Persilangan Yang Damai

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

Lapis-lapis Kebijakan Ramadhan: Persilangan Yang Damai

Dalam sebuah tulisannyapada harian Kompas 14 Agustus 1984, M.A.W. Brouwer mengatakan bahwa jarak antara Katolik dan Prostestan sam jauhnya dengan jarak antara Roma dan Jenewa. Bukan saja dengan sikap ritual mereka di dalam gereja yang berbeda: Prostestan cukup berdiri atau duduk. Di Irlandia, jarak dan perbedaan jalan itu sering dinyatakan dengan letusan bedil dan pertempuran.

Selanjutnya, M.A.W. Brouwer yang kolumnis dan pastor itu mengatakan, banyak orang Katolik yang lebih suka anak gadisnya menjadi pelacur ketimbang menjadi Protestan. Seperti Shirley, yang pada suatu ketika memberikan pengakuan dosa di depan pastor. Gadis beragama Katolik itu berkat tersendat-sendat sampai sang pastor menegur, “Engkau harus omong lebih jelas, jangan takut karena hanya saya dan Tuhan yang mendengar engkau.” Akhirnya gadis itu menurut . Ia menjawab takut-takut, “Saya telah menjadi prostitusi(pelacur).” Sang pastor tebelalak. Bukan marah, melainkan gembira. “Terpujilah nama Tuhan,” ujar sang pastor. “Saya kira engkau mau mengatakan telah menjadi Protestan.”

Terkesan dari tulisan M.A.W. Brouwer ini , alangkah tajamnya perbedaan antara Katolik dan Protestandi negeri Barat, sama tajamnya dengan perbedaan antara kelompok Sunni dan Syii di Libanon, atau Hindu Budha di Sri Lngka. Namun, anehnya begitu berada di negeri kita, perbedaan tersebut tidak lagi mengarah kepada permusuhan, malahan berkembang sebagai antisipasiuntuk berlomba mencapai peringkat kebaikan yang setinggi-tingginya. Tentu saja tidak berarti tak pernah timbul berbagai kesalahpahaman. Namun, selalu bisa diatasi dengan sikap saling memaafkan.

Barangkali lantarann pada dasarnya watak masyarakat kita memang toleransdan persimif serta sangat besar unggah-ungguh dan teposliro-nya.

Buktinya, mengorbankan fanatisme membuta tidak pernah berhasil di negeri kita. Apa pun yang berbau ekstremitas selalu kandas dalam menjangkau tujuan negatifnya. Bukan karena mereka tidak lihai menyusun rencana dan mengatur strateginya, melainkan karena tidak sejalan dengan watak dasar bangsa kita, yang sumeh dan serba damai dalam menghadapi berbagai persoalan.

Memang, kita pernah mengalami iklim saling bermusuhan, termasuk di lingkungan peribadatan. Misalnya tentang jumlah rakaat dalam salat tarawih. Ada yang ngotot delapan rakaat ,ada yang bersikeras dua puluh rakkar. Kedua golongan itu sama-sama kakunya sampai di kawasan Rajawali, Pademangan, Jakarta, pada tahun 1975 mereka sudah saling mengancam dan mengeluarkan golok masing-masing.

Juga antara kaum fukaha, ulama fikih, dengan kaum sufi. Adapun yang acap kali menimbulkan kecurigaan terhadap para penganut tasawuf adalah ungkapan bahwa seolah-olah umat Islam yang tidak menjalani agama melaui jenjang tarikat, hakikat, dan makrifattidak mungkin sempurna keislamannya. Mereka bersandar pada ucapn Yahya bin Muaz ar-Razi yang sering dianggap sebagai perkataan Nabi sendiri. Yaitu tentang pentingnya menguasai makrifat dengan cara menyirnakan keinsanannya untuk menjangkau pengenalan kepada Tuhan:

“Barang siapa mengenal dirinya, pasti mengenal Tuhannya.”

Bila ditelusuri, ternyata pernyataan tersebut bersangkut-paut dengan penderian para pengikut mistisisme Kristen pada abad pertama dan kedua Masehi seperti dikemukakan oleh Clement dari Alexandria (150 M): “It is the greatest of all lessons to know oneself. For if one knows himself he will know God. Diantara pelajaran yang paling mustahak adalah bagaimana seseorang mengenal dirinya. Sebab jika ia telah mengenal dirinya, pasti ia akan mengenal Tuhannya.”

Nabi memang pernah berbicara tentang hal yang sama, namun dalam pengertian yang berbeda. Pada suatu hari istrinya, Aisyah, bertanya, “Siapakah yang paling arif tentang Tuhannya?’ Nabi menjawab, “Ynag paling tahu tentang dirinya.”

Ucapan ini merupakan koreksi total terhadap penafsiran yang keliru tentang bagaimana cara mengenal diri supay umat Islam di belakang hari tidak terjerumus menerjemahkannya dengan beribadat secara berlebihan seperti dilakukan oleh kaum mistikus Nasrani itu. Umpanya kehidupan salibat, menjahui nikah selama-lamanya, atau menghabiskan umur di dalam biara saja. Sebab, mengenal diri menurut Islam adalah sebagaimana yang terungkap lewat surat Al-Asr bahwa manusia selalu berada di dalam kerugian jika menyerah kepada perputaran waktu, kecuali orang-orang beriman dan beramal saleh serta yang saling memberi wasiat tentang kebenaran dan kesabaran, bahwa pada hari hakikatnya manusia di ciptakan dalam wujud paling sempurna, tetapi manakala tidak beriman dan beramal saleh akan terperosok ke dalam derajat yang paling hina” (Surat At-Tin). Artinya, tingginya martabat kemanusiaan itu tidak saja terletak pada keimananyang tersimpan didalam dada, tapi juga pada perbuatan-perbuatan baik sebagai pancaran keagungan iman.

Karena itu, Nabi pernah mengingatkan ketika banyak umat Islam yang hanya asyik berdzikir di dalam masjid sampai melalaikan kewajibannya mencari nafkah dan bejihad di jalan Allah. Sabda Nabi:

“Bukanlah iman itu dengan berangan-angan dan mengkhayal semata-mata, melainkan iman itu ialah keyakinan yang mantap di dalam hatidan dibuktikan dengan pengalaman.”

Ada tiga orang sahabat anshar yang mendatangi istri Nabi dan menanyakan sejauh mana ketekunan Nabi dalam beribadah. Mereka memperoleh jawaban bahwa Nabi beribadah melebihi ukuran manusia lainnya: “Kalau Nabi yang maksum dan terpelihara dari dosa sajaberibadat begitu kuat, apalagi kami  yang masih sering berbuat maksiat.”

Maka salah seorang di antara mereka bersumpah: “Saya akan sembahyang terus dan tidak akan tidur.” Yang lainnya berjanji: “Saya akan puasa terus dan tidak akan berbuka.” Sedangkan yang ketiga berikrar: “Saya tidak akan menyentuh perempuan selama-lamanya.”

Tatkala mendengar kesepakatan yang “mengerikan” itu, Nabi lantas memanggil mereka dan bersabda:

“Ketahuilah, aku ini manusia yang paling takwa di hadapn Tuhan. Tetapi , aku sembahyang dan aku tidur, aku puasa dan aku berbuka, serta aku pun mempunyai istri. Ingatlah, anggota badanmu memiliki hak atas dirimu. Mereka tidak boleh kamu sia-siakan.”

Bahkan, ketika sesudah turun Al-quran Nabi beribadah sampai menyiksa dirinya, kakinya bengkak dan melepuh lantaran terlalu banyak bersujud, Tuhan menegurnya dangan keras melalui surrat Thaha yang diturunkan sehubungan dengan peristiwa tersebut. Firman Allah itu adalah sebuah peringatan keras yang tidak memberi kesempatan untuk berdalih-dalih, yaitu melarang Nabi menganiaya dirinya dalam ketekunannya beribadah kepada Allah:

“Thaha. Tidaklah Kuturunkan Al-quran ini untuk memperberat kamu. Selain sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yang datang dari Zat yang menciptakan bumi dan langit tinggi, yaitu Sang Maha Pengasih yang bersamayam di atas Arasy.” (Thaha:1-4).

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.

Masukkan kata pencarian disini