A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

Pada suatu hari seorang ayah menyembelih kambing untuk akiakh anak bungsunya, disaksikan sendiri oleh istri dan anak-anaknya. Sehari kemudian, sesudah selesai hajatnya, ayah itu berangkat ke Baghdad untuk berniaga.

Keluarga itu temasuk yang paling rukun dan serasi diantara keluarga-keluarga lainnya. Anak-anaknya patuh dan taat kepada orang tua. Yang sulung, seorang gadis, baru berusia dua belas tahun. Adiknya laki-laki, saat itu menjelang enam tahun. Nomor tiganya juga laki=laki, sedang memasuki usia tiga tahun. Sedangkan yang bungsu masih menyusu kepada ibunya.

Sungguh bahagia kehidupan keluarga itu, seoalh kegembiraan tak kan pernah pergi dari rumah mereka. Namun, alangkah malangnya nasib keluarga tersebut. Ibu setengah tua itu tiba-tiba berjalan tegopoh-gopoh menuju rumah Imam Hasan al-Bashri seraya air matanya mengucur deras. Dengan tersedu-sedu ia minta izin untuk menghadap, disambut sang Imam dengan penuh iba dan tanda tanya.

“Mengapa? Adakah sebarang musibah menimpa diri Ibu?” tanya sang Imam.

Sambil menghapus air matanya ibu itu lalu bercerita, “Saya tadi siang pergi ke pasar. Yang saya ajak hanya anak yang masih menyusu. Ketika saya pulang, saya dapati anak laki-laki saya yang berumur tiga tahun telah berkubang darah, lehernya digorok oleh abangnya sendiri. Agaknya, setelah melihat ayahnya menyembelih kambing akikah, anak itu menirukan semua yang dilakukan ayahnya. Dan ia mempraktekkannya terhadap adiknya sendiri. Terlihat dari darah yang berceceran sampai ke kamarnya. Anak itu bersembunyi, barangkali takut kepada saya. Ia mengendap-endap di halaman rumah. Saya melihatnya. Lalu saya panggildia supaya pulang. Anak itu buknnya bur-buru datang, malahan dia kabur ketakutan karena mengira saya akan menghukumnya. Saya kejar dia agar jangan lari. Ia makin ketakutan, dan larinya kian kencang. Entahlah, diamana dia sekarang, saya belum berhasil menemukannya.”

Imam Hasan al-Bashri ikut berduka, terbawa oleh kemalanganyang menimpa wanita itu.

“Cukup lama saya mencari anak itu, sementara anak yang masih menyusu saya tinggalakn di rumah, saya titipkan kepada anak sulung saya yang sudah menjadi gadis berumur dua belas tahun. Nmaun, apa yang saya temukan setelah saya pulang?” ujar wanita itu makin murung. “Rupanya, kakaknya asyik bermain sendiri dan adiknya dibiarkan merangkak kesana-kemari sampai akhirnya masuk dapur. Ketika saya cari-cari, anak susuan saya itu sudah hangus terbakar. Dan kakaknya yang merasa bersalah, menghilang dari rumah, sampai saat ini tak ketahuan rimbanya.”

Imam Hasan al-Bashri tidak mampu berbicara sepata kata pun. Ia bisa merasakan, alangkah hancurnya hati wanita itu. Dari sebuah keluarga bahgia, mendadak berubah menjadi seorang ibu yang kehilangang semua anaknya. Belum lagi nanti, kalu suaminya pulang, dan mendapati musibah yang mengerikan itu, bagaimana pula nasib sang ibu? Bukankah suaminya marah dan boleh saja menimpa kesalahan itu kepadanya? Tidakkah ia akan lebih terlunta-lunta dan sengsara?

“Dosa apa yang telah saya lakukan, wahai Tuan Imam, sampai saya menerima cobaan seberat ini?” tanya wanita tersedu-sedu, seolah mengiringi deru angin dari berbagai penjuru. Tampaknya segenap penghuni bumi yang mengalami nasib serupa ikut mengadu dan menunutut. “Kutuk apa yangn menimpa kami, sampai bencana beruntun menimpa kami? Bukankah kami menyembah-Mu, ya Tuhan, manaati perintah-Mu, dan menjauhi larangan-Mu?”

Imam Hasan al-Bashri hampir tidak mampu membuka suara. Akan tetapi, kemudian ia menguatkan dirinya dan berkata, “Saya hanya bisa mengutip firman Tuhan. Dengarkanlah janji-Nya, ‘Pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, pangan, dan jiwa. Maka berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabr, yaitu mereka yang bila tertimpa musibah, dengan tabah berkata: Kami berasal dari Allah dan bakal kembali kepada Allah.’ “

Wanita bernasib buruk itu menunduk. Dengan suara lebih lantang ia menyanggah, “Lalu, mengapamusibah itu harus menimpa saya? Tidak cukupkah ibadah saya selama ini kepada-Nya? Tengoklah, Tuan Imam, mereka yang menentang Allah bahkan hidup bersenang-senang.”

Sang Imam yang arif itu menatap wanita didepannya dan menjawab. “Bolehlah pertanyaan Ibu saya jawab dengan ucapan Nabi saw. Yang dalam hadis pernah bersabda, “Sesungguhnya sebesar-besar ganjaran itu disediakan di dalam ujian yang lebih besar. Dan sesungguhnya, bila Allah mencintai hamba-Nya, diuji-Nya hamba itu dengan berbagai musibah.”

Barangkali logika ini tidak tercerna oleh mereka yang yang tidak mengenal apa dan siapa manusia serta apa dan siapa Sang Pencipta, bhwa Tuhan berhak mutlak untuk berbuat sekehendak-Nya, dan manusia mempunyai kewenangan untuk berusaha. Nmaun, Tuhan senantiasa setia kepada hukum alam yang telah ditetapkan-Nya sebagai sunatullah, yaitu tentang sebab dan akibat. Artinya, betapa pun manusia telah menghamba kepada Tuhan sepenuhnya, ia tidak seharusnya lalai akan perubahan nasib yang bisa terjadi akaibat keteledorannya dan kesemberonoannya sendiri, sebagaimana ia harus tahu bahwa tidak mungkin mencapai peruntungan dan kedudukan yang lebiah baik tanpa ikhtiar dan daya upaya. Adapun kalau sudah berusaha, ternyata masih juga tertimpa kemalangan, di situlah letaknya martabat keimanan seseorang. Siapa yang tabah dan pasrah, dialah yang berhak menempati derajat mulia di sisi Tuhannya.

Mendengar penjelasan Sang Imam, wanita itu makin surut kesedihannya. Dengan kepala runduk namun hatinya berbunga, ia pun melangkah lebih tegar untuk menghadapi susana yang boleh jadi akan sangat tegang dengan suaminya, ayah kandung anak-anak itu. Tetapi, ia kini yakin, Allah bukan sedang murka kepadanya, melainkan tengah mengujinya. Jika ia lulus, pasti rahmat yang bakal dipetiknya.[]

 

Masukkan kata pencarian disini