Lapis-lapis Kebajikan: Rencana Membunuh Kyai
Gelap makin kelam. Di antara sekian kali pengadangan, malam inilah yang terasa paling menegangkan. Setiap keresak dedaunan atau ranting yang jatuh seolah hendak mengungkit kami untuk cepat-cepat menghindar dari tempat terkutuk itu.
Sebentar lagi mobil kiai keluar dari tikungan. Kalau nanti mobil itu telah memasuki jembatan, berarti perkelhian akan terjadi. Oh, Mbah Bimosakti. Kuatkan urat-urat tubuhku. Aku berdoa memanggil-manggil gelar Mbah Cokropolo, panutan kami.
“Sehab dan Jali sudah siap?” Tanya Ramidjan. “Jangan lupa engkau harus bersikap biasa,” ucap ketua Pemuda Rakyat Ranting Kebondanu itu. “Cepat kau kasih salam, pukul tengkuknya sebelum ia sempat membaca takbir.”
Makin keras guncang jantungku. Tidak ada pilihan lain, dia atau aku. “Ingat, Sehab, berhasil atau tidaknya tugas ini bergantung padamu. Semuanya perhatian!” teriaknya kepada kawan-kawan. “Sebentar lagi kita berkelahi. Bunuh sebanyak-banyaknya. Mulailah bersemedi, minta kepada Mbah Cokropolo agar menyelamatkan para cantrik dan putra-wayahnya.”
Malam yang diam makin diam. Angina seolah ikut bersemedi bersama kami. Semua menekur. Tetapi aku bimbang. Ada keregu-raguan dalam keyakinanku. Apakah mungkin kolor dan iket wulung ini bisa melindungi diriku? Mungkinkah tiga butir telur yang kutelan dalam suatu upacara di kuburan Sigeseng malam Jumat Kliwon kemarin akan membikin kebal tubuhku? Betulkah Tuhan meninggalkan orang-orang Islam dan sekarang tengah bertapa dalam kolor dan iket ini? Lalu, mengapa aku harus lari kalau mendengar takbir? Ah, persetan! Kukutuk kelemahanku. Dalam hati aku memohon ampun kepada Mbah yang selalu tahu, karena aku nyaris ingkar akan kesaktiannya.
Derum mobil makin keras kudengar. Lampunya sudah menyorot. Sinarnya hampir menembus kegelapan di jembatan depan kami. Sebentar lagi aku harus muncul, menyetop kendaraan itu, lalu membunuh Pak Kyai Sya’ban. Kalau tukang fitnah itu sudah terbunuh, Banser-banser di desa kami akan mati kutu. Mereka akan konyol menghadapi kami. Banser-banser yang sombong itu.
Sebenarnya Pak Kyai Sya’ban orang baik. Ia tetanggaku. Dan meskipun aku tidak segolongan dengannya, ia selalu hormat kepadaku. Seperti ia juga hormat kepada setiap orang. Bahkan dengan bapak-ibuku sudah seperti saudara. Tetapi, soalnya bukan itu. Soalnya, kenapa ia selalu menentang ajaran-ajaran Mbah Cokropolo? Kenapa ia selalu mengatakan bahwa ilmu itu ilmu klenik, bertentangan dengan agama? Karena fatwanya itu banyak orang kampung yang telah menjadi murid Mbah keluar dari partai kami. Apalagi ketika cantrik Slamet Pece ditantang, kemudian dikalahkan oleh seorang Banser di lapangan, maka berduyun-duyun anggota yang telah bimbang itu masuk masjid menjadi santrinya. Ini soalnya. Satu-satunya jalan, Kyai Sya’ban harus dilenyapkan. Meskipun ia tetanggaku. Meskipun ia orang baik.
Keputusan untuk membunuhnya kami tentukan dalam rapat Pemuda Rakyat kemarin sore di ruang dalam rumah seorang pegawai Penerangan. Pembunuhan harus dilakukan sekarang. Sebab kami mendapat laporan dari seorang pengawal Kecamatan bahwa Kiai Sya’ban akan ceramah di Desa Dukuhturi mala mini. Kami harus menghadangnya waktu pulang. Biasanya Kiai Sya’ban hanya dikawal oleh lima orang Banser. Kendaraan yang ditumpanginya jip reot milik Pak Kaji Busaeri.
“Sehab! Pakai sarung dan kopyahmu!” teriak Ramijan. Ia tidak tahu betapa aku menggigil mendengar perintah itu. Benar, aku setiap kali menghadap Pak Kiai selalu memakai sarung dan kopyah. Tetapi, tidakkah Pak Kiai sudah diberi firasat bahwa aku punya maksud jelek terhadapnya? Gemetar kusiapkan gada besi kuning dalam tanganku setelah sarung dan kopyah kukenakan. Juga Jali, adik Slamet Kambali, seniman gendeng itu. Mukanya pucat seperti akan mengahadap ketua Partai. Kulihat bibirnya sudah biru. Aku tidak heran. Memang ia pernah merasakan betapa sakitnya pukulan Pak Kiai ketika ia mencoba mencium seorang fatayat, namun si fatayat menjerit. Pak Kiai melompat dari langgar. Kemudian ia hanya merasakan kepalanya berat, untuk akhirnya, sesudah sadar, ia telah berada di rumahnya sendiri.
“Sehab, Jali, siap! Kaluar, berdiri di pinggir jalan!” perintah Ramijan.
Mobil telah masuk jembatan. Kami berdiri di ujung sebelah kiri. Aku akan menghentikan mobil, lalu kawan-kawan akan mengurung dari sebelah utara dan selatan jembatan. Lampu mobil pun mulai menyoroti kami. Aku melambaikan tangan. Mobil berhenti persis di depanku. Seorang Banser keluar. Setan! Mengapa harus Banser yang keluar? Aku harus membunuh Pak Kiai dulu!
“Ada apa?” Tanya Banser itu dengan nada tegas. Pandangannya begitu berpengaruh. Alangkah beraninya. Aku menggigil melihat keteguhannya. Jali dibelakangku juga gemeletuk gigi-giginya.
“Mau … mau bertemu Kiai!” jawabku tergagap. “Keperluannya?” Lagi-lagi Banser usilan itu bertanya. Suaranya berat. Oh! Suara itu terlalu berat menindih keberanianku. Aku panik, tidak bisa menjawab.
“Ada apa, Mansur?” tiba-tiba kudengar suara lembut yang sudah kukenal lama. Suara yang ramah, suara Kiai.
“Ada orang mau bertemu dengan Kiai,” sahut Banser itu bernada curiga.
“Baik, aku keluar.” Turunlah dua orang Banser untuk memberi jalan kepada Pak Kiai yang duduk di tengah. Banser yang ada di mobil masih ada dua, tiga dengan supir.
“Oh, kau, Sehab! Dari mana?” Pak Kiai bertanya ketika menampakku gemetar. “Ada yang bisa kubantu?”
“Ah, anu! Ah, salam dulu! Assalamu’alaikum!” jawabku berputar-putar tanpa menemukan alasan yang cocok.
“Wa’alaikumsalam…!” jawab Pak Kiai. “Engkau tampak aneh. Sakit?” Kiai bertanya penuh iba. Pertanyaan itu menukik, menghunjam ke hatiku.
“Tidak! Tidak …. Ah, saya …,” aku makin kehilangan bibirku sendiri.
“Naik ke jipku saja. Daripada jalan kaki,” ucap Kiai tambah terharu.
Setan! Apakah aku harus membunuh Kiai yang begitu baik hati kepadaku? Ia tidak curiga. Ia tidak bersangka buruk kepadaku. Ia terlalu baik. Apakah aku harus berkhianat terhadap keikhlasannya?
Sekarang Kiai telah berdiri di depanku. Aku tinggal berkata: Kiai, saya harus berbisik, Pak Kiai akan mati. Mati! Haruskah aku membunuhnya? Tidak!
“Kiai!” aku menjerit. Aku berlutut di depannya. “Kawan-kawan tengah berkomplot hendak membunuh Pak Kiai. Awas!” akhirnya aku berteriak. Aku menangis. Persetan Mbah Cokropolo. Persetan semua! Pak Kiai orang baik. Orang baik!
Kemudian tiba-tiba tengkukku terasa sakit. Jali memukulku keras. Nyeri. Kudengar bunyi ngeong. Suara kawan-kawan. Suara takbir. Sekilas kulihat Banser-banser berlompatan. Tiga orang kawanku menggeletak di jembatan. Dua orang terlempar ke sungai yang tidak berair itu. Aku makin sakit, makin pusing. Kulihat kawan-kawan lari dikejar Banser. Kemudian gelap. Hilang, hilang!
Ketika akhirnya aku sadar, kepalaku masih berat. Tengkukku terasa sangat perih. Samar-samar kulihat wajah Pak Kiai. Gambar wayang, gambar bintang hitam di atas warna merah menyala. Lalu wajah ayahku, ibuku, dan kedua orang adikku.
“Kiai, maafkan saya,” gumamku pelan.
Kiai tersenyum. “Mintalah maaf kepada ibu dan bapakmu. Merekalah yang paling tersakiti semenjak lambang Pemuda Rakyat terpasang di kamarmu. Dan mereka tidak pernah tertawa setelah engkau menjadi cantrik Mbah Cokropolo.
Aku menangis. Dan aku berjanji akan menurunkan gambar bintang hitam di atas warna merah itu begitu aku bisa berdiri dari tempat tidur. Dan aku berjanji akan masuk masjid lagi bila sudah sembuh. Apa pun akibatnya. Sebab aku tahu kawan-kawanku tak segan-segan membunuh apabila ada salah satu rekan mereka yang keluar dari paguyuban Mbah Cokropolo.
Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.







