Abi, Antum Ka Abuya

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
bersamasangmurobbi

Ana yakin masing-masing dari kita semua mempunyai pengalaman spiritual yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya.Hal ini pernah ana alami dengan pencarian yang begitu panjang.

Berawal setelah boyong dari pesantren tahun 1996 kuputuskan untuk melanjutkan mencari ilmu di lembaga pendidikan Islam.Kemudian setelah lulus, ana melanjutkan lagi mencari ilmu di perguruan tinggi Islam. Semua ana lakukan hanya untuk mendapatkan ilmu dan mencari hakikat hidup yang sebenarnya.

Subhaanallah…. memang di dua lembaga tersebut ana dibimbing oleh para asatidz yang luar biasa keilmuannya dan ke’alimannya.Bahkan beliau-beliau termasuk diantara ulama terkenal.

Namun demikian, kenapa hati ana masih merasa resah dan gelisah? YaAllah, ini pasti ada yang tidak beres dengan diri hamba.

Baca juga: Sebuah Telepon Tak Terduga

Akhirnya ana berusaha sowan-sowan ke para asatidz untuk minta wejangan-wejangan beliau dan apa yang seharusnya ana lakukan agar hati ini tidak gundah gulana. Para asatidz memberikan wejangan dan amalan yang berbeda-beda. Ana berusaha semampu ana melakukan saran dan amalan yang beliau-beliau berikan dengan tanpa henti. Selain itu, ana juga berusaha membaca buku-buku yang dapat memotivasi diri ana, pastinya juga membaca Al-Qur’an meskipun belum mengerti arti dan tafsirnya hehehe….Tak terasa perjalanan begitu lama.

Suatu hari ana mendatangi majlis ta’lim dan seorang murabbi tinggi besar berjubah putih telah duduk di depan. Beliau hanya memandang ana dengan penuh perhatian dalam majlis tersebut. Karena pandangan yang begitu berarti, ana menjadi terkejut dan terbangun dari tidur. Subhaanallah…. antara senang bisa bermimpi mengikuti majlis ta’lim dan sedih hanya bermimpi sebagai bunga tidur ana.

Dalam keheningan malam tersebut, ana merenung dan melihat foto yang ada di kamar ana.“Sepertinya seorang murabbi yang ada dalam mimpi tadi mirip foto yang ada di kamar ana.Bedanya hanya warna rambut beliau yang sudah memutih.” Sudah ah, ini hanya mimpi dan bunga tidur ana.

Mimpi tersebut tidak ana hiraukan.Namun kejadian mimpi yang sama terulang berulang kali. Beliau hanya memandang ana tanpa mengucap sepatah katapun.Begitu juga dengan ana yang hanya bisa menunduk dan berbicara sendiri dalam hati.“Apakah beliau mengetahui perasaan ana yang sedang galau?”

Mimpi-mimpi inipun ana pendam sendiri dan tak pernah ana ceritakan kepada siapapun.Sampai pada akhirnya ana bermimpi kembali mengikuti beliau yang berjalan dengan seseorang di belakang beliau. Entah kenapa hati ini tak tahan dan mengadu kepada beliau,“Abuya kulo tumut sinten?” (Abuya, saya ikut siapa?)

Beliau memandang ana dan tersenyum sambil berkata, “Meluo aku.” (Ikut aku).

Ana terbangun dari tempat tidur sambil berucap,  “Subhaanallah….ini Abuya yang berkata tapi suaranya Abi Ihya’ Ulumiddin. Alhamdulillah… Apakah ini jawaban dari pencarian panjangku selama ini?”

Ana beranikan diri untuk menceritakan semua mimpi ini kepada orang tua ana dan Alhamdulillah orang tua ana merestui ana untuk mengaji kepada Abina Murabbi ruhina ustadz K.H. Muhammad Ihya’ Ulumiddin.

Bismillaahi tawakkaltu ‘ala Allah…. dengan semampu ana, ana mulai mengikuti majlis ta’lim yang disampaikan oleh Abi Ihya’ (panggilan kesayangan santri-santri beliau). Jadwal ta’lim hari Jum’at dan Sabtu. Dua hari ini ana biasanya ngecash hati dengan mengikuti majlis ta’lim beliau. Alhamdulillah…. berangsur-angsur hati ana menjadi lebih tenang dan nyaman setelah mengikuti majlis ta’lim beliau. Banyak ilmu yang ana dapatkan, terutama ilmu hati. Beliau Abi Ihya’ selalu menceritakan akhlak-akhlak Abuya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, diantaranya bergantung hanya kepada Allah Subhaanahu wata’aalaa, menyayangi semua orang, tidak membeda-bedakan orang, selalu menanyakan santri beliau yang tidak hadir di majlis ta’lim, memberi tauladan tidak hanya berkata, dan masih banyak akhlak al-karimah yang lain.

Baca juga: Berkah Memijit dan Mencukur

Kadang-kadang setelah mengikuti majlis hari Jum’at, ana bersama dengan teman-teman sowan ke ndalem Abi Ihya’. Di ndalem selain ada yang matur, terkadang kami hanya sekedar makan bersama dengan Abi Ihya’ dan Ibu Nyai Istiqomah. Tapi yang sering makan bersama-sama hehehe….

Kami di ndalem merasakan seperti keluarga sendiri dengan beliau-beliau. Tidak ada perbedaan diantara kami semua. Apapun makanan yang ada, kami makan bersama-sama. Namun demikian, kami tetap menjaga adab.

Di samping mengikuti majlis ta’lim, hari-hari ana biasa aktivitas di lingkungan majlis ini sejak pagi hingga petang. Di awal pembangunan gedung yayasan dan lembaga pendidikan, ana sering menyaksikan Abi mengelilingi lingkungan sekitar dan merapikan kayu-kayu yang berserakan. Beliau tidak hanya menyuruh tapi bertindak langsung. Memang beliau sosok yang low profile.

Suatu ketika ana mendengar suara,  “Abi…Abi…Abi…Salim.”Teriak anak-anak sambil berlari-lari mendatangi Abi Ihya’ untuk mencium tangan beliu. Hal ini tidak hanya sekali dua kali ana saksikan, tapi berkali-kali dan dimanapun beliau berada. Mulai anak kecil sampai orang dewasa berebutan ingin mencium tangan beliau.

Subhaanallah, Abi Ihya… Antum Ka Abuya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Nahnu nuhibbukum fiillah.

Masukkan kata pencarian disini