“Terpilihnya Banyuwangi sebagai tuan rumah telah diumumkan pada penyelenggaraan DJN ke-10 tahun 2025 di Gelora Joko Samudro.”
BANYUWANGI, PERSYADHA – Angin pantai yang berembus, ombak-ombak yang bergantian menabrak bibir pantai, dan teduhnya pohon cemara laut menjadi saksi kehidmatan pelaksanaan Dzikir Jamai Nasional ke-11 pada Selasa (16/6/2026) di Pantai Grand Watudodol, Banyuwangi. Sejak matahari naik dari balik cakrawala timur, ratusan bus, elf, dan kendaraan pribadi memasuki area Pantai Grand Watudodol menurunkan ribuan jamaah yang telah menempuh perjalanan ratusan kilometer. Mereka datang untuk satu tujuan, berdzikir jamai bersama dipimpin Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin.
Lihat juga: Siaran Dzikir Jama’i Nasional ke-11

Dihadiri tokoh daerah
Kedatangan peserta disambut langsung oleh panitia dan dilayani dengan sepenuh hati. Syair-syair holawat mulai dilantunkan, sekaligus menandai dimulainya acara Dzikir Jamai Nasional ke-11 dengan tema Spiritual Problem Solving. Turut hadir di dalamnya, Wakil Bupati Banyuwangi Ir. H. Mujiono, M.Si., Kapolres Banyuwangi Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H., dan perwakilan dari Kodim 0825 Banyuwangi dan Pangkalan TNI Angkatan Laut Banyuwangi. Pimpinan sejumlah organisasi masyarakat juga turut hadir seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi dan PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) Banyuwangi. Begitu pula para alumni santri Abuya Al-Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani yang hadir sejak pagi hari.
Di dalam sambutannya, Wakil Bupati Mujiono menyambut kehadiran jamaah Dzikir Jama’i Nasional. “Selamat datang, sugeng rawuh di The Sunrise of Java”, sebutnya. The Sunrise of Java merujuk pada Banyuwangi sebagai kabupaten paling timur di Pulau Jawa, tempat pertama kali matahari terbit jika dilihat dari Pulau Jawa. Beliau mengajak masyarakat yang hadir untuk bersyukur atas persatuan yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia di tengah gejolak polarisasi di berbagai belahan dunia.

Terpilihnya Banyuwangi
Dzikir Jama’i Nasional adalah agenda tahunan Jamaah Persyarikatan Dakwah Al Haromain yang diselenggarakan secara berpindah-pindah lokasi. Pertama kali, DJN menempati Masjid Brigjend Soegiyono, Kompleks Kantor Walikota Batu pada tahun 2016. Selanjutnya, Kediri, Sidoarjo, dan Surabaya berturut-turut menjadi tuan rumah. Selama Pandemi Covid 1, DJN dilaksanakan secara daring.
Terpilihnya Banyuwangi sebagai tuan rumah telah diumumkan pada penyelenggaraan DJN ke-10 tahun 2025 di Gelora Joko Samudro, Gresik. Semenjak itu, K.H. Moh. Hayatul Ikhsan, Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum, Bengkak, Wongsorejo, Banyuwangi memimpin persiapan bersama pengurus dan santri-santrinya. Berkaca pada besarnya antusias kedatangan jamaah pada DJN ke-10 di Gresik, maka dipilihlah Pantai Grand Watudodol sebagai lokasi venue. Hal itu diputuskan setelah beberapa kali survei dengan Pengurus Pusat Yayasan Persyada Al Haromain dan mendapat restu dari Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin.
Lihat juga: Siaran Dzikir Jama’i Nasional ke-10 Gresik

Persiapan fisik dan batin
Di dalam persiapannya, Panitia berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, dan organisasi masyarakat setempat. Panitia juga bekerja sama dengan masjid-masjid di rute menuju Pantai Grand Watudodol. Hal itu agar lebih maksimal dalam melayani jamaah yang transit untuk sholat dan istirahat. Layanan penjemputan jamaah yang datang menggunakan moda kereta api juga disiapkan di Stasiun Ketapang, Banyuwangi. Layanan tersebut termasuk pengantaran pasca acara DJN.
Panitia juga menggandeng pelaku ekonomi di wilayah pantai serta membuka stan bazar bagi masyarakat umum. Dalam penyiapan konsumsi, panitia mengajak wali santri dan masyarakat untuk turut berdonasi. Antusias yang besar dalam berdonasi menunjukkan solidaritas masyarakat Banyuwangi dalam menyambut tamu Dzikir Jamai Nasional.
Selain persiapan fisik, pengurus dan santri Pesantren Miftahul Ulum juga melakukan ikhtiar batin dengan rutin melakukan sholat hajat di lokasi acara pada setiap malam selama sebulan menuju acara. Usaha-usaha tersebut berbuah manis dengan lancarnya penyelenggaraan Dzikir Jamai Nasional ke-11. Keberkahan tersebut menjadi bukti kesungguhan masyarakat Banyuwangi dalam berkhidmah.

Dzikir Jamai dan Dzikir Basmalah
Keberkahan semakin bertambah ketika Abi memimpin pembacaan Dzikir Jama’i setelah sebelumnya memberikan pengantar tentang manfaat berdzikir. Dzikir adalah jalan spiritual untuk menggapai solusi dari permasalahan. Kuncinya ada pada keistiqomahan dan dzikir sebanyak-banyaknya.
Keberkahan juga bertambah lagi ketika K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy, pimpinan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo memimpin Dzikir Basmalah. Kyai yang juga alumni Ma’had Nurul Haromain, Pujon, Malang tersebut memang dikenal sebagai pimpinan majelis pengamal Dzikir Basmalah. Mahallulqiyam kemudian menjadi penutup DJN ke-11 setelah pembacaan Dzikir Basmalah. Kemudian, Abi pun dengan senang hati bermushofahah dengan jamaah yang hadir.
Kontributor: TI Haryadi







