Lapis-lapis Kebajikan: Berkubang Di Air Keruh
Ya Allah, Apakah mayat-mayat akan bergelimpangan kembali dimana-mana? Seluruh umat Islam mengeluh cemas membayangkan betapa rahmat akan berubah menjadi laknat jika perpecahan bekecamuk lagi.Tanda-tanda makin terlihat dari kesibukan Khalifah Ali mengunjungi pasukannya di barak-barak mereka. Bahkan beberapa kesatuan yang berkemah di luar kota Madinah tidak lepas dari perhatiannya. Dan sampai jauh malam Ali masih terus berkeliling, mengobarkan semangat para pendukungnya agar dengat sekuat daya berjuang membela wibawa dan kedaulatan pemerintah pusat.
Lalu sambil menimang-nimang pedangnya yang terkenal, Zulfikar, Ali menerawang jauh ke saat Nabi bertanya kepada sahabat: “Seandainya kelak Romawi dan Parsi telah berada dalam genggaman kalian, apakah yang akan kalian lakukan?” Waktu itu para sahabat menjawab, “Kami akan bersikap seperti kebiasaan kami selama ini, selalu tawakkal dan bersahaja.” Nabi malah menyangga,”Tidak. Kalian akan berlomba-lomba mencari kekayaan dan saling mementingkan diri sendiri. Kalian menganggap bahwa perang demi harta dan kekuasaan adalah jihad fi sabilillah sehingga kalian akan binasa, kecuali jika bertobat.”
Ali tercenung. Kepalanya terkulai di antara kedua lututnya. Ternyata bukan mimpi tanpa makna ketika Nabi memperingatkan bahwa musuh umat Ilam bukan datang dari luar, melainkan dari hawa nafsu yang bersarng di dalam diri sendiri. Pantas setelah pulang dari Perang Badr Kubra dengan membawa kemenangan, Rasulullah bersabda, “Kalian baru lepas dari perang kecil untuk memasuki perang yang lebih besar.” Para sahabat mat heran. Padahal Perang Badr Kubra mengerikan sekali. Jumlah musuh berlipat ganda, dilengkapi senjata dan peranti tempur yang lebih dahsyat. Mengapa oleh Nabi dianggap perang kecil belaka? Maka para sahabat lantas bertanya, “Perang apakah yang lebih besar itu, wahai Rasulullah?”
Baca juga: Rencana Membunuh Kyai
Nabi menjawab, “Perang melawan hawa nafsu.”
Itulah yang membersit di hati Ali setelah Abdullah bin Abas tiba di Madinah. Ia mengerti, kehadiran Abdullah bin Abas dari Mekkah tadi pagi adalah dengan niat suci, menyelamatkan persaudaraan sesama Muslim sebagaiman keberangkatannya dulu ke Mekkah juga dengan alasan yang sama, yaitu pada waktu ancaman bertubi-tubi menginginkan kematian Khalifah Utsman. Ibnu Abbas, sebutan bagi Abdullah bin Abas menghadap Utsman dengan membawa seluruh pasukannya hendak menggempur kaum pemberontakan. Utsman menolak. Malah untuk menghindarkan amukan Ibnu Abbas terhadap para perusuh itu , Utsman memberinya tugas sebagai amirul-haj, memimpin rombongan haji ke Baitul Haram.
Kepada Ali, Abdullah bin Abbas menyarankan agar nasihat Mughirah bin Sya’bah diperhatikan dan di jalankan.
Tetapi Ali menjawab, “Tidak, mereka harus diberhentikan. Aku berpendapat, mereka ikut bertanggung kawab atas terbunuhnya Khalifah Utsman. Bukankah kaum pemberontak itu datang dari wilayah kekuasaan mereka, yakni dari Mesir, Kufah, Bashrah, dan Saria.”
Agak sejenak Ibnu Abbas kehabisan dali. Namun, ia tidak kehilangan semangat. Karena itu ia masihmendesak, “Kalau engkau tetap memakai tenaga mereka,rakyat tak kan peduli terhadap masalah kekhalifahan. Tetapi, jika kau pecat mereka, aku khawatir Siria akan melepaskan diri dari Madinah. Dan dalam kekacauan itu rakyat akan bisa dihasut untuk menentang engkau, Ali.”
“Ah, belum tentu, saudaraku,” sanggah Ali bersiteguh dengan keputusannya. “Lagipula, sudah terlalu lama Muawiyah dan beberapa pejabat lainnya memangku kedudukan mereka sejak zaman Khalifah Umar.”
“Betul ucapan engkau itu. Namun, waktunya bukan sekarang,” sanggah Ibnu Abbas. “Aku takut Irak juga akan memutusakan ikatan dengan Madinah. Sebaliknya , bila engkau mengurungkan pemecatan Muawiyah, dan ia tetap menempati jabatannya sebagai gubernur Siria, setidaknya sampai ia membaiat engkau, aku sendiri nanti yang akan menyeret tangannya untuk menghadap engkau.”
Ali menyetujui pikiran Ibnu Abbas, tetapi ia tidak akan mundur dari pendapatnya. Sudah bulat tekadnya hendak menegakkan kekhalifahan dengan segala akibat dan tanggung jawabnya, manis atau pahit. Untuk itu lalu ia berkata, ”Aku adalah amirul-mukminin,saudaraku. Berati engkau harus menaati perintahku.”
“Aku akan menaati perintah engkau.” Jawab Ibnu Abbas tanpa membantah lagi.
“Berangkatlah secepatnya ke Damaskus. Engkau kuangkat menjadi gubernur wilayah Siria, menggantikan Muawiyah bin Abi Sufyan,” ucap Ali dengan tidak ragu-ragu sedikit pun.
Ibnu Abbas terbelalak kaget. Ia hendak menolak, namu belum berani meyanggah. Sebab perintah itu merupakan amanat Khalifah yang wajib dipatuhi. Maka dengan wajah penuh mendung Ibnu Abbas bermohon diri, dan menyelinap keluar di tengah keremangan Madinah menyambut kehadiran senja demi senja. Dua hari sudah ia dihantui kebimbangan sementara para calon gubernur lainnya sudah bertolak ke tempat tugas masing-masing. Di angkasa pikiran Ibnu Abbas melayang-layang seperti burung-burung yang mengepak-ngepak sayapnya, pulang ke sarang mereka di langit-langit Masjid Nabawi. Ibnu Abbas menatap sendu, alangkah damainya kehidupan mereka. Sebab burung-burung itu tidak banyak menuntut. Mereka menjalani hidup sesuai dengan fitrah alam. Mereka tidak mengenal duka dan takutmeskipun kadang-kadang harus menjadi korban alap-alap yang kelaparan. Sekilas Ibnu Abbas melihat dua orang pemuda sedang memperhatikan dengan curiga seorang lelaki berbaju penuh debu yang tengah berdiri diluar pagar rumah Khalifah. Namun, ia tidak meperpanjang rasa ingin tahunya. Ia hendak beriktikaf di masjid menanti waktu maghrib sambil menenangkan hatinya dan meredam kecemasannya. Ia mau mencari ketentraman. Kalau tidak mungkin diperolehnya di luar, biarlah, asalkan ia mendapat ketentraman, di dalam batinnya.
Padahal, lelaki berbaju penuh debuitu sedianya akan memanggil Ibnu Abbas. Ia baru datang dari Mekkah dan sudah saling mengenal dengan akrab. Karena itu, lelaki tersebut beranjak hendak mengejar Ibnu Abbas, tetapi dicegat oleh dua pemuda yang sejak tadi memperhatikannya itu. Mereka adalah Jabir dan Faisal.
“Maaf, Tuan. Boleh kami bertanya?” tegur Faisal mendahului.
Lelaki itu terkejut sebentar, lalu menjawab, “Silahkan.”
“Tuan sebetulnya mencari siapa?”
“Saya ingin menjumpai Amirul-Mukminin.”
“Mengapa tidak langsung ketuk pintunya?” sergah Faisal yang seprti biasanya cepat menaruh curiga dan gampang naik darah.
Lelaki itu, barangkali lantaran kelelahan mempuh perjalanan berat dan jauh dari Mekkah, agaknya amat tersinggung dan akan marah juga. Tetapi, karena usianya yang sudah setengah tua dan sarat dengan pengalaman hidup, ia berusaha menyabarkan diri dan menjawab, “Saya mengenal Khalifah Ali ketika masih muda dulu, pada waktu ia dan Fadlal, anak majikan saya. Sesudah itu saya mengungsi ke gunung, da tidak pernah bertemu dengannya sampai saya diminta tolong oleh Ummul Fadlal, bekas majikan saya, untuk menemuinya di Madinah. Jadi, saya agak ragu-ragu untuk masuk.”
Faisal sudah membuka bibirnya akan memotong ucapan lelaki itu, namun ia membatalkan niatnyaketika Muhammad bin Abubakar keluar dari rumah Khalifah. Di pintu pagar ia menegur, “Faisal, Jabir! Tampaknya kalian berwajah tegang. Ada urusan apa?”
Itulah watak Muhammad. Perasaannya sangat lembut, namun lidahnya tidak suka berbelit-belit. Ia akan mengatakan apa saja yang berada di hatinya.
“Kami. . . kami. . . ,” Faisal terbata-bata, tidak mampu menjawab dengan cepat karena memang ia dan Jabir tidak mempunyai masalah apa-apa dengan lelaki dari Mekkah itu. Mereka hanya menaruh curiga melihat tingkah polanya yang ganjil dan serba waswas.
“Maaf, sata utusan dari Ummul-Fadlal, ingin menemui Khlaifah,” ucap lelaki setengah tua tersebutmenebas kebingungan Faisal.
“Oh ya? Silahkan, silahkan. Kebetulan Khalifah sedang berada di bilik tamu,” ujar Muhammad seraya mengangakan pintu lebih lebar dan mengantarkan utusan itu ke ruang tengah.
Jabir dan Faisal saling memandang, lantas meninggalkan kawasan itu tanpa mengeluarkan sepatah pun. Kebisuan mereka menyatu dengan ketenanagan Madinah yang sedang menunggu bilal mengumandangkan adzan dari puncak Masjid Nabawi.
Baca juga: Di Surga Pasti Bertemu
Namun, udara dibilik tamu Amirul-Mukminin tidak setenang suasana di luar rumahnya. Sambil memegangi surat yang dibawa utusan dari Mekkah tadi, mukanya tampak memberabak merah. Ia menyuruh Hasan dan Muhammad duduk di depannya, lalu berkata, “Muhammad. Bacalah laporan ibumu, Ummul-Fadlal. Kemudian katakanlah bagaimana pendapatmu.”
Agak tegang perasaan Muhammad bi Abubakar menerima surat yang disodorkan Khalifah. Gerangan apakah yang ditulis Ummul-Fadlal sampai Khalifah kelihatannya menjadi gusar?
Tiba-tiba tangan Muhammad gemetar. Keningnya dipenuhu bintik-bintik keringat. Ia menatap Khalifah se saat, lantas menyimak surat itu kembali, seakan tidak percaya terhadap semua yang telah dibacanya.
“Kakak kandungmu, sungguh tidak dapat ku mengerti. Mengapa ia bertindak sejauh itu?” keluh Khalifah Aliseraya meletakkan kedua tangannya di dada. Rasanya jantung dan hatinya akan meloncat keluar sesudah membaca isi surat Ummul-Fadlal itu. Betapa tidak? Diungkapkan dalam surat tersebut bahwa Thalhah dan Zubair telah berkomplot dengan Ummul-Mukminin Siti Aisyah untuk memerangi Khalifah Ali dalam rangka menuntut bela atas kematian Khalifah Utsman.
“Saya kira Ummul-Mukminin terpengaruh oleh bujukan Thalhah dan Zubair sehingga pendiriannya berubah begitu,” kilah Muhammad yang dengan segala dalih berusaha membersihkan nama kakak kandungnya di depan Khalifah yang baik hati itu. “Bukankah mereka pernah dicalonkan sebagai pengganti Khalifah Umar? Karena batal, mereka sekarang bergerak untuk menggulingkan khalifah yang sah supaya kelak dapat memegang kendali kekuasaan.”
Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.







