Khutbah Jum’at – Berprasangka Baik kepada Allah
oleh: Abi Muhammad Ihya’ Ulumiddin bin Suhari
Rasulullahﷺ bersabda:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَال: يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
(Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman: “Aku menurut persangkaan hambaKu kepadaKu dan Aku bersamanya ketika ia memohon kepadaKu”) (Turmudzi dari Abu Hurairah ra no: 2496)
Jamaah Jum’at hafidhokumulloh,
Maksud: (Aku menurut persangkaan hambaKu kepadaKu)
1. Aku memperlakukannya sesuai persangkaannya dan Aku bertindak kepadanya seperti apa yang ia harapkan dariKu; berupa kebaikan atau keburukan.
– Ini berarti mendorong agar mengedepankan tafa’ul (optimis) daripada tasya’um (pesimis), dan mengedepankan raja’ (harapan) daripada khauf (kekhawatiran)
2. Aku sesuai keyakinannya kepadaKu dan pengertiannya bahwa sesungguhnya tempat kembalinya adalah kepadaKu, perhitungan amalnya (menjadi tanggungan) atas diriKu, dan sesungguhnya apa yang telah Aku putuskan; baginya atau atas dirinya berupa kebaikan maupun keburukan sama sekali tidak bisa ditolak. Tak ada siapapun yang bisa memberikan apa yang Aku telah mencegahnya, dan tidak seorang pun bisa menolak apa yang telah Aku berikan.
Baca juga: Khutbah Jum’at: Waktu Fajar
– Ini berarti mendorong agar bertawakkal kepada Allah ta’ala. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. QS. At-Talaq[65]: 3.
Jamaah Jum’at hafidhokumulloh,
Tawakkal adalah sesuatu, sedang apa yang banyak disebut orang berupa Ittikal adalah sesuatu yang lain. Tawakkal adalah permohonan bantuan dari Sang Pencipta ketika menjalani sebuah pekerjaan. Sementara Ittikal adalah bersandar kepada makhluk sebab dorongan rasa malas. Tawakkal adalah anda bekerja seraya meyakini bahwa di belakang anda ada kekuatan samar yang memberi anda pertolongan sehingga bisa melakukan pekerjaan. Kekuatan itulah yang menghamparkan jalan sukses bagi anda sehingga anda semakin bertambah semangat serta bergairah. Bukan anda duduk (manis) tidak melakukan apapun dan membiarkan begitu saja tali unta berada di atas punuknya; maka unta itupun hilang atau dicuri tanpa anda mengetahui ke mana mencarinya sebagaimana Rasulullahﷺ bersabda:
إِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikat dan bertawakkallah!” (Turmudzi no: 2517 Kitab Shifatil Qiyomah bab (60) dari Anas ra.)
Baca juga: Khutbah Jum’at – Tiga Hal Tidak Boleh Bosan
Jika memang benar bahwa motivasi (tasyji’) di antara yang terbesar dari berbagai faktor kesuksesan, maka sesungguhnya konsep tawakkal dalam islam adalah yang terbesar dari seluruh model motivasi. Andai saja kaum muslimin tidak memiliki selain tawakkal, maka kiranya ini sudah cukup bagi mereka sebagai senjata tajam dalam medan perang kehidupan. Akan tetapi mereka salah menggunakan dan (justru) menjadikan tawakkal itu sebagai pelemah semangat paling utama. Betapa berbeda antara orang yang bangkit dan orang yang duduk.
Jamaah Jum’at hafidhokumulloh,
Maksud: (Aku bersamanya ketika ia memohon kepadaKu)
Di sini ada dorongan bagi seorang muslim yang terbina agar berusaha keras (litihad) dalam menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya; maka is hams meyakini;
– pengabulan (Ijabah) di saat berdoa dengan adab-adabnya,
– penerimaan (Qabul) di saat bertaubat dengan syarat-syaratnya,
– ampunan di saat beristighfar, tanpa disertai tindakan meneruskan dosa (ishrar),
– dan balasan pahala di saat telah melakukan ibadah dengan ketentuan-ketentuannya
Ini karena sesungguhnya Allah ta’ala telah menjanjikan hal tersebut, sementara Dia tidak pernah mengingkari janji. Apabila seorang muslim yang terbina meyakini atau berperasangka selain itu semua, maka inilah putus asa (al Ya’s) dan rahmat Allah ta’ala yang termasuk di antara dosa-dosa besar (al kaba’ir).
Oleh karena itu hendaknya is berprasangka baik kepada Allah ta’ala sampai ketika menjelang kematian sebagaimana Rasulullahﷺ bersabda:
لا يَمُوتَنَّ أحدُكم إلا وهو يُحسنُ الظَّنَّ بالله
“Sungguh janganlah salah seorang kalian mati kecuali dalam keadaan ia berprasangka baik kepada Allah” (HR. Ahmad Muslim Abu Dawud Ibnu Majah dan Jabir ra)’ (al Jami’ as Shaghir no: 9987)







