
“Abi mengawali Ngaji Poso kali ini dengan mengajak jamaah agar tidak sekadar puasa dari makan dan minum. Puasa seharusnya meliputi seluruh badan (shiyam al-jawarih).”
SURABAYA, PERSYADHA – Kegiatan Ngaji Poso Romadhon yang rutin diselenggarakan tiap tahun, kali ini dibuka dengan Ngaji Poso bersama Abi Ihya. Bertempat di halaman Sentra Dakwah Al Haromain, Ketintang, Gayungan, Surabaya pada Hari Sabtu (21/2/2026), majelis ngaji dihadiri lebih dari 300 peserta. Mulai pukul 15.30 waktu setempat, registrasi dibuka dan melayani peserta dengan membagikan takjil serta Tawajjuhat Romadhoniyah untuk tiap orang.
Ngaji langsung dimulai Abi sekitar pukul 16.30. Abi mengawali Ngaji Poso kali ini dengan mengajak jamaah agar tidak sekadar puasa dari makan dan minum. Puasa seharusnya meliputi seluruh badan (shiyam al-jawarih). Mulut berpuasa, telinga berpuasa, mata berpuasa, dan anggota badan lain juga berpuasa.
Jangan balas dendam makan
Memaknai puasa juga tidak hanya di waktu siang, namun juga di waktu malam. Jangan sampai di siang hari menahan dari lapar, namun di malam hari membalasnya dengan makan sebanyak-banyaknya. Apalagi sekarang memburu takjil menjadi tren di masyarakat. Tidak afdol rasanya jika berbuka puasa tidak spesial menunya. Setelah takjil, masih ada menu makan utama yang lebih berat. Ini adalah hal yang berlebihan dan seharusnya dihindari. Puasa yang berintikan rasa lapar untuk melemahkan syahwat justru berganti mengumbar syahwat dengan balas dendam makan.

Abi juga mewanti-wanti jamaah agar tidak melewatkan kesempatan meraih nafahat (curahan pahala) yang amat besar di bulan Romadhon. Maka dari itu, jamaah diminta agar memperbanyak dzikir, baca Al-Qur’an, bersedekah, dan sholat sunah. Perintahnya adalah “istiktsaro” (memperbanyak). Dzikir misalnya, maka perbanyak di setiap ada kesempatan. Sambil masak baca dzikir, sambil kerja baca dzikir.
Termasuk keutamaan yagn tidak boleh dilewatkan adalah sholat berjamaah. Disebutkan bahwa bagi orang yang mengharapkan dapat keutamaan malam Lailatulqodar, hendaknya sholat isya dan subuh secara berjamaah karena dengan keduanya, seakan-akan sudah sholat selama satu malam penuh. Di Bulan Romadhon ini, setiap jamaah juga jangan sampai tidak khatam membaca Al-Quran. Minimal khatam sekali. Perhatian besar Abi kepada jamaah ini tidak lepas dari didikan Abuya yang senantiasa memantau murid-muridnya dalam menjemput nafahat di bulan Romadhon.
Kontributor: TI Haryadi







