Sejenak Pagi | SEHARUSNYA DITUTUPI
Anugerah lisan yang fasih terkadang membuat pemiliknya terbuai. Lisan terus menari hingga kehilangan arah. Bencana lisan pun senantiasa mengancam, utamanya bagi setiap kita yang tidak mampu menjaganya agar tetap di atas rambu- rambu syariat. Terkadang kita merasa begitu nyaman mengayunkannya. Hingga tak terasa membawa pemiliknya ke muara kebinasaan. Padahal, menjaganya adalah keniscayaan untuk meraih jaminan Rasululloh akan surgaNya. Membuka aib dan kekurangan orang lain adalah salah satu produk dari permainan lisan yang tidak terarah. Seharusnya, setiap kita yang takut akan adzabNya dan meyakini bahwa Alloh Ta’ala Maha Melihat dan Mendengar seluruh tindak-tanduk kita, mampu menjaga manajemen lisan, saat diam dan bicara.
Sungguh, perilaku mengungkap aib dan kekurangan orang lain, lahir dari prasangka – prasangka yang tidak berdasar. Padahal Alloh Ta’ala telah melarang untuk banyak berprasangka, sebagaimana firmanNya,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”
(QS. Al-Hujuraat : 12).
Larangan yang ada dalam ayat di atas juga dikatakan oleh Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wassallam, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wassallam, beliau bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka (buruk), karena prasangka (buruk) itu adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian saling mencari-cari kejelekan (tahassus), saling memata-matai (tajassus), saling hasad, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Alloh, orang-orang yang bersaudara”
(HR. Bukhari)
Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang terang-terangan melakukan dosa. Dan sesungguhnya diantara terang-terangan (melakukan dosa) adalah seorang hamba yang melakukan amalan di waktu malam sementara Alloh telah menutupinya kemudian di waktu pagi dia berkata : ‘Wahai Fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal pada malam harinya (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh Rabbnya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh Alloh”
(HR. Bukhari)
Sepatutnya seorang mukmin, hendaknya berkata tentang sesuatu yang mengandung kemanfaatan. Seandainya itu tidak sanggup, hendaklah ia diam.
Rasululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassallam bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia bicara yang baik (bermanfaat) atau diam”
(HR. Bukhari-Muslim)
Luqman Al Hakim berkata, “Diam itu hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya” .
Tingkatkan iman, imun diri, jalankan prokes dan pasrahkan total kpd Alloh Ta’ala
Wallahu A’lam Bisshawab
Yaa Alloh Ya Robb
Ampunilah kedua orang tua kami, ampunilah kami, keluarga kami dan saudara² kami.
Ya Alloh….
Sehat dan sembuhkan saudara dan sahabatku yang sakit.
Jadikanlah sebaik-baik amal kami pada penutupannya.
Jadikan kami dan keluarga kami sehat dzohir dan bathin.
Lindungilah kami dari berbagai penyakit, bencana dan kesulitan lainnya.
Jadikan kami, insan yang pandai bersyukur dan bisa membahagiakan orang lain.
Jadikan kami menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.
www.sejenakpagi.info
😊❤👍







