Yang Pertama Masuk Surga

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

Yang Pertama Masuk Surga

Arkian, di muka surga kelak menurut Nabi ﷺ Akan ada empat manusia yang hendak masuk surga lebih dulu. Dasar manusia, mereka saling berbuat siapa yang mula-mula berhak masuki surga pertama kali. Karena malaikat Ridlwan tidak dapat mengambil keputusan, turunlah Malaikat jibril ditugaskan  menjadi hakim. Mereka adalah pahlawan, orang kaya yang dermawan, haji mabrur, dan orang alim yang saleh.

Salah satu dari mereka dipanggil ke muka dan ditanya, “Dengan sebab apa engkau beruntung akan masuk surga tanpa paksa?”

Orang itu menjawab, “Saya seorang pahlawan mati syahid di medan perang karena membela agama.”

Jibril berkata, “Darimana kau tahu bahwa pahlawan yang mati syahid bakal masuk surga tanpa hisab?”

Pahlawan menjawab, “Dari orang alim.’. “ Kalau begitu, jagalah akhlak yang baik. Biarkan orang alim masuk surga lebih dulu,” ucap Malaikat jibril.

Pahlawan itu pun menunduk menyadari ketidak sopanannya. Lalu di panggil pula haji mabrur, yang ikhlas dan tidak cact dalam melaksanakan ibadahnya. Ia ditanya oleh Jibril, “Siapa engkau? Dan apa amal baikmu di dunia hingga mau masuk surga lebih dulu?”

Haji itu berkata, “Saya seorang haji ynag mabrur. Sesuai dengan janji Rasulullsh, tidak ada balasan yang sentimpal bagi saya kecuali surga.”

“Betul,  begitulah janji Nabi sejalan dengan wahyu Allah. Tetapi, dari mana engkau tahu bahwa Rasulullah pernah berjanji begitu?’.

“Dari guru saya, orang alim,” sahut sang haji.

“Dari orang alim katamu? Mengapa engkau tidak menjaga adab, membiarkan orang alim masuk surga lebih dulu?”

Haji itu pun mundur menginsyafi kekeliruannya.

Sesedah itu maju pula orang kaya yang dermawan, yang sebagian banyak hartanya disedekahkan di jalan kebaikan.

“Engkau ingin yang pertama masuk surga?” tanya Jibril.

“Benar. Saya mau masuk surga yang mula-mula karena hal itu merupakan hak saya.”

“Apa yang kamu lakukan di dunia katika engkau masih hidup hingga punya pendapat seperti itu?” tanya Jibril lagi.

“saya adalah seorang hartawan. Kekayaan saya itu saya dapatkan melalui jalan halal, saya peroleh dengan kerja keras dan berhemat. Tatapi, sesudah terkumpul banyak, harta saya tisdak saya gunakan untuk foya-foya di tempat maksiat, dan tidak hanya saya belanjakan untuk diri sendiri serta keluarga saya, tetapi sebagian besat saya belanjakan untuk menolong masyarakat, untuk menunjang kebaikan dan berjuang di jalan Allah.”

“Dari siapa engkau mendapat tahu bahwa semua yang kulakukan itu akan diganjar dengan masuk surga tanpa diperiksa?” Jibril bertanya cermat.

“Dari orang alim, guru saya ,” jawab si hartawan

“Dari olang alim?”

“Betul.”

“Jadi, kenapa orang alim yang sudah mengajarmu dengan kebaikan dan kebenaran tidak kau biarkan masuk surga lebih dulu sebagai tanda terima kasihmu kepadanya?”

“Maaf, saya jadi khilaf. Sekarang saya sada. Saya rela masuk surga paling belakang. Biarlah orang alim itu yang pertama masuk surga.”

“Nah, begitulah sepatutnya,” ujur malaikat jibril.

Maka orang kaya itu segera mundur dan orang alim dipersilahkan masuk surga lebih dulu. Namun dasar orang alim yang salih, Ia tetap setia kepada ilmu yang di dalaminya, yaitu harus mengalah dan berendah hati. Dengan sega keikhlasan orang alim itu berkata :

“Maaf, Tuan tuan, dan maaf para malaiat yang bijaksana. Sebagai orang alim saya tidak akan dapat belajar dan mengajar dengan tenang apabila tidak ada pahlawan yang rela mati syahid. Saya tidak akan memperoleh pahala yang terus menerus jika murid saya yang haji ini tidak mengamalkan ilmu saya secara benar. Dan saya, orang alim, dan dia, pahlawan, serta dia, haji mabrur, tidak akan dapat memperoleh keleluasaan beribadah serta mengajarkan ilmu saya apabila tidak ada kedermawanan orang kaya yang mau membiayai tentara perangkat perang, yang mau menyediakan kelapangan bagi perjalanan haji, yang mau membangun, tempt tempat pengajian, penyantunan anak anak yatim, serta macam kebaikan lainnya. Semua itu mustahil terwujud apalagi tidak ada orang kaya yang dermawan. Kemudian haji mabrur, dan izikanlah saya masuk surga paling penghabisan.”

Akhirnya di putuskanlah oleh Malaikat Jibril sebagaimana yang di usulkan oleh orang alim itu, yakni hartawan yang dermawan itulah yang masuk surga paling depan.

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.

 

 

 

 

Masukkan kata pencarian disini