Sebuah Telepon Tak Terduga

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
bersamasangmurobbi

Ketika itu pada tahun 2012 saya ikut umrah yang kedua kali bersama para alumni Nurul Haromain dan para jamaah yang jumlahnya 180 orang. Abi tidak ikut serta. Beliau berada di Pujon. Namun Bu Nyai Maslahah dan Bu Nyai Iis serta Mbah Nuk ikut dalam rombongan umrah ini.

Saat saya, Kiai Mubin, Kiai Muchid, dan beberapa teman alumni yang lain sedang berada di halaman Masjid Madinah Al-Munawwarah, kami bercanda dan guyon. Namanya juga lama tidak ketemu. Dan biasalah bercanda guyonnya anak muda.

Baca juga: Kekasih Abuya

Pada saat kami bercanda sebagaimana candanya anak muda, maka telepon salah satu teman berdering. Ternyata di telepon itu terdengar suara Abi Ihya’ dari Pujon. Beliau menegur kami yang sedang bercanda di pelataran halaman Masjid Nabawi. Beliau menegur kami agar menjaga adab dan kesopanan, karena sedang berada di Masjid Nabawi, rumahnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Seketika kami pun terdiam, menghentikan canda dan gurauan.

Yang luar biasa adalah: Abi Ihya’ Ulumiddin yang saat itu di Pujon, seolah-olah tahu dan memantau kondisi kami yang sedang umrah. Dengan mata batinnya yang tajam, beliau seolah-olah tahu bahwa kami sedang bercanda dan guyonan di halaman Masjid Nabawi. Dan memang menurut kami tidak pada tempatnya bercanda dan guyonan di rumah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasalaam. Ternyata sekalipun jauh, Abi Ihya’ Ulumiddin tetap memantau keberadaan kami. Subhaanallah

Suatu ketika saya dan jamaah muslim di Kuala Kencana Timika kedatangan seorang Habib dari Manado. Namanya Al-Habib Hasan Al-Hasni. Ketika saya akan menjabat tangannya dan menciumnya, beliau menolak untuk dicium tangannya. Bahkan balik mencium tangan saya. Saya pun bertanya, “Kenapa Bib saya nggak boleh mencium tangan antum? Padahal yang lain boleh mencium tangan antum?”

Maka beliau menjawab, “Saya takut kuwalat sama Ustadz IhyaUlumiddin, guru antum, Tadz.”

Subhaanallaah, mungkin saking tawadhu’-nya Habib ini tidak mau tangannya saya cium atau memang beliau sangat menghormati nama besar Abi Ihya’ Ulumiddin.

Baca juga: Kesan Pertama dari Seorang Peserta Majelis Taklim Abi Ihya’

Dituturkan oleh Ust Somadi, dai tugas dari Ma’had Nurul Haromain Pujon di Papua. Kisah ini diambil dari buku “Bersama Sang Murobbi jilid 1”. Temukan kisah-kisah yang lain, yang tidak kalah seru di buku tersebut. Ingin memiliki? Kontak Anshoriyyah Bidang Usaha +62 877-5419-2725.

Artikel Terbaru

eNHa TV

Masukkan kata pencarian disini