Sejak tahun1992 saya mondok di Nurul Haromain.Saya diperintah oleh Kiai Masbuhin Faqih,Pondok Suci Gresik, untuk mondok di Pujon.
Saya sangat berbahagia ketika diberi kesempatan mengabdi menjadi tukang mijit dan tukang cukurAbina. Mungkin yang sekarang mijit Abi ketika wirid habis shalat, dengan memegang kaki tangan beliau. Tetapi kami dulu sejak 93-99, kami mijit dari mulai ujung kaki sampai ujung kepala. Itulah yang menjadi kebahagian kami mengabdi pada beliau.
Di samping itu, saya diberikan amanah sebagai tukang cukur. Yang membahagiakan bagi saya, beliau sangat senang ketika kami pijit dan kami potong rambutnya. Yang membuat kami amat terkesan, beliau selalu bilang pada kita, “Ya wis nek kowe ndeleng aku koyoke sayah, ya wis kanda a nang aku, aku pijeten. Dadi gak usah tak kongkon.Deloken awakku, nek sayah pijeten.” (Ya sudah, kalau kamu lihat aku sepertinya capek, bilang saja, aku kamu pijit. Jadi tidak usah aku minta. Lihat saja aku, kalau capek, pijat.)
Baca juga: Sendiko Dawuh
Jadi setiap kali kalau melihat Abina kelihatan kelelahan atau lemes, saya meski matur ke Abi setelah shalat atau kesempatan lain, “Bi, sak menika dipijet.” (Bi, sekarang waktunya dipijat).
Saya merasa beliau sangat-sangat tidak peduli pada kelelahan, pada kondisi capek-capek.Beliau selalu bilang,“Sik, aku sik akeh penggawean. Sik, ana urusan. Sik, urusan iki durung mari. Ada tugas Abuya durung mari.” (Sebentar, saya masih ada kerjaan. Sebentar, ada urusan. Sebentar, urusan ini belum selesai. Ada tugas Abuya belum selesai).
Kadang-kadang, saking capeknya, urusan Abi ditaruh di samping beliau, lalu memanggil seorang teman untuk memeriksa, sambil saya pijit di sampingnya.
Terkadang saya melihat beliau sangat capek, tapi masih ngurusimacam-macam. Apalagi kalau ada pekerjaan bangunan. Pasti beliau tidak merasakan capek dan dibuang jauh-jauh rasa lelah.
Ini yang barangkali saya melihat dari sosok Abina, yang tidak memandang capek itu sebagai penghalang kegiatan dan aktivitas beliau. Pokoke Abi itu seperti nggak ana pegele. Mestine wayahe dipijet, tapi mboten purun dipijet. Abi itu tak ada capeknya. Mestinya waktunya dipijat, tapi tidak mau. Ya, karena mendahulukan pekerjaan,tidak mau diam.
Baru setelah sering saya menawari beberapa kali untuk bisa dan mau dipijit–danbarangkali hanya untuk melegakan dan menyenangkan hati kita saja—baru kemudian kami bisa memijitnya.
Baca juga: Menyiapkan Kamar untuk Santri
Dan alhamdulillah kita waktu mijit itu tidak memijat biasa. Kita komplit, ada minyak, balsem,dan sebagainya. Dan kami memijat keseluruhan badan beliau.
***
Untuk kesan mencukur rambut beliau, di awal-awal untuk bisa memotong rambut kan harus pegang kepala kiai. Padahal memegang kepala kiai pantangan bagi santri.
Tapi luar biasa.Abi itu tidak menunjukkan bahwa ketika kami pegang kepala beliau sebagai seorang kiai besar.Beliau malah menyuruh kami, “Sudah lakukan saja. Cekelan gak papa.” (Sudah lakukan saja. Pegang saja, tak apa-apa).
Saya awal-awal saking takutnya pegang kepala beliau, sampai sedikit-sedikit sisir yang saya pegang jatuh bolak-balik, jatuh berkali-kali. Hingga saya merasa nyaman, karena beliau merasa nyaman dan tidak menunjukkan sosok kekiaian beliau,sehingga kami leluasa memotong rambut kanan-kiri dan atas-bawah rambut kepala beliau. Dan ini menjadi nilai keberkahan yang kami dapatkan. Semoga ini bisa menjadi keberkahan bagi kami semua.
Dan saya meyakini kalau ilmu tidak seberapa.Tetapi berkah mencukur dan memijit itulahyang berkahnya luar biasa, hingga kami bisa seperti sekarang ini.Dan kami bersyukur bisa berkhidmah pada Abina. Tetapi kita sekarang sangat sulit melakukan hal yang sama seperti dulu. Pada saat ada kesempatan, saya minta maaf, “Mohon maaf Bi, pijatan yang dulu teori-teorinya sudah hilang karena sudah lama nggak mijit Abi.”Abi hanya ketawa mendengarnya.
Semoga ini menjadi pelajaran dan keberkahan bagi kita semua. Bagaimana berkah itu tidak harus diukur dengan kepintaran dan kepandaian hapalan dan keilmuan, tetapi juga dalam khidmah itu ada keberkahan yang luar biasa.
Diceritakan oleh Ust. Rofian Karim –Pengasuh Pondok Pesantren Al-Minhal, Batu. Kisah ini dikutip didalam buku Bersama Sang Murobbi jilid 1. Bagi yang ingin memiliki buku tersebut dapat menghubungi Kewirausahaan Ashoriyyah Persyadha Pusat +62 877-5419-2725







