PUASA MELEJITKAN PRODUKTIFITAS KERJA
oleh : Akhmad Muwafik Saleh
Ibadah puasa Ramadhan selain untuk mendekatkan diri menuju tercapainya tujuan penciptaan juga sekaligus melatih peningkatan produktifitas kerja. Terdapat beberapa indikator bahwa nilai dalam ibadah puasa ramadhan yang mengindikasikan pada tercapainya produktifitas kerja tersebut. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari dua sudut pandang : pertama, makna tersirat dari teks diwajibkannya puasa. Kedua, pesan dari lintasan sejarah yang terjadi dalam bulan ramadhan.
Pesan di Balik Teks
Kewajiban puasa ramadhan diabadikan oleh Allah swt dalam al quran surat al Baqarah ayat 183, yang menyatakan :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah, Ayat 183)
Toto Tasmara dalam bukunya Transendental Intelligent (Kecerdasan Transendental) memakna taqwa dengan pemgertian sikap bertanggungjawab penuh atas segala potensi yang melekat dalam diri seorang mukmin. Taqwa oleh beliaunya dimaknai demgan Responsibility (sikap tanggungjawab). Yang memiliki makna respon to ability, sebuah respon atas kemampuan yang dimiliki, bahwa setiap individu telah dititipkan kemampuan oleh Allah swt maka orang yang bertaqwa adalah mereka yang mampu merespon secara positif setiap kemampuannya dengan cara yang kreatif sehingga kemampuannya dapat teroptimalkan dengan baik dalam menghasilkan produktifitas.
Seorang yang diberi kemampuan dalam bidang olah raga maka dia memiliki tanggungjawab mewujudkan prestasi maksimal atas potensinya tersebut, misal sebagai juara dalam setiap kompetisi. Seseorang yang diberi kemampuan menulis maka dia memiliki tanggungjawab bagaimana mampu menghasilkan tulisan yang dapat memberikan kemanfaatan besar bagi yang lain. Demikian pula seseorang yang diamanahi oleh Allah dengan sebuah jabatan, maka dia diharapkan mampu menjalankan amanah kepemimpinannya dengan penuh rasa tanggungjawab dan menjadi jalan kemashlahatan bagi organisaai dan sesama.
Taqwa dalam pengertian ini adalah tindakan implementatif yang dirasakan dampak kebaikannya bagi diri dan sekitarnya secara maksimal sehingga keberadaan dirinya benar-benar bernilai kontributif. Hal ini sebagai dampak dari kemampuan dirinya dalam berdisiplin dengan komitmen ketaatan.
Puasa yang dlakukan di bulan Ramadhan sejatinya adalah menciptakan pribadi-pribadi produktif yang mampu mewujudkan potensi dirinya itu secara maksimal melalui manejemen waktu yang baik serta menejemen diri yang produktif.
Pesan dalam lintasan sejarah
Apabila kita membuka lembar-lembar sejarah umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW hingga hari ini. Maka kita akan menemukan jejak sejarah bahwa banyak peristiwa besar dan pencapaian-pencapaian besar terjadi pada bulan Ramadhan disaat seorang mukmin berpuasa. Peristiwa bersejarah yang membersamai bulan Ramadhan tentunya adalah turunnya Alquran baik secara inzal (keseluruhan) ataupun secara tanzil (bertahap). Secara inzal yaitu alquran dirurunkan dari laukh mahfudz ke langit dunia yang terjadi pada malam lailatul qadar. Selanjutnya secara tanzil yaitu dari langit dunia diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad dengan perantara Malaikat Jibril dengan ayat pertama kali yang turun pada tanggal 17 Ramadhan yang kemudian selanjutnya diperingat dengan hari nuzulul quran.
Peristiwa bersejarah lainnya adalah perang kaum muslimin dengan orang kafir pertama kali adalah perang badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan di tahun ke 2 hijriyah. Perhatikan bagaimana ummat Islam saat itu mencapai kemenangan besar sekaligus sebagai pembuka bagi kemenangan-kemenangan selanjutnya, itupun terjadi disaat kaum muslimin sedang berpuasa. Artinya puasa tidak menghalangi untuk menghasilkan prestasi dan produktifitas maksimal.
Peristiwa lainnya dalam konteks kebangsaan kita meneguhkan akan pesan produktifitas ini bahwa proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang diperjuangkan dalam kurun waktu yang sangat panjang oleh para ulama mujahid bangsa ini dan para pahlawan bangsa juga dibacakan deklarasinya pada tanggal 17 Agustus 1945 disaat kaum muslimin Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa.
Berbagai fakta diatas meneguhkan bahwa puasa Ramadhan sejatinya adalah momentum terbaik untuk menunjukkan dan menghasilkan produktifitas terbaik. Karena disaat seseorang sedang berpuasa maka perut sebagai jalan hawa nafsu ditekan secara maksimal dan kemudian otak dan hati diaktifkan untuk menghasilkan produktifitas tertinggi melalui panduan aktifitas spiritualitas yang sedang dijalaninya. Sebuah pandangan yang keliru manakala selama berpuasa seseorang lebih banyak mengisi harinya dengan tidur dan bersantai. Sejarah bukti sejarah menunjukkan bahwa pada saat bulan Ramadhan itulah berbagai produktifitas dihasilkan. Hal ini sangatlah memungkinkan terjadi karena saat itu spiritualitas sedang diaktifkan dan mencapai puncaknya melalui amaliah ibadah puasa.
Sehingga apabila seseorang tidak mampu menghasilkan produktifitas kerja maksimal selama bulan Ramadhan maka tentu patut dipertanyakan kembali tentang keadaan puasa kita. Disaat perut kosong dan “mati” maka harusnya hati nurani yang akan menggantikan untuk memghidupkan potensi kemanusiaan kita. Bagaimana dengan diri kita ?.
—————————-
*Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang ; Dosen FISIP UB, Sekretaris KDK MUI Propinsi Jawa Timur, Motivator Nasional Bidang Komunikasi Pelayanan Publik, Penulis 16 Buku Best Seller







