“Angin sepoi-sepoi serta rindangnya pepohonan menambah kenyamanan jamaah yang hadir. Terik matahari di Bulan Juni pun tidak menjadi kendala.”
BANYUWANGI, PERSYADHA – Gebrakan baru saja dilakukan Banyuwangi sebagai tuan rumah Dzikir Jama’i Nasional ke-11 yang diselenggarakan pada Selasa (16/6/2026). Kegiatan Dzikir Jama’i Nasional atau disingkat DJN yang biasanya dilaksanakan di dalam masjid atau gedung, kini di bawa ke pinggir pantai. Konsep baru ini memang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh panitia pelaksana DJN ke-11 yang dinahkodai pengasuh dan santri Pesantren Miftahul Ulum, Bengkak, Wongsorejo, Banyuwangi.

Lihat juga: Siaran Dzikir Jama’i Nasional ke-11
Berjarak 7,5 kilometer dari Pesantren Miftahul Ulum dan 20 kilometer dari pusat kota Banyuwangi, Pantai Grand Watu Dodol dipilih sebagai lokasi venue. Pantai ini merupakan destinasi wisata utama di Banyuwangi. Garis pantainya yang menghadap ke timur membuatnya menjadi spot untuk menikmati matahari yang terbit dari balik Pulau Bali. Pantai ini juga jujugan bagi wisatawan yang hendak menyeberangi laut mengunjungi Pulau Tabuhan yang masih masuk wilayah Banyuwangi dan Pulau Menjangan yang masuk dalam area Taman Nasional Bali Barat, Buleleng.
Suasana yang nyaman
Ombak pantai dari Selat Bali yang relatif tenang menjadikan Grand Watu Dodol relatif aman sebagai venue kegiatan besar. Angin sepoi-sepoi serta rindangnya pepohonan menambah kenyamanan jamaah yang hadir. Terik matahari di Bulan Juni pun tidak menjadi kendala.
Kegiatan Dzikir Jama’i Nasional ke-11 yang dimulai sejak pukul tujuh pagi dihadiri ratusan rombongan yang membawa lebih dari 7000 jamaah. Para pengamal Dzikir Jama’i tersebut datang dari berbagai penjuru. Wilayah Tapal Kuda (Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, dan Probolinggo) menjadi penyumbang utama. Jamaah dari Malang Raya dan Surabaya Raya juga tidak kalah banyak. Begitu pula far’i-far’i lain. Cirebon, wilayah yang belum masuk wilayah dari Far’i Yayasan Persyada Al Haromain pun membawa satu rombongan bus berkapasitas 50 orang.

Momen setahun sekali
Dzikir Jama’i Nasional memang menjadi momen berkumpulnya jamaah majelis Dzikir Jama’i di Nusantara. Tidak jarang, para jamaah menabung demi bisa menghadiri kegiatan yang diselenggarakan tiap tahun tersebut. Sering kali para rombongan sekaligus menyelenggarakan wisata religi dengan berziarah ke makam para wali dan mengunjungi pesantren-pesantren besar di sekitar lokasi DJN.
Baca Juga: Penuh Berkah, Keberhasilan Banyuwangi Menjadi Tuan Rumah Dzikir Jamai Nasional ke-11
Dari pantauan penulis di grup WhatsApp jamaah, beberapa rombongan peserta DJN mengunggah perjalanan mereka mengunjungi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Pesantren yang berusia lebih dari 100 tahun ini didirikan KHR. Syamsul Arifin dan KHR. As’ad Syamsul Arifin. Jamaah Persyarikatan Dakwah Al Haromain memang memiliki kedekatan dengan pesantren ini karena pengasuh saat ini, K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy merupakan alumni Ma’had Nurul Haromain, Pujon, Malang.

Selain mengunjungi pesantren, beberapa jamaah juga berwisata ke Pulau Bali. Penyeberangan yang hanya memakan waktu sekitar satu jam dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi membuat mereka tidak mau melewatkan kesempatan tersebut. Kapal-kapal feri selalu siaga 24 jam untuk melayani wisatawan.
Pengalaman Dzikir Jama’i Nasional di Banyuwangi rasanya akan sulit dilupakan. Suasana yang baru, besarnya antusias jamaah, semangat panitia, hingga dukungan pejabat setempat menjadikan DJN kali ini terasa begitu spesial. Banyuwangi, luar biasa!
Kontributor: TI Haryadi







