Taushiyah Syahriyah, Abi Berpesan Tentang Kasih Sayang dan Loman
“Abi menganalogikan, jika zakat saja yang wajib ada yang 10%, maka minimal seseorang agar tidak dicap pelit harus infak minimal 10%.”

SURABAYA, PERSYADHA – Momen Taushiyah Syahriyah Oktober 2025 yang berlangsung pada hari Ahad (5/10/2025) pagi di Sentra Dakwah Al Haromain, Ketintang, Surabya dimanfaatkan Abi untuk mengajak jamaah al haromain agar senantiasa loman. Dalam menyampaikan taushiyahnya, Abi memberi ukuran infak seseorang agar tidak disebut pelit. Ukuran tersebut yakni 10% dari sisa bersih pendapatan setelah dikurangi berbagai keperluan wajib.
Dalam beberapa momen, Abi memang sering kali mengingatkan jamaah akan sifat loman. Loman dalam bahasa Indonesia bisa diartikan dermawan, yakni kesadaran diri untuk menyalurkan harta yang dimiliki untuk selain keperluan dirinya. Loman adalah lawan dari sifat medhit/pelit. Sifat loman banyak dibahas dalam hadist-hadits Nabi dengan beberapa istilah seperti sakho dan itsar.
Kegiatan Taushiyah Syahriyah memang waktu yang tepat untuk mengingatkan dan memotivasi jamaah agar bersifat loman. Kegiatan tersebut merupakan bagian Iltizamat Kejamaahan sehingga setiap anggota jamaah wajib menghadirinya. Taushiyah diselenggarakan sebulan sekali pada hari Ahad di pekan pertama. Jamaah bisa memilih untuk menghadiri Taushiyah di Surabaya yang dilaksanakan pagi hari maupun di Pujon pada sore harinya.
Tema Taushiyah
Taushiyah bulan ini membawa tema ” Tidak Sayang maka Tidak Disayang “, atau dalam bahasa arab difrasakan “Man la yarham, la yurham“. Di dalam nasroh yang dibagikan kepada jamaah, Abi menyebut sekian daftar bagaimana tata cara mempraktikan kasih sayang. Ada orang tua dan anak, kerabat, suami dan istri, pelayan/pembantu, saudara seagama, serta manusia dan hewan. Semua elemen tersebut berhak mendapat kasih sayang. Terkhusus dalam kejamaahan, salah satu cara berkasih sayang adalah dengan mendukung gerakan. Bentuk dukungannya dapat bermacam-macam. Dukungan tenaga, dukungan materi, dukungan pikiran, dan bentuk dukungan lainnya.
Dukungan materi menjadi sorotan utama karena munculnya anggapan banyaknya “iuran jamaah” di kalangan jamaah Al Haromain. Hal itu tak lepas dari beragamnya program infak di Kejamaahan. Sejatinya, banyaknya program tersebut bukanlah untuk memberatkan jamaah, melainkan memudahkan jamaah dalam memilih program infak yang sesuai. Selain itu juga menjadi latihan bagi jamaah agar bersifat loman dan hatinya tidak terikat dengan harta dunia. Abi pun memperingatkan dengan tegas agar tak ada lagi yang mengistilahkan Kejamaahan banyak “tarikan (iuran)”.

Infak 10%
Abi berpesan bahwa orang disebut loman, minimal infak 10% dari sisa hartanya. Hal itu bukan tanpa alasan. Di dalam hukum fikih zakat, terdapat presentase kewajiban zakat sebesar 2,5% seperti emas dan perak, 5% seperti hasil pertanian dengan biaya pengairan mandiri, dan 10% seperti pertanian tadah hujan. Abi menganalogikan, jika zakat saja yang wajib ada yang 10%, maka minimal seseorang agar tidak dicap pelit harus infak minimal 10%. Nilai 10% ini pun dari sisa harta setelah dikurangi kewajiban infak seperti nafkah, makan, sandang, papan, bayar utang, dan lain sebagainya. Apabila tidak ada sisanya, Abi menyebutkan tidak infakpun tidak mengapa. Akan tetapi jika ada, maka 10% harus diinfakkan.
Di dalam suatu hadits disebutkan,
“السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَابِدٍ بَخِيلٍ”
Orang yang dermawan dengan dengan Allah, dekat dengan manusia, dengan dengan surga dan jauh dari neraka. Orang yang pelit jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sungguh orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang pelit” (HR Tirmidzi)
Di hadits lain, disebutkan pula jika Alloh memiliki sifat Maha Pemurah dan cinta akan sifat pemurah/loman. Hal inilah yang menjadi dasar Abi terus memotivasi jamaah untuk dermawan.
Kontributor: TI Haryadi






