YADUL ‘ULYA : MENJADI ENTERPRENEUR, GERAKAN TANGAN DI ATAS

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

CAHAYA FAJAR | YADUL ‘ULYA : MENJADI ENTERPRENEUR, GERAKAN TANGAN DI ATAS

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Islam memandang bahwa kekayaan itu adalah sarana untuk ibadah. Bahkan banyak aturan yang memberikan arahan terkait dengan persoalan harta hal ini menandakan bahwa harta kekayaan menurut Islan adalah sesuatu yang harus dikelola dengan baik dan umat Islam tidak boleh menjauh dengan urusan ini. Sebab hal ini adalah suatu keniscayaan realitas. Untuk itu harus dikelola dengan baik, agar menjadikan manusia tidak melupakan tujuan penciptaannya, yaitu dalam rangka beribadah kepada Allah.

Oleh karena itu tidaklah tepat jika Islam hanya dipahami sebagai sebuah agama dengan konsepsi sufisme belaka yang menjauh dari urusan dunia. Aliran sufisme yang mengutamakan kemiskinan pada mayoritas kaum muslimin terutama sejak abad pertengahan, dan kebanyakan tokoh-tokoh utama Islam digambarkan sebagai orang-orang miskin yang amat mencintai kemiskinan. Tentu hal ini tidaklah tepat, apabila mencerm
ati aturan-aturan Islam yang sangat bertaburan dalam menjelaskan tentang persoalan mu’amalah.

Sebaliknya, Islam memberikan perhatian serius tentang masalah ini yang menandakan bahwa umat Islam harus kaya dan memiliki harta serta mengelolanya dengan baik sebab dengan itulah maka akan banyak aturan Islam yang dapat terlaksana dengan sempurna. Seperti perintah zakat, infak, sedekah, ibadah haji dan lain sebagainya.

Dalam catatan sejarah, Rasulullah adalah seorang pekerja keras yang sangat gigih dan cerdas sebagai pengusaha muda sukses yang sangat kaya. Rasulullah bukanlah seorang tipe seorang yang manja dan hanya berpangku tangan menunggu pekerjaan. Beliau tidak berdiam diri dalam membangun kesejahteraan bagi dirinya. Beliau memulai kariernya dengan menjalankan transaksi bisnis di kota Mekkah. Kepiawaiannya berdagang telah memikat banyak investor Mekkah yang menitipkan hartanya untuk dikembangkan dengan sistem pembagian keuntungan. Perdagangan yang diwakilinya selalu mendapatkan keuntungan besar. Semakin dewasa Muhammad saw dan semakin bijak, maka semakin banyak yang mempercayainya menjalankan usaha perdagangan. Pasar yang dikunjunginya pun bukan hanya Mekkah dan sekitarnya, namun beliau berdagang sampai ke Yaman, Syam, Bahraen,  bahkan ke Babilon di Iraq.

Sebelum menikah, Muhammad saw telah mengumpulkan banyak harta, baik berupa emas maupun binatang ternak yang diperolehnya dari bagi hasil perdagangan yang dijalankannya. Kekayaan Muhammad dapat diukur dari kemampuannya memberikan maskawin dalam jumlah besar kepada Khadijah. Menurut riwayat,  Nabi Muhammad saw memberikan sejumlah emas dan 20 ekor unta terbaik, yang artinya sama dengan 20 mobil termewah pada saat ini. Artinya bahwa Rasulullah adalah seorang pengusaha muda profesional yang kaya raya. Rasulullah adalah teladan dalam membangun pribadi yang produktif sekaligus seorang enterpreneur yang ulung.

Namun ada hal yang sangat spesifik dari Islam dalam memandang harta kekayaan ataupun pandangan Islam dalam menjalankan usaha muamalah yaitu bahwa semua itu adalah dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagai tujuan utama dari penciptaan sehingga menjadikan harta dan usaha yang dilakukan bernilai kebaikan . Harta yang membawa kebaikan dan keberkahan adalah harta yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, menafkahi keluarga dan kerabat, serta dizakati dan diinfakan dijalan Allah SWT. Ibadah Harta (ibadah maliyah) merupakan investasi amal yang yang tidak akan berhenti pahalanya, walaupun yang bersangkutan sudah meninggal dunia, yang dikenal dengan Amal Jariyah. Untuk itulah Rasulullah suka pada hambanya yang kaya lagi dermawan. Sehingga Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barang siapa menyambutnya dengan murah hati (ridha) maka dia akan menerima Berkah. Dan barang siapa yang mengambilanya secara tamak serta curang maka dia tidak akan memperoleh berkah. Dia seperti orang yang makan, tapi tidak pernah kenyang” (HR Muslim)

Seseorang yang berusaha bermuamalah dengan penuh semangat sehingga mendapatkan harta kekayaan serta kemudian menjadi ringan tangan untuk bersedekah, maka hal demikian yang sejatinya dikehendaki di dalam Islam dengan keberadaan harta. Tangan di atas (memberi) lebih disukai oleh Rasulullah daripada tangan yang dibawah (meminta). hal ini menandakan bahwa Islam menginginkan agar umatnya memanfaatkan potensinya semaksimal mungkin menjadi pribadi yang produktif dengan berusaha agar tidak menjadi peminta-minta. Rasulullah bersabda ,

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.” (HR. Bukhari).

Untuk itulah menjadi pribadi yang produktif dengan berusaha (enterpreneur) akan jauh lebih baik daripada mendiamkan potensi diri dan berpangku tangan menunggu belas kasih orang lain. Harrik yadak !.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 3.08.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com

Masukkan kata pencarian disini