Konon, untuk membuktikan kerasulannya, Nabi Muhammad mampu membelah bulan di langit, dan kedua belahan itu masuk, lalu keluar lagi dari kedua lengan bajunya. Jelas hadits tersebut palsu dan diancam neraka bagi mereka yang berpegangan kepadanya. Sebab, secara logika dan sains betul-betul sangat tidak masuk akal. Padahal tiap kali Muhammad diminta untuk menampilkan mukjizatnya, ia selalu menjawab, “Aku ini cuma seorang pemberi ingat, bukan pemberi mukjizat.” Demikian keterangan Dr. Mustafa Mahmud dalm bukunya, Muhammad ‘Alaihish-Shalatu wa ‘Alaihis-Salamu.
Sudah bukan masanya lagi seorang rasul yang diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam pada kurun-kurun di akhir zaman ini, membuat terpukau umat yang dipimpinnya dengan keajaiban-keajaiban irasional. Seperti menyibak jalan di tengan samudera, menghidupkan kembali orang mati, menyembuhkan penderita kustasecara simsalabim, atau mengubah tongkat menjadi ular.
Mukjizat yang diwariskan Nabi Muhammad justru sikap kebapakannya, perilaku kerasulannya, dan kebersahajaan tindak-tanduknya. Malahan kepribadian cara hidupnya, andaikata dijalani oleh para pemimpin sesudahnya, alangkah indahnya kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Seperti dinyatakan dalam sebuah hadisnya:
“Seandainya orang-orang kayamu adalah yang paling dermawan diantaramu, seandainya para pemimpinmu adalah yang paling baik di tengah kamu, dan seandainya segala persoalan diselesaikan dengan musyawarah diantara sesama kamu, maka hidup di punggung bumi jauh lebih menyenangkandaripada berkubur didalamnya.”
Oleh karena itu, Tuhan tidak pernah memanjakan Nabi Muhammad, dan tidak akan memanjakan umatnya, sepanjang sikap memanjakan bukanlah perilaku seorang bapak yang bertanggung jawab. Seseorang tidak cukup beriman bahwa Muhammad adalah juru selamatnya, lalu ia pun akan selamat. Ada bermacam-macam ujian yang harus dilalui sebelum ia berhak memperoleh keselamatan dunia-akhirat.
Dalam kaitannya itu Allah berfirman:
“Apakah manusia menyangka mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan kami beriman tanpa diuji keimanan kami? Sungguh telah Kami uji orang-orang sebelum mereka sehingga Allah tahu siapa diantara mereka yang betul-betul beriman dan siapa pula yang hanya pendusta-pendusta belaka.” (Al-Ankabut:283)
Alkisah, dalam menghadapi serbuan kaum musyrikin yang mengarahkan tiga ribu tentaranya ke Uhud, Nabi yang hanya didukung oleh pasukan kecil berjumlah tujuh ratus lima puluh orang telah mengatur strategi yang sangat jitu. Ia menempatkan lima orang jago panah di puncak sebuah bukit di belakang pasukannya. Kepada peleton pananh itu Nabi berpesan, “Lindungilah punggung kami. Apa pun yang terjadi, jangan bergeser dari tempat kalian. Barangkali nanti kami berhasil menerobos pasukan musuh dan menghancurkan mereka, jangan kalian terpancing untuk turun dari bukit. Begitu juga apabila mereka sempat mengacaukanbalaukan pasukan kami, tidak usah kalian datang untuk membantu atau ikut bertempur satu lawan satu. Tugas kalian sudah jelas, bidiklah kuda musuh dengan anak panah kalian karena kuda tak kan sanggup mengelakkan diri dari serangan anak panah.”
Namun, mereka tidak menghiraukan perintah tersebut. Tatkala pasukan kafir telah dikucar-kacirkan oleh tentara islam, peleton panah itu berhamburan turun dari bukit dan sibuk menggempur serta menjarah harta rampasan. Khalid bin Walid, yang kala itu memimpin kaum musyrikin di sayap kanan bersama Ikrimah bin Abi Jahal di sayap kiri, dengan pasukan berkudanya menyerang pos pemanah yang ditinggalkan oleh sebagian besar petugasnya itu. Dan tentara Islam menderita kekalahan karena diserbu dari garis belakang.
Untunglah Muhammad, selaku panglima perang, meskipun tubuhnya terluka, dengan tegar berdiri di tengah medan laga seraya berseru agar pertempuran di lanjutkan. Semua anggota pasukannya yang sudah tercerai-berai kembali menggalang kekuatan di bawah komando atasannya. Mereka tidak berani lagi menyeleweng dari perintahnya. Maka berkat kedisiplinan dan kekompakan itu, tentara musyrikin yang dipimpin langsung oleh Abu Sufyan dapat digebah untuk mengurungkan niatnya hendak menduduki kota Madinah.
Itulah keluhuran umat yang terpilih, yakni harus menjadi contoh bagi umat lainnya bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali apabila kaum itu telah berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri; bahwa kejayaan atau keruntuhan memang berada di tangan Tuhan. Namun, dalam menjatuhkan takdirnya, Tuhan tidak pernah berbuat sewenang-wenang walaupun Ia mempunyai kewenangan untuk berbuat sewenang-wenang.
Menurut Rabiah al-Adawiyah yang dalam pengabdiannya kepada Tuhan semata-mata berdasar cinta, kekuatan orang-orang yang menghamba pada Tuhan justru terletak pada kepasrahan dan kepatuhan terhadap dengan segala ketentuan dan hukum-Nya, yaitu dengan bekerja keras tanpa mengenal putus asakecuali orang-orang yang ingkar kepada-Nya. Ketekunan berusaha dalam tawakal inilah yang oleh sayidina Ali bin Abi Thalib disebut sebagai annizham atau disiplin. Ia mengatakan:
“Kebenaran yang tidak berdisipiln akan dikalahkan oleh kebatilan yang berdisiplin.”
Namun, annizham bukanlah kepatuhan membabi buta, melainkan ketaatan terhadap kesepakatan bersama. Contohnya terungkap dalam peperangan antara pasukan Islam dengan tentara Parsi. Tiba-tiba, panglima Parsi menghentikan pertempuran dan meminta gencatan senjata. Pemimpin pasukan Islam menjawab, “Akan saya musyawarahkan dulu dengan anak buah saya.”
“Bermusyawarah dengan anak buah sendiri,padahl Tuan seorang panglima?” Lalu dengan terbelalak panglima Parsi menegur, “Saya tidak mau menjadi panglima bagi orang-orang yang saya ajak bermusyawarah.”
Pemimpun tentara Isalm membalas, “Saya pun tidak mau menjadi panglima bagi orang-orang yang tidak suka bermusyawarah dengan saya. Dan siapa pun yang tidak mau bermusyawarah dalam menghadapi kepentingan bersama, berarti ia membangkan dari ajaran Islam.
”Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.







