Saya Telah Kehilangan Saya

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

Laksana komplotan pembunuh berdarah dingin, banyak manusia yang dengan kejam telah membunuh harga dirinya. Keresahan yang terjadi dimana-mana, peperangan dan kejahatan-kejahatan telah mengajarkan kepada manusia bahwa yang penting adalah mempertahankan hidup. Seperti di tulis dalam Let God Be True yang diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society, Inc. banyak orang yang mulai ragu terhadap agama karena menyaksikan betapa kalutnya agama yang biasanya dianut orang-orang Barat itu selama ini. Mereka mendapatkan bahwa pemimpin-pemimpin agama tersebut merupakan munafik-munafik yang lain perkataan dengan perbuatannya.

Dan di mana-mana orang mulai banyak yang menukar idealisme, cita-cita, serta identitasnya. Sebagian manusia hidup tanpa melihat masa depan. Mereka bernapas untuk sekarang, makan untuk sekarang, dan berjuang untuk sekarang. Yang timbul dari falsafah semacam ini adalah suasana yang makin porak-poranda. Anak-anak muda berontak dari lingkungannya. Saking bencinya kepada kejemuannya terhadap keadaan yang munafik itu, mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat merugikan diri sendiri serta orang lain: perkelahian, mabuk-mabukan, pesta-pesta seks dan morfin. Gelombang ini melanda dari Negara-negara maju. Belum terhitung akibat yang mengerikan, yang menimpa bangsa-bangsa terbelakang dan setengah maju, yang serba silau dan latah terhadap apa yang datang dari bekas-bekas tuan penjajah mereka itu.

Semboyan hidup buat sekarang adalah ibu kandung segala kerusuhan sosial dan ledakan-ledakan criminal yang terjadi. Barangkali keadaan inilah yang digambarkan oleh Nabi isa dalam Injil Matius, “Karena pada masa itu aka nada kesukaran besar, yaitu yang demikian belum pernah terjadi daripada permulaan dunia sampai sekarang ini dan tidak akan terjadi yeng demikian pula.”

Lantaran terlalu besarnya kesadaran akan hak miliknya di dalam hidup, manusia banyak yang lupa terhadap kewajiban dan tanggung jawab sosialnya. Mereka hanyut ditelan badai hiruk-piruknya mengejar kepuasan. Dan untuk mencapainya, sebagian besar diantara kita terpaksa harus kehilangan saya, menghamba kepada kemauan dan identitas orang lain.

Itulah yang sebenarnya sedang mengombang-ambingkan manusia di antara dua kutub. Bangun atau biarkan saja. Kalau kita ikuti ajaran Upanishad dalam bagian Mundaka, maka bunyinya adalah: “Let the truth of Brahman be taught only to those who obey his law, who are devoted to him and who are pure in heart. To the impure let it never be taught.” Biarkanlah kebenaran Tuhan hanya diajarkan kepada mereka yang mematuhi hukum-Nya, mereka yang sangat berbakti kepada-Nya, mereka yang bersih hatinya. Kepada orang-orang yang kotor, tidak usah ajaran kebenaran itu diberikan selama-lamanya.

Barangkali kalau kita terapkan sebagai jalan keluar, ketentraman sepihak akan kita temui. Namun, sementara itu, yang tersesat akan makin binasa serta membinasakan orang lain. Sebab kepincangan sosial pasti akan mengakibatkan tumbuhnya kegelisahan dan kerusuhan-kerusuhan.

Sudah jelas kita tidak boleh menutup mata. Yang kita perlukan sekarang bukan menuding sambil mencari kambing hitam. Ketegasan jalannya hukum dan toleransi yang tidak berlebihan, itulah satu-satunya cara menanggulanginya.

Untuk itu baiknya kalau saya ingatkan Alquran yang berbunyi: “Hendaklah ada di antara kamu suatu golongan yang mengajak kepada jalan baik mengajarkan manusia agar berbuat kebajikan-kebajikan, dan mencegah mereka dari perbuatan-perbuatan munkar. []

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.

Masukkan kata pencarian disini