Sendiko Dawuh

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
bersamasangmurobbi

Udara dingin Pujon ba’da Shubuh menjadikan kulit pecah-pecah. Saat mentari masih malu berlari, para santri Pujon baru usai ta’lim tafsir al-Qur’an. Bergegas para santri melanjutkan tugas sesuai amanah masing-masing. Saat itu Sang Murabbi memanggilku. Sesegara mungkin kami sowan beliau.

“Mam, kemarin Bu Nursiami, istri (almarhum) Pak Amin Tampa bersama asatidzah Al-Azhaar Tulungagung moro mrene. Mereka matur, nyuwun tenaga sing iso nglanjutne dakwah Pak Amin. Sak iki kondisinya koyok pitik kelangan bacon. Mereka butuh sing nglanjutne,” dawuh Sang Murabbi.

Nggih Bi, kondisi dateng Tulungagung kadosipun mboten wonten kader ingkang jaler. Sedoyo setri,” jawabku. (Ya Bi, kondisi di Tulungagung kelihatannya tidak ada kader yang laki-laki. Semua perempuan).

Krono iku, awakmu tak tugasne nglanjutkan perjuangane (alm) Pak Amin Tampa di Tulungagung. Lha dakwahmu ning Malang tinggalen, sesegera mungkin awakmu siap-siap pindah Tulungagung,” titah Sang Murabbi. (Karena itu, kamu aku tugaskan melanjutkan perjuangan alm. Pak Amin Tampa di Tulungagung. Dakwahmu di Malang tinggalkan).

Nggihhh Bi, nderekaken dawuh Abi,” jawabku. (Ya Bi, saya ikut dawuh Abi).

Baca juga: Menyiapkan Kamar untuk Santri

“Menurut awakmu sing cocok dakwah kampus sapa, sing ganti awakmu?” tanya Sang Murabbi.

Nderekne mawon Bi, nderekne istikharahipun Abi mawon,” jawabku. (Saya ikut saja Bi, ikut istikharah Abi saja).

Koyok da’i sing ngerti kampus, mengko yen wis ono hasil istikharahku, bocahe arahna supaya nglanjutkan dakwahmu,” pinta Sang Murabbi.

Nggih Bi, insya Allah,” jawabku

 

***

Udara dingin Pujon harus kami tinggalkan. Dakwah bersama para mahasiswa di Malang juga kami tinggalkan. Tugas baru bersama generasi emas, anak-anak TK di Kota Marmer Tulungagung kita jalankan.

“Ustadzah, nuwunsewu bagaimana status rumah untuk TK?” tanyaku saat hari pertama menjalankan amanah baru.

Alhamdulillah masih kontrak,” jawab para ustadzah.

“Saat ini berapa jumlah ustadzah yang berkhidmad?”

“Dua belas guru.”

“Kalau boleh tahu, berupa dana masuk tiap bulan dari SPP santri?”

“Alhamdulillah cukup besar dan cukup, yaitu sembilan ratus ribu.”

“Alhamdulillah semoga berkah semua dengan dana sebesar itu,” do’aku pada para pangabdi. Kami pun berpikir bagaimana cara mengatur dana sembilan ratus ribu untuk menjalankan operasinal pendidikan.

“Bolehkah saya usul pengelolaan dana yang besar itu agar efektif dan efesien?” usulku.

“Monggo, dengan senang hati,” jawab mereka.

“Bagaimana jika 70 persen untuk bisyarah, 30 persen untuk operasinal terdiri dari kebutuhan listrik, telepon, kedinasan, peralatan, dakwah, dan perawatan?” usulku.

Alhamdulillah, sae,” jawab mereka.

Baca juga: Ojo Lali Marang Asalmu lan Noto Niatmu

Di Kota Marmer yang masyarakatnya cukup memiliki kemandirian dan kedaulatan dalam ekonomi memberi pembelajaran pada kami untuk menjalankan amanah tugas yang baru ini. Tak elok jika meminta fasilitas pada yayasan.  Maka kami harus berikhtiar mengontrak rumah secara mandiri.

Setelah berkali-kali cari rumah kontrakan tidak dapat, alhamdulillah ada seorang karyawan BMT Harum menawarkan rumahnya ditempati tanpa harus bayar kontrak. Batas waktu penggunaan selama dua tahun. Jaraknya dengan TK (Taman Kanak-kanak) Al-Azhaar sekitar tiga kilometer. Jarak yang tak begitu jauh kami tempuh dengan berjalan kaki.

 

***

Dua bulan tugas dakwah berjalan, Sang Murabbi nyambangi kami bersama Bu Nyai.

Mam, keluarga sehat kabeh?” dawuh beliau (Mam, keluarga sehat semua?).

Nggihhh Bi, pangestunipun sedoyo sehat lan si Thoriq kraos,” jawabku (Ya Bi, berkat doa restu Abi semua sehat dan si Thoriq kerasan).

Tugasmu lancar apa terkendala?

Pangestu Panjenengan, nyuwun tambahipun do’a.” (Lancar berkat doa restu Abi, minta tambahan doanya).

Selengkapnya beliau mendo’akan kami, keluarga, dan amanah tugas. Kerawuhan dan do’a Sang Murabbi menjadikan kami mendapatkan lahan wakaf di Desa Rejoagung Tulungagung seluas 2.500 m² dari keluarga dr. Anang. Beliau kakak ipar Abah Ony, Surabaya.

“Keluarga kami menyerahkan tanah wakaf ke njenengan karena guru adik kami sama dengan guru njenengan,” demikian yang disampaikan wakif kepada kami yang didampingi Ust. Toha Syaifuddin saat itu. Alhamdulillah.

 

***

Sembilan bulan berikutnya, Sang Murabbi nyambangi kami lagi. “Dakwahmu piye, Mam?” tanya beliau (Dakwahmu bagaimana, Mam?)

Saksampune njenengan rawuhi, alhamdulillah wonten wakaf. Nanging dereng saget membangun,” jawabku (Setelah Abi rawuh, alhamdulillah ada wakaf. Tapi belum bisa membangun).

Tak tontoke lahane,” kata Abi. (Aku lihatnya lahannya).

Nggih, Bi.

Udara panas. Matahari tak bersahabat di lahan wakaf Rejoagung yang masih ada tanaman tebu. Beliau minta untuk dapat pergi ke lahan.

Teman-teman membuka tanaman tebu untuk jalan beliau. Tanpa peduli sengatan matahari dan bulu tebu yang gatal, murabbi kami mengangkat tangan tinggi-tinggi memanjatkan do’a menghadap kiblat. Kami mengikuti beliau sambil meneteskan air mata dan bibir berucap aamiin, aamiin, aamiin ya rabbal ‘aalamiin.

 

***

Usai berdo’a, beliau mengajak berkeliling.

Suara ngaji anak SD di rumah kontrakan di Kepatihan Tulungagung bertabrakan. Lahan bermain anak SD tak ada. Ruang rumah kontrakan penuh diisi bocah-bocah SD.

Kami dipaksa harus segera mewujudkan lokal kelas di lahan wakaf. Kebutuhan ruang kelas 14 lokal ditambah ruang dapur dan ruang kantor. Saat itu kami hanya punya dana tiga juta rupiah. Bismillah jalankan amanah dakwah. Apalagi sudah dido’akan oleh murabbi, maka madep mantep memulai.

Subhanallah pada bulan Juni terwujud empat belas lokal kelas dapat digunakan belajar para santri. Bulan Juli, para santri dapat boyong dari rumah kontrakan di Kepatihan ke lahan wakaf, Rejoagung hingga saat ini.

Diceritakan oleh Imam Mawardi – Tulungagung. Naibul Amin Persyarikatan Dakwah Al-Haromain didalam buku Bersama Sang Murobbi jilid 1. 

Masukkan kata pencarian disini