Your identity, please!” kata seorang letnan Turki dengan sopan. Setelah kusodorkan paspor dan surat-surat lainnya, letnan itu berkata: “Indonesian Moslem?” Aku mengangguk, lalu kuterangkan maksud kedatanganku. Bahwa di samping tugas-tugas kewartawananku, aku juga ingin menemui sahabatku, Omar Rempash.
Baca juga: Berkubang di Air Keruh
“Who? Omar Rempash you said? He is a brave young man, a real hero in the war,” jawab letnan itu bangga. Malahan ia menyuruh anak buahnya untuk mengantarku ke tempat sahabatku tersebut.
Tempat Omar adalah sebuah gedung yang tembok depannya sudah runtuh. Gedung itu dijaga oleh pasukan milisi keturunan Turki. Aku dipersilakan masuk. Di sebuah ruangan aku bertemu dengan Omar Rempash, sahabatku. Dia menyambutku hangat, tetapi ada sesuatu yang lain di wajahnya. Garis-garis kulit di bawah matanya menajam, sementara mata itu sendiri nyaris kehilangan nyalanya.
“How do you do, seargeant,” kataku menggoda. Omar tersenyum masam melirik ke lengannya. Perubahan begitu cepat terjadi, padahal jarum waktu belum berputar lama. Pemuda yang lembut itu telah menjadi sersan dan pahlawan di medan perang. Sudah pasti banyak darah telah ditumpahkannya.
Agaknya ia menyadari apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku. Setelah mempersilakan duduk, ia berkata, “Kadang-kadang manusia tidak punya kekuasaan apa-apa atas dirinya.”
Aku mengerti apa yang dimaksudkannya. Kata-kata ini pasti berlatar belakang peristiwa yang panjang. Tentu Kristina terselip di antaranya.
Sekali lagi Omar dapat menebak gejolak perasaanku. Dengan suara tergetar ia berkata, “Kristina adalah milikku yang paling berharga di dunia ini. Itu sebelum ras kami berhadap-hadapan. Sekarang dia bukan apa-apa bagi sersan Omar Rampish, walaupun buat si Omar dia tetap yang paling dicintai.
“Dimana Kristina,” aku bertanya ragu-ragu.
“Nanti kau akan diantarkan ke sana.” Omar tertunduk, bibirnya mengatup rapat, matanya berkaca-kaca. “Dia tertangkap sebagai mata-mata. Besok pagi eksekusi akan dijalankan.” Omar lantas terenyak di tempat duduknya.
“Omar,” aku bangkit memegang pundaknya.
“Arman,” diremasnya tanganku. “Bahagialah bangsamu.”
Setelah itu kami berpisah. Sehabis asar seorang serdadu mengantarku ke sel tawanan-tawanan berat. Sel itu terletak dalam sebuah gedung kuno. Remang-remang saja cahaya lampu di situ. Hawanya lembab. Di dalam sebuah sel yang terpencil bayangan tubuh yang ramping itu sudah kelihatan. Kristina Papadavos yang diam-diam kurindukan, tetapi dia sendiri lebih mencintai kekasih keturunan Turkinya, Omar.
Gadis itu terlonjak kaget mendengar panggilanku. “Arman,” teriaknya seraya bangkit. Ia masih tetap cantik dalam warna muka yang pucat itu.
Segera dijabatnya tanganku dari balik jeruji. Ia menangis di atas tanganku. Dengan gemetar kucium rambutnya yang melolos keluar. Kami tidak mampu berkata-kata karena yang kami rasakan tak kan sanggup terucapkan.
Akhirnya kuangkat dagunya, dan aku berkata: “Omar….” Maksudku hendak menyampaikan cinta Omar kepadanya.
“Jangan,” selanya, “Aku tahu betapa Omar. Omar adalah kenangan indah yang tidak ada cacatnya.”
Setelah itu kami hanya berpandang-pandangan. Sampai saatnya waktu bezuk habis. Menjelang berpisah Kristina berkata, “Katakan pada Omar, aku menunggunya di sana, sebab aku akan mati dalam agamanya.”
Malam itu hampir tak terpicing mataku. Bayangan-bayangan ngeri berputar-putar dalam benakku. Tentang gempa, tentang banjir. Namun, akhirnya tibalah aku pada suatu mata air yang bening dan damai. Ketika itulah sayup-sayup terdengar serentetan tembakan. Sesudah itu lengang. Seperempat jam kemudian suara azan mendengung dari sebuah masjid. Lambat-lambat aku bangun, bersembahyang subuh. Beberapa lamanya aku berdoa, khusuk untuk Kristina dan Omar.
Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.







