Bermula ketika Abi Ihya berkunjung ke tempat kami, lantas jamaah dan warga kampung banyak yang datang ikut menyambut. Ketika itu Abi berpesan, “wong-wong jaken nang Pujon”
Maka jamaah banyak yang tanya, kapan ada agenda ke Pujon. Kemudian disepakati momen Dzikro Maulidurrosul ada rombongan berangkat ke Pujon. Dibuatlah list, siapa saja yang akan ikut. Dan terkumpul sekian nama yang kemudian berangkat ke Pujon dengan naik satu bis, dua Elf, dua mobil pribadi dan dua sepeda motor.
Tibalah rombongan di Pujon. Masuk pertama kalinya ke pondok Nurul Haromain dan ikut acara Maulid. Jamah ikut acara sampai selesai. Esok harinya, setelah jamaah Maghrib, sebagian jamaah saling bercerita. Pak Bambang penjual ayam mengatakan, ” Kulo nembe niki nderek acara Maulid, mahallul qiyame ngantos dangu. Tapi boten kroso soale seneng”. Lantas pak Budi menambahkan, kalo pak Yanuar, anggota TNI, setelah qiyam terlihat menunduk terus. Setelah ditanyakan ternyata orangnya menangis. Belum lagi cerita dari jamaah ibu-ibu.
Suasana Dzikro Maulidurrosul di Pujon merupakan pengalaman baru bagi mereka. Membaca sholawat diiringi bacaan dzikir yang masuk kerelung hati. Sehingga menumpahkan air mata. Pengalaman yang tentu saja membuat jamaah merasa lega dan senang. Dan mudah-mudahan menambah rasa cinta kepada Baginda Nabi.







