Terang Itu Akhirnya Datang

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

Lapis-lapis Kebajikan: Terang Itu Akhirnya Datang

Barangkali tidak ada seribu orang yang mengenal desaku, Gondang Moga. Dan aku tidak perlu menceritakan sedikit pun kepada siapa saja. Sebab desaku kecil, terpencil, dan jalan menuju ke sana susah ditempuh.

Dari Losari aku harus naik bus dulu selama tujuh jam. Di Cempaka Wulung aku mesti pindah naik Colt mini, kemudian ganti dengan ojek sepeda motor kurang lebih setengah jam, melalui jalan berbatu-batu. Turun dari ojek lantas jalan kaki sepanjang 6 km, menanjak dan menyeberangi sungai. Di situlah aku dilahirkan dan dibesarkan, yakni sebuah kampung yang penghuninya tidak lebih dari tujuh puluh pintu.

Aku lahir begitu saja. Maksudku, aku tidak mengenal siapa ayahku. Aku hanya menemukan seorang ibu yang kurus, sakit-sakitan, dan jelek, yang karena itu ditinggalkan oleh suaminya sesudah menanamkan bibit di dalam rahimnya. Aku.

Rumahku bukan rumah menurut ukuran orang kota. Bahkan orang desa sekalipun menyebutnya gubuk reot. Lantainya tanah lembab. Tidak ada kursi atau meja. Satu-satunya perabotan yang dapat dijumpai dalam “rumahku” hanya sebuah balai-balai bambu. Di situ kami menerima tamu. Di situ kami duduk. Di situ kami makan. Dan di situ pula kami tidur. Malah, menurut desas-desus, di situ ayah dan ibuku berbulan madu. Serta di situ juga aku dilahirkan oleh ibuku dengan bantuan seorang dukun beranak, nenekku.

Apakah perlu kuceritakan bahwa kami sering tidak makan nasi selama berhari-hari? Bahwa kami cuma bisa menangsal perut dengan gaplek rebus yang dinamakan thiwul?

Itulah yang kualami hingga remaja. Namun, aku masih bisa berbesar hati. Aku bisa ikut mengaji di langgar sampai khatam Juz Amma. Dan aku dapat bersekolah hingga aku SD. Lumayan bisa untuk mencatat hutang Ibu ke warung-warung, supaya kalau giliran ditagih, tidak terjadi pertengkaran.

Umur dua belas aku dipaksa kawin dengan seorang juragan kerbau yang kaya. Konon, kabarnya karena aku cantik, manis, dan bertubuh padat. Kulitku kuning langsat. Terutama pada kedua kakiku. Mulus sekali. Tidak ada cacatnya sedikitpun.

Aku belum tahu betul apa yang disebut pernikahan. Dengan wali kakekku, karena Ayah tidak terdengar lagi beritanya, aku pun sejak itu menjadi istri juragan kerbau dari Karang Moncol.

Malam pertama aku amat ketakutan. Sebab juragan kerbau yang anak pertamanya seorang gadis berumur empat tahun lebih tua dariku, menggerayangi seluruh tubuhku waktu aku sedang tidur lelap.

Aku lari keluar kamar. Kepada Nenek aku mengadu sambil menangis, “Saya takut, Nek. Bukankah Nenek bilang, kawin itu hanya tidur dengan laki-laki? Tapi saya tidak bisa tidur, Nek. Juragan kerbau itu selalu mengganggu.”

Ibuku dengan air mata bercucuran memberiku nasihat, “Engkau kasihan kepada ibu, bukan? Kalau betul engkau cinta kepada ibu, biarkan saja juragan kerbau itu melakukan yang diinginkan. Engkau pasrah saja. Mula-mula memang sakit dan takut. Lama-lama engkau akan terbiasa dan menjadi senang. Ya?”

Memang betul apa yang dikatakan ibuku. Dengan segala kecemasan dan rasa jijik aku mulai menyerah pada malam yang kedua. Sakitnya bukan main sampai aku menjerit. Namun, demi kepentingan keluargaku, yang kemudian dicukupi semua kebutuhannya, aku jalani hidup berumah tangga dengan juragan kerbau itu. Sampai akhirnya ia bosan setelah tiga tahun aku menjadi istrinya dan melahirkan seorang anak di samping janin berumur empat bulan dalam kandunganku.

Lalu nasibku seperti yang diderita ibuku. Ia meninggalkan aku tanpa berita dan tanpa belanja hingga anakku yang kedua sudah berumur empat tahun.

Kakek dan nenekku meninggal dunia berturut-turut, enam bulan dan lima bulan berselang. Ibuku sudah sakit-sakitan. Dadanya makin cekung ke dalam. Batuknya mengeluarkan darah.

Dalam pangkuanku ibu akhirnya menghembuskan napas penghabisan dengan tenang. Yang membahagiakan diriku, ibu sempat mengucapkan kalimat tauhid di ujung bibirnya.

Aku kesepian. Hanya ditemani dua orang anakku yang lucu-lucu meskipun perut mereka buncit dan dada kurus kering.

Aku nyaris tidak mampu lagi mempertahankan hidup macam begini. Bayangkan. Semua keluargaku, termasuk paman dan uak, sama keadaannya denganku. Miskin. Jadi, kalau anak-anakku meminta makan kenyang buat sehari saja, ke mana aku harus minta tolong?

Untunglah pada suatu siang yang terik, seorang lelaki perlente, disertai perempuan agak tua yang kukenal waktu kecilku dengan panggilan Bi Tireng, mendatangi rumahku untuk membicarakan pekerjaan yang ditawarkannya kemarin.

Bi Tireng memang penduduk asli desaku, tetapi sekarang sudah tidak punya rumah lagi di kampung. Kabarnya ia membuka warung di Losari, dekat Cirebon. Sedangkan laki-laki perlente itu katanya majikannya yang punya modal besar.

Aku setuju untuk bekerja padanya atas anjuran Bi Tireng. Untuk tanda jadi, laki-laki perlente itu memberikan seperangkat pakaian yang sangat bagus menurut ukuran kampungku, dan sejumlah uang kepada pamanku yang kutitipi memelihara si Kuncung dan si Kunting, kedua anakku.

Ternyata, di sebuah warung pinggir jalan besar, aku dipaksa melayani pelanggan-pelanggan warung itu yang kebanyakan sopir-sopir truk gandeng dari segala penjuru.

Hubungan badan dengan laki-laki yang kualami terakhir kali adalah empat tahun yang lalu, dengan juragan kerbau, suamiku. Memang kadang-kadang aku merindukan saat-saat seperti itu, yang rupanya bisa menyingkirkan ketidaksenanganku dengan suamiku tersebut, karena memang mengandung kenikmatan tersendiri. Tetapi, jiwa agamaku cukup kuat untuk menghindarkan diriku dari perbuatan zina walaupun ada saja laki-laki yang ingin iseng semasa aku menjanda.

Sekarang? Karena utangku konon berjumlah Rp 200.000, dan harus kubayar tunai kalau aku tidak mau menuruti suruhan Bi Tireng sebagai pengelola warung untuk melayani semua pelanggan yang tertarik kepadaku, maka dengan menangis pedih dalam hati terpaksa aku harus menyerah digumuli bermacam-macam lelaki. Sungguh memuakkan. Apalagi jika lelaki itu adalah kernet truk gandeng yang berlumur oli dan bau solar. Oh, menjijikkan.

Pernah karena barang baru dan berkulit bersih aku harus meladeni enam belas orang dalam sehari. Tiap waktu aku menjerit. Ini adalah dosa besar. Dan jika ada kesempatan, aku selalu mandi junub dan sembahyang diam-diam. Aku membaca Alquran yang sebagian surah-surahnya masih kuhafal. Namun, apakah semua ibadahku diterima, ditempat pelacuran yang penuh maksiat ini, dari seorang pelacur yang tiap hari harus berzina dengan lebih dari paling sedikit tiga lelaki?

Ya Ilahi. Masih adakah harapan untuk keluar dari kubangan dosa-dosa? Masih terbukakah pintu taubat bagiku? Dengan cara apa aku dapat terentas dari malapetaka neraka dan bencana kemiskinan?

Itulah keluhan Sisum pada waktu ia terkena razia rutin yang kami lakukan, para petugas Kelurahan. Bersama sebelas orang wanita muda lainnya dari beberapa mucikari, Sisum kami tempatkan di sebuah gedung SD yang kebetulan tidak terpakai karena sejak sebulan lepas murid-muridnya dipindahkan ke bangunan Inpres yang telah siap.

Hanya semalam para pelacur remaja itu diinapkan di SD tersebut. Selama satu jam sesudah isya kami panggilkan seorang ustad untuk memberikan pengarahan agama bagi mereka. Ustad itu masih muda. Termasuk yang paling populer di desa kami. Namanya Haji Joni Mashar.

“Tuhan tetap membukakan pintu taubat bagi kalian. Kapan saja, dimana saja….”

Belum selesai Ustad Joni meneruskan ceramahnya, Berti, begitulah konon namanya, menyeletuk, “…minum Coca Cola. Hihihi….”

“Hihihi…,” kawan-kawannya ikut tertawa terpingkal-pingkal hingga wajah Ustad Joni merah padam. Untung ia cukup sabar. Padahal, di belakang aku sempat mendengar si Naning berbisik kepada Sisum, “Ustadnya ganteng. Muda lagi. Aku mau berhenti jadi pelacur kalau ia bersedia mengambilku sebagai istri simpanannya.”

Sisum cuma melirik. Tidak ada mimik di wajahnya selain kepolosan tanpa berpikir apa-apa. Mungkin ia menganggap, berpikir pun bukan lagi hak seorang wanita macam dia.

Dalam perjalanan pulang Ustad Joni satu becak denganku karena mencari ustad memang merupakan tugasku sebagai pejabat Bimbingan Rohani di Kelurahan.

“Saya kira sudah sulit menginsafkan mereka, Man. Dosa dan neraka tidak lagi bisa menyentuh perasaan mereka, keluh Ustad Joni.

Aku mengangguk. Baru kemudian menyanggah, “Apakah belum waktunya para ustad memikirkan cara berdakwah yang lebih akrab?”

“Maksudmu?”

“Misalnya mendatangi para pelacur itu di tempat prakteknya? Mungkin pendekatan secara manusiawi dan pribadi akan lebih berhasil, Ustad,” sahutnya tanpa berusaha mengingat-ingat masa lampauku. Aku pernah menguji kelelakianku dengan pelacur sebelum berani menikahi anak Pak Lurah. Sebab aku mempunyai waswas ketika itu mengenai kemampuan seksualku. Dapatkah aku menjadi suami yang baik dan memuaskan? Bagi seorang gadis yang amat kucintai dan rela mempertaruhkan nama bapaknya selaku lurah? Sebab aku cuma berasal dari keluarga miskin dan tidak terpandang. Berbeda dengan Halimah, istriku, yang dulu bekas kawan sekolah di SMA Negeri III Cirebon. Aku berutang budi kepada Daripah, pelacur itu. Ia memberi kepercayaan kepadaku bahwa aku memang lelaki.

Ustad Joni menengok ke arahku. Aku yakin dia baru bisa melihat jelas wajahku jika kebetulan sebuah mobil dari arah depan menyorotkan lampu ke becak yang kami naiki. Karena bulan malam itu hampir tidak kelihatan.

“Wah, berat, Man. Terhadap perzinaan, yang dilarang Tuhan juga mendekatinya, bukan saja melakukannya,” jawab Ustad Joni seperti menangkap seekor ular yang kulemparkan kepadanya.

“Saya pernah mendengar penjelasan dari Kyai Zainal bahwa larangan mendekati perzinaan bukan berarti mendekat saja sudah dosa, Ustad. Itu hanya untuk menggambarkan alangkah besarnya dosa berzina,” gumamku pelan sekali supaya hatiku tidak mendengar. Lantaran kata zina itu tidak hanya sering kudengar, melainkan pernah kualami. Dan aku amat menyesal. Serta takut.

“Bisa juga,” jawab Ustad Joni membenarkan. “Tapi, ah, lebih baik para ustad tidak usah berpikir ke sana.”

Aku tidak terlalu memperhatikan mimiknya, namun aku merasa, Ustad Joni seakan memandang jauh sekali ke suatu tempat yang sulit terjangkau. Aku tidak tahu apa yang tengah berkecamuk dalam dadanya.

“Berarti para ustad masih cetek imannya. Masih lemah.”

Ustad Joni tersentak. “Kok begitu?”

“Tentu saja. Karena para ustad itu hanya terbang di awan-awan. Tidak di bumi, dengan segala kebaikan dan keburukannya. Kami orang-orang awam bisa menuduh bahwa barangkali, jika mereka berdekat-dekat dengan pelacur pun, pasti tak kan kuat untuk tidak bersebadan dengan mereka.”

“Astaghfirullah,” gumam Ustad Joni mengungkapkan kemarahannya. Sejak saat itu kami tidak bisa lagi memperdekat jarak agar suasana di dalam becak kembali akrab seperti sebelumnya.

Aku menyesal. Namun, aku lebih menyesali ceramah mereka di mimbar-mimbar dengan pengunjung yang berjubel,tanpa sempat memperhatikan bahwa ketika mereka menggebu-gebu berbicara tentang dosa dan maksiat, sejumlah anak muda berkopiah dan berkerudung saling bermesraan di bawah pokok-pokok pisang dalam kegelapan malam yang semakin dingin. Tahukah mereka? Tidak. Yang tahu adalah kami, para petugas Kelurahan, terutama Hansip. Merekakah yang menggerebek pasangan kumpul kebo di sebelah langgar? Bukan. Kami. Mereka pulakah yang memaksa pasangan tanpa nikah itu dihadapkan ke muka penghulu untuk dikawinkan secara sah? Tidak. Kami yang melakukannya. Itulah yang selalu terjadi. Dan itu pula kenyataannya.

Ustad Joni tidak pernah kutemui lagi sampai kasus penggerebekan warung-warung mesum di pinggir jalan itu telah berlalu sebulan lamanya. Sisum masih tetap Sisum. Berti masih tetap Berti. Dan para mucikarinya masih tetap dengan mata bersinar-sinar menghitung uang sewa kamar yang jauh lebih besar daripada penghasilan gadis-gadis pajangannya.

Tambah lama Sisum tambah kuyu. Kecantikannya tidak berubah, tetapi sinar hidupnya mulai meredup. Ia tidak putus asa. Ia tidak menyerah dalam maksiatnya. Walaupun ia menyesali semua perbuatannya.

Sudah tiga kali mereka kugaruk setelah razia malam itu. Dan sudah tiga kali pula mereka membuka praktek kembali. Sampai akhirnya datang perintah untuk melancarkan operasi pembersihan pelacuran dalam awal bulan Desember tiga hari yang lalu.

Di warung Bi Tireng kami dapati tujuh pelacur. Dan di antaranya tertangkap basah dengan pasangannya. Mataku mencari-cari, namun Sisum tak kutemukan. Dengan agak marah aku bertanya, “Mana Sisum? Jangan disembunyikan.”

Bi Tireng ketakutan. Sebab kali ini gertakanku dideking dari belakang oleh seorang anggota kepolisian.

“Tidak ada, Pak.”

“Jangan bohong,” dampratku tambah garang. Aku harus menemukan Sisum lantaran seorang pensiunan camat yang istrinya meninggal dunia enam tahun silam bersedia mengangkat Sisum sebagai penggantinya. Akulah yang menyakinkannya tentang latar belakang keluarga Sisum yang saleh dan santri. Camat itu rupanya ingin menebus dosa-dosanya semasa ia suka main perempuan pada waktu ia masih menjabat kedudukannya. Dan kabarnya itulah yang menyebabkan istrinya mengidap penyakit jantung sampai mengakibatkan kematiannya.

“Betul, Pak. Sisum tidak di sini lagi.” Ucap Bi Tireng kian gemetar. Di matanya memang kelihatan rasa ngerinya. Mungkin lantaran polisi di belakangku menyandang pistol di pinggangnya.

“Aku tidak percaya,” bentakku. Sebab sudah pernah kepergok dalam operasi bulan lalu, Sisum sengaja disembunyikan. Aku bisa mengerti. Maklum, untuk dua deretan warung di jalan itu, Sisumlah primadonanya. Sopir-sopir sampai antri untuk mendapatkan giliran dengannya. Tidak usah lebih jauh. Asal bisa ngobrol pun jadi.

Tiba-tiba Bu Tireng setengah melompat lari ke dalam kamar. Aku dan Pak Polisi ikut melompat di belakangnya. Sisum jelas disembunyikan dalam kamar itu. Karenanya aku berdiri tegak di sebelah kanan untuk mengawasi jendela, sementara Pak Polisi mendobrak masuk ke dalam.

Entah apa yang terjadi. Aku mengharapkan bentakan Pak Polisi kepada Bi Tireng yang bakal mengawali jeritan Sisum dan pekikan Bi Tireng. Ternyata tidak ada suara apa-apa. Aku jadi curiga. Apakah Pak Polisi itu justru tergoda oleh kemontokan Sisum yang mungkin sedang terlentang di tempat tidur dalam keadaan… lalu Pak Polisi itu melepas… kemudian suara napas terengah… engah…? Dan… dan… oh, si Sisum sungguh hangat. Untung! Untung tidak lama kecurigaanku mengganggu pikiranku. Pak Polisi keluar tanpa tanda-tanda perubahan sedikitpun. Bi Tireng mengekornya dengan muka cerah.

“Bagaimana, Pak?” tanyaku.

Pak Polisi memandangi aku dengan tatapan bertanya dan tidak percaya. Matanya berkedip-kedip tatkala menyodorkan selembar kartu undangan kepadaku. Dan aku, begitu menerima kartu tersebut, tidak Cuma berkedip-kedip, malah membelalakkan mata seraya memekik, “Masya Allah.”

Sesudah kuulang membacanya tiga kali, aku pun mengucap, “Alhamdulillah.”

“Wah, mulia betul ustad muda kita itu,” gumam Pak Polisi.

Aku mengangguk walaupun aku bingung. Mengapa Ustad Joni Mashar tidak mengirimkan kartu undangan kepadaku? Apakah masih marah? Atau malu? Ataukah barangkali belum sampai?

“Tanggal berapa nikahnya?” Tanya Pak Polisi.

Aku memperhatikan kembali undangan itu. “Saya bacakan, ya Pak.” Tanpa menunggu Pak Polisi mengangguk aku membacanya keras-keras.

“Telah menikah di Gondang Moga, Joni Mashar, B.A. dengan Sumiati alias Sisum pada hari Jumat Kliwon tanggal 22 Mulud 1399 H.”

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.

Masukkan kata pencarian disini