Si Jago Makan

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

#lapis-lapis kebajikan Ramadhan: Si Jago Makan

Aku Indekos di rumah Pak Sis. Jaraknya dari pesantren hanya 300 m. satu kamar dua orang. Dan di rumah itu terdapat tujuh kamar. Berarti ada empat belas santri yang tinggal di situ.

Semua jago makan. Jatah nasi dari pesantren yang satu rantang penuh dengan lauk tempe rebus setengah masak itu selalu habis kami lahap. Apalagi kalau kebetulan tanggal tua, ketika tidak ada sasaran lain untuk menangsal perut, kadang-kadang kami antri dua kali supaya mendapat jatah dobel. Tentu saja dengan cara menyamar. Itulah bagianku karena di grup teater aku bertugas sebagai juru rias.

Tetapi, di antara semua jago makan, yang paling hebat adalah Irfan. Juga paling lihai mencari tambahan jatah. Misalnya dengan rajin menunggui orang sakit. Irfan mempunyai daftar seluruh santri yang jumlahnya ada empat ratus orang lebih. Dan anehnya, ternyata tiap hari ada saja yang menggeletak tidak bisa bangun karena demam. Seperti ada giliran sakit, baik yang cukup di tempat tidur kamarnya sendiri maupun yang terpaksa dirawat di rumah sakit.

Sungguh sangat terpuji sikap Irfan. Begitu ada teman yang terbaring sakit, ia langsung mendatanginya bila sedang tidak belajar atau mengaji. Dengan setia Irfan menanyakan semua keinginan si sakit. Ia bersedia membelikannya meskipun di tempat yang jauh. Tentu saja dengan uang si sakit dan sanak familinya, atau mengebon kepada pengurus pesantren atas tanggungan yang berkepentingan.

Tadinya kami tidak tahu apa sebenarnya Irfan berhati semulia itu. Kami mengira memang ia amat ikhlas dan sangat budiman. Sampai pada suatu hari, tatkala aku diserang demam dan tidak dapat bangun dari tempat tidur, pagi-pagi sekali Irfan sudah menjengukku. Sambil memijat-mijat kepalaku Irfan bertanya, “Sarapannya mau kamu ambil sendiri atau kuambilkan?”

Aku menggeleng. “Ambil kamu saja. Mulutku pahit,” jawabku lemah lunglai.

Tanpa menunggu lebih lama Irfan segera mengambil jatah sarapanku di pesantren, dan langsung dihabiskannya sendiri. Di sini aku baru tahu, rupanya ia mendapat keberuntungan dengan menunggui teman-temannya yang sakit. Tetapi, tidak mengapa, bukan? Daripada mubazir. Cuma ternyata ada kelebihan lain yang diharapkannya.

Setelah menghabiskan jatahku, Irfan yang tambun itu kembali masuk ke kamarku dan bertanya, “Kamu mau sarapan apa?”

Dengan penuh rasa terima kasih aku minta dibelikan bubur ayam dan manga masak. Uangnya kuserahkan, dengan pesan supaya tidak usah membeli banyak-banyak. Alangkah kagetku ketika ia datang membawa satu rantang penuh bubur ayam dan sepiring besar berisi manga yang sudah dipotong-potong. Sampai uang yang kusediakan tidak ada kembaliannya sama sekali. Tentu saja aku tidak bisa marah kepadanya walaupun bubur dan mangga itu tidak habis kumakan. Dan juga aku tidak bisa menghalang-halangi pada waktu sisanya dilahap semua oleh Irfan. Kurang ajar. Rupanya demi kepentingan rongga perutnya juga Irfan sampai begitu rajin meladeni teman-temannya yang sakit. Dalam hati aku berjanji, nanti, jika giliran dia yang jatuh sakit, aku pun akan berbuat sama kepadanya.

Alhamdulillah, kesempatan itu datang juga pada suatu hari. Irfan sakit gigi sampai mengerang-erang dengan keluhan kepalanya amat berat. Ia tidak bisa bangun, dan sehari-semalam tiduran saja di dipan.

Pada giliran mengambil jatah makan, ia minta tolong kepadaku. Aku pun dengan patuh melakukannya. Antri setengah jam untuk mengambilkan jatah makanannya. Kukira ketika makanan itu kutawarkan kepadanya Irfan akan menolak dan menyuruhku untuk menghabiskannya. Ternyata tidak. Jatah satu rantang penuh dihabiskannya sendiri hingga ludas. Padahal Irfan sedang sakit gigi.

Sesudah itu ia minta tolong pula agar aku mau membelikan gudek di Langenastran. Waduh, jauhnya bukan main dari Krapyak. Namun, karena dulu Irfan meladeni aku selama sakit, kini pun aku harus membalasnya. Sambil mengharap, nanti sisa gudeknya bisa kunikmati sebagai pelepas lelah, sekadar upah kecapaianku.

Tetapi, apa yang terjadi? Walaupun Irfan sudah makan dan sedang sakit, mulutnya juga merintih-rintih, ternyata semua itu tidak menghalangi dirinya untuk melahap seluruh isi rantang sampai ke tulang-tulangnya. Sejak itulah aku kapok, demikian pula teman-teman lainnya. Tidak ada yang mau menunggui Irfan kalau sedang sakit. Sebab makanan apa saja bisa masuk ke perutnya tanpa terintangi oleh demam yang sedang dideritanya, bagaimanapun beratnya demam itu.

Oh, Irfan.

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.

Masukkan kata pencarian disini