Seperti Berlayar Di Lautan

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

#lapis-lapis kebajikan: Seperti Berlayar Di Lautan

Ada suatu cerita tentang seorang nenek tua. Dia punya anak banyak, hampir semuanya menjadi orang besar. Dan sebagai balas budi kepada orang tuanya, mereka bersepakat memberikan kemewahan bagi ibunya. Di buatkan sebuah gedung besar, diisi perabotan yang lengkap, disediakan mobil mewah beserta sopirnya. Uang belanja setiap bulan tidak kekurangan, bahkan berlebihan.

Tetapi nenek itu makin lama makin kurus, sakit-sakitan. Dia sendirian, menyepi dengan seekor kucing piaraannya. Pada suatu hari nenek tua itu minta kepada sopirnya untuk di antarkan ke vila yang diberikan anaknya di Puncak. Sopir heran karena waktu itu hari sudah jauh malam. Namun, terlaksana juga perjalanan itu dengan selamat.

Sampai di Puncak si sopir disuruhnya pulang. Dan ketika mobil itu sudah jauh menghilang, nenek yang kaya itu menggendong kucingnya, menuju ke pinggir jurang dengan langkah-langkahnya yang sempoyongan. Di sana ia menerjunkan diri ke bawah, setelah memejamkan mata dan menangis dalam cucuran air matanya yang deras. Nenek itu mati bersama kucing tuanya yang setia.

Kita tidak peduli apakah cerita ini benar-benar terjadi ataukah sekadar khayalan seorang pengarang. Cuma yang jelas, di antara kepingan-kepingan tubuh nenek yang nekat itu ditemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada anak-anaknya. Surat itu berbunyi: “Jangan kalian salahkan siapa-siapa kalau aku berbuat nekat seperti ini. Sebagai anak, kalian cukup berbakti kepada ibu. Tetapi kalian lupa bahwa kebahagiaan seorang janda tua adalah hidup bersama anak-anaknya, mencium pipi cucu-cucunya, dan tertawa memandangi tingkah cucu-cucu yang lucu serta sehat-sehat itu. Agaknya kalian sengaja memisahkan aku agar tidak mengganggu kesenanganmu. Hari-hariku hanya di penuhi kesepian. Aku harus menunggu lama sebelum kadang-kadang dua bulan sekali kalian mengunjungiku.”

Memang sering kita lupa bahwa kebahagiaan itu tidak cukup hanya dengan benda-benda mati. Sebab kebahagiaan itu sesuatu yang terbetik di balik wadah kasar.

Manusia bukanlah terdiri atas daging dan tulang saja. Manusia hidup tidak hanya dengan napas dan jantung yang berdegup, tetapi juga dengan perasaan dan kehormatan.

Kita kadang-kadang salah tafsir terhadap hidup. Ucapan terima kasih ditafsirkan dengan uang. Anak menangis supaya diam diberi uang. Utang budi dibalas dengan uang. Urusan beslit agar dapat diselesaikan dengan baik harus disodori uang atau, kalau tidak, minta uang. Orang yang saling membenci agar berbaikan kembali diberi uang. Kalau masih juga belum enak hati, jumlah uang itu diperbesar lagi. Terhadap pelanggaran lalu lintas, biar perkaranya tidak berlarut-larut, dipakai uang sebagai pelicin.

Uang,uang,uang. Seolah-olah uang lebih tuhan daripada Tuhan. Apabila ajaran ini terus kita ikuti dengan setia, bahwa segala kejadian di dunia, naik atau turun itu bergantung pada uang, maka hubungan antara manusia dengan manusia akan menjadi kaku, palsu, tegang dan dengki.

Banyak pengalaman yang telah kita lalui memberi pelajaran kepada kita bahwa tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Bahwa tidak semua kesenangan jasmani menjamin ketentraman rohani. Malah sering kesenangan lahiriah itu menyeret kita kepada penyesalan dan penderitaan batin yang akibatnya sangat fatal jika kita tidak hati-hati.

Kejadian baru-baru ini di Kampung Bahari, Tanjung Priok, memberikan bukti dengan gamblang. Seorang gadis berumur 15 tahun terpaksa mengakhiri hidupnya sendiri dengan minum endrin sesudah dia berfoya-foya dalam hubungan di luar batas dengan seorang laki-laki. Penderitaan batin yang menyiksa hati dan rasa sesalnya telah menumbuhkan putusan yang nekat itu. Sebab tadinya dial alai dirangsang oleh tuntutan kepuasan. Kenikmatan sebentar memang telah dihirupnya dalam hubungan jasmani, tetapi batinnya tersiksa akibat perbuatan itu dilakukan dengan melawan tanggung jawab moralnya.

Memang manusia lihai sekali menipu dengan mulutnya, tetapi tidak bisa menipu dengan hatinya. Seperti dikatakan oleh Friedrich Nietsche: “We may lie with our lips, but we tell the truth with the fac we make when we lie.” Kita bisa berdusta dengan bibir, tetapi kita menceritakan yang sebenarnya dengan perubahan muka yang terjadi pada waktu kita berbuat begitu. Dan ternyata bahasa hati lebih kuat daripada bahasa lisan.

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurahman Ar-Roisi.

Masukkan kata pencarian disini