Zidnia Nuron Imanan Ummi Hajar itu namaku. Ketika 20 tahun yang lalu beliau memberiku nama yang sangat indah dan bermakna. Aku anak dari kedua orang tuaku, santri tulennya Nurul Haromain. Abiku Ust. Sumadi atau dan Umiku Ustz. Is’adiyah Utami. Keduanya mendidikku dengan sangat baik. Mengasihi, merawat, dan mengajariku segalanya bagaimana menjadi pribadi yang baik. Nikmat yang terus kami syukuri dalam hidup kami adalah menjadi hamba Allah dan umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan ada salah satu hal yang paling istimewa dalam hidup keluarga kami adalah mengenal sosok yang begitu luar biasa, sosok guru sekaligus ayah, sosok mursyid sekaligus sahabat, sosok yang selalu menuntun dan mendidik kami hingga menjadi pribadi islam yang tangguh. Beliau adalah Abina wa Murabbi ruhina K.H. Ihya’ Ulumiddin. Sepanjang kami mengenal beliau, tiada kata terindah yang selalu terucap kecuali hanya rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Subhaanahu wata’aalaa. Yang telah sangat baik memberikan sosok seperti beliau di tengah kehidupan kami.
Baca juga: Tanggapnya dalam Kesulitan
Kami mengenal beliau khususnya saya sejak dari kecil. Hidup bersama beliau di Nurul Haromain layaknya seorang ayah kepada anak-anaknya. Selalu mengayomi dengan nasihat-nasihatnya, mendidik dengan tarbiyah yang luar biasa. Bagi saya saat itu, sungguh anugerah yang luar biasa bisa dekat dengan beliau. Senyumnya selalu menyejukkan hati, wibawanya terkadang membuat kami ingin selalu dekat dan ta’dhim kepadanya. Hingga saat ini saya sudah menginjak dewasa saya terus mengagumi beliau.
Dahulu ketika saya bertemu dengan beliau, saya masih sempat berbincang, bercanda, dan bermanja-manja ria. Maklum karena dulu usia masih kecil. Dan sekarang, saya berbeda tempat dengan beliau. Saya mondok di Jombang dari SMP hingga sekarang menginjak perkuliahan. Ketika pertama kali jauh dari beliau, di situ saya mencoba dan berusaha menguatkan hati untuk selalu ingat kepada beliau dan nasihat-nasihat beliau.
Di awal sempat terus menangis. Bagaimana tidak? Biasanya setiap hari jika beliau tidak ke Surabaya kami bersalaman dan melihat wajah beliau dengan senyum ikhlasnya yang membuat hati tenteram. Namun sekarang harus jauh dari beliau. Sampai saat ini ketika saya sowan kepada beliau dan melihat senyum beliau yang saya bisa hanya menangis, sebagai luapan rasa rindu yang terpendam dan kebahagiaan tersendiri bisa bertemu lagi dengan beliau.
Ketika saya menangis pun beliau selalu mengerti apa yang saya rasakan. Padahal saya tidak pernah mengatakan secara langsung kepada beliau apa yang saya rasakan saat itu. Beliau selalu membalasnya dengan senyum dan berkata “Iya Nduk, Abi juga kangen.”
Maasyaa Allah.. seketika air mata semakin deras dan tak bisa dibendung lagi. Hati kami terpaut oleh kecintaan terhadap-Nya.
***
Pernah suatu saat ketika saya dan keluarga sowan kepada beliau, saya tidak bisa berhenti menangis. Sampai beliau sendiri berkata, “Ya sudah setelah ini, Nia bicara sama Abi berdua saja. Nanti yang lainnya menunggu di sebelah saja. Pasti berat ya mau berbicara jika ada orang banyak?”
Akhirnya setelah itu keluarga menunggu di ruang tamu sebelah. Sedang saya dengan beliau berada di ruang tamu depan. Saya masih dalam keadaan menangis waktu itu. Lalu beliau berkata, “Gimana, Nduk? Disampaikan saja apa yang menjadi uneg-uneg di hati,” kata beliau.
Saya terus menunduk dan menangis.
“Dekat Abi sini.. Ndak papa sama Abinya sendiri kok malu?” kata beliau sambil memeluk pundak saya. Sedang saya masih dalam keadaan menangis yang tak tertahankan. Sambil mencoba membuka mulut untuk berbicara.
Baca juga: Sebuah Telepon Tak Terduga
“Abi, Nia minta maaf.. Semenjak Nia menginjak remaja kemudian dewasa, Nia belum bisa membahagiakan, dan menemani Abi. Dan sekarang justru jauh dengan Abi..” saya berkata sambil terus sesenggukan.
“Padahal dari kecil Nia dekat dengan Abi, dididik juga bersama Abi, hidup dengan Abi.. Ngapunten Abi.. Nia hanya takut ketika nanti Abi harus pergi Nia tidak ada di samping Abi..”
“Allah.. Masya Allah.. Iya Nduk. Itu juga yang Abi pikirkan. Abi maunya nanti ketika Abi sudah tiada yang terakhir menemani adalah semua anak cucu Abi. InsyaAllah. Semoga Allah kabulkan ya Nduk?”
Terlihat sedikit air mata berlinang membasahi pipi agung beliau. Selanjutnya kami menangis bersama dalam pelukan cinta ayah dan anaknya. Beliau terus menguatkan saya dengan berkata, “InsyaAllah walau jauh di mata, tapi Allah selalu dekatkan di hati ya, Nduk,” sambil sesekali memegang kepala dan mendoakan terus menerus.
Dalam hati saya berkata, Ya Allah di duna ini tiada yang lebih indah daripada ini. Terima kasih Ya Rabb.
zzz







