Menurut William Shakespeare, kehidupan ini tiada bedanya dengan bayang-bayang semu yang berlewatan di atas pentas. Sungguh lucu. Sebab, jika direnungkan sebentar, kadang-kadang kita terpaksa tertawa geli sendiri. Ada sesuatu yang kita kejar, ada sesuatu yang kita tunggu, tetapi apakah itu, kita tidak tahu. Bahkan sebelum kita tahu, ternyata kita sudah ditahlili empat puluh hari. Suatu komedi yang mengharukan.
Kasihan amat menyaksikan jungkir-baliknya manusia. Mereka sungsang sumbat dan sangat sibuk menggapai-gapai ingin mencapai sesuatu yang buat orang lain sebetulnya sudah tidak ada gunanya.
Yang belum jadi raja kepingin jadi raja. Yang sudah jadi raja malah ketakutan karena hidupnya diancam pembunuhan saban hari. Banyak yang kepingin jadi penulis terkenal. Padahal banyak banyak penulis terkenal malah bingung memikirkan periuknya bergoyang-goyang.
Kemarin saya melawat seorang kawan yang meninggal tertabrak mobil. Sepanjang saya menundukkan kepala lantaran tangisan keluarganya belum mereda juga, saya teringat betapa kawan saya ini baru saja kemarin sore berkata kepada saya, “Ngeri sekali saya melihat orang tertabrak mobil. Mati seketika, kepalanya hancur.” Tidak tahunya, malah dia sendiri tertabrak mobil dengan kepala yang juga hancur.
Maka, sambil berjalan mengatarkan jenazah ke kuburan, saya seolah menyaksikan calon-calon mayat yang sedang menunggu panggilan pada diri para pelawat yang beduyung-duyung itu. Barangkali karcis masuk sedang dibagi-bagikan, hanya mereka belum kebagian.
Yang aneh lagi, suatu kecelakaan terjadi di Beji, Jawa Tengah. Seorang pengendara Vespa, pengusaha sebuah percetakan di Tegal, terpelanting dari montornya, luka parah. Kebetulan ada pengendara Vespa lainnya, kepala PKPN Pemalang yang berpegian bersama istrinya. Mereka berdua segera turun menolong sampai kr Rumah Sakit Pemalang. Beberapa jam kemudian kepala PKPN itu diantarkan pula kerumah Sakit Pemalang, berjajar tempat tidur dengan orang yang pernah ditolongnya dan dalam keadaan luka parah menjelang tarikan napas yang penghabisan. Akhirnya kedua orang itu menunggal dunia. Yang menolong menyusul kemudian.
Aneh, bukan, hidup ini? Sering orang tuding-menuding satu sama lain. Seorang babu mencari giwang majikannya. Tuan besar marah bukan kepalang. Dengan perut membusung dia berteriak, “Tidak tahu membalas budi kepala majikan! Kamu percaya menjaga rumah, malah kamu sendiri jadi malingnya.”
Tuan besar itu lupa bahwa dia sendiri juga tidak tahu membalas budi kepada rakyat dan negara yang membayarnya. Gaji sudah cukup untuk ukuran hidup Indonesia, tetapi dia masih korupsi dan mengomensikan jabatanya. Untunglah hukum di Indonesia tidak pandang bulu. Siapa pun tidak ada yang kebal terhadapnya. Maka tidak berapa lama sesudah babunya diusir karean mencuri giwang, si tua besar pun diadili karena manipulasi dan koripsi.
Waktu pembukaan pekan Raya Jakarta, orang-orang tertawa geli menyaksikan tari ondel-ondel. Mereka terpingkal-pingkal menonton sambil mengawasi orang-orang keren yang tengah terpingkal-pingkal itu. Saya juga terpingkal-pingkal sendiri. Ondel-ondel menonton ondel-ondel.
Ya! Tragis bukan? Bukankah kita pun sering menjadi ondel-ondel dalam kehidupan sehari-hari? Berapa banyak manusia yang mau menjadi ondel-ondel untuk menghibur orang lain, sekedar dibayar dengan kemakmuran sepotong? Sampai kalau perlu dibuangnya harga diri sebagai manusia yang utuh? Berapa banyak wanita yang menyewakan tubuhnya seperti mereka menyewakan bantal di kereta api saja?
Barang kali saya terlali gegabah, tetapi, tiap hari kita selalu menobatkan sang raja. Dan raja itu adalah kepentingan pribadi bersumberkan nafsu dan ambisi.
Mudah-mudahan para pembaca tulisan ini tidak mengerutkan muka dengan masam akibat tersinggung perasaanya. Sebab akan selalu datang giliran demi giliran sepanjang hidup kita. Giliran baik dan giliran buruk. Tentu saja sambil mengharap agar giliran baiklah yang mengakhiri umur kita.[]







