PERJALANAN KITA MASIH SANGAT PANJANG

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

CAHAYA FAJAR | PERJALANAN KITA MASIH SANGAT PANJANG

Oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Apakah kita mengira bahwa kehidupan yang kita lalui saat ini adalah sesuatu yang final ?, seakan bahwa kehidupan dunia ini adalah akhir dari segalanya, sehingga kita merasa bebas melakukan apapun tanpa dosa bahkan berani menantang dosa. Dan apakah kita mengira bahwa kematian adalah akhir dari segalanya ? Dan setelah kematian tidak ada ada proses apapun ?, jika sudah mati ya mati, seakan tidak ada pertanggungjawaban. Padahal semua itu adalah pemikiran yang salah.

Jika diibaratkan dengan sebuah games, maka saat ini kita sedang berada diperjalanan level yang ketiga dari seluruh perjalanan panjang yang telah dan akan kita lalui. Ketahuilah bahwa saat ini kita sedang berada ada di level games yang ketiga yaitu kehidupan di Bumi setelah sebelumnya kita telah melalui 2 kehidupan yaitu alam roh dan alam kandungan yang dititipkan melalui rahim ibu kita. Kemudian apabila kita cermati perjalanan hidup yang akan dilalui oleh diri kita dan semua manusia maka setidaknya ada sebelas level atau dua belas level lagi yang akan kita lalui. Sementara saat ini diri kita masih berada di level ke 3 dari total 14 hingga 15 level perjalanan yang akan dilalui oleh manusia dari perjalanan panjang kehidupan.

Perjalanan kehidupan manusia diawali dari kehidupan arwah. Di saat Manusia masih berwujud ruh di awal penciptaan. Allah memberikan penjelasan,

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insaan, 76 : 1)

Sesuatu yang belum berwujud (alam arwah) dan pada saat itu Allah menciptakan Nabi Adam sebagai manusia lertama di muka bumi. Pada saat itu pula lah Allah telah menciptakan ruh keturunan Adam dan dan kemudian mengambil persaksian atas mereka. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ;

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ، فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا مِنْ ذُرِّيَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَجَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصًا مِنْ نُورٍ، ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ ذُرِّيَّتُكَ

Sewaktu menciptakan Nabi Adam, Allah mengusap punggungnya. Maka berjatuhanlah dari punggungnya setiap jiwa keturunan yang akan diciptakan Allah dari Adam hingga hari Kiamat. Kemudian, di antara kedua mata setiap manusia dari keturunannya Allah menjadikan cahaya yang bersinar. Selanjutnya, mereka disodorkan kepadanya. Adam pun bertanya, “Wahai Tuhan, siapakah mereka?” Allah menjawab, “Mereka adalah keturunanmu,” (HR. Al-Tirmidzi).

Hal demikian dijelaskan pula oleh Allah dalam FirmanNya bahwa manusia semenjak awal penciptaan, telah dimintai persaksian dan kesepakatan untuk kehidupan kelak yang akan dilaluinya.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (serayaberfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. (QS. Al A’raaf, 7 : 172)

Setelah kehidupan ruh, kemudian diletakkanlah ruh tersebut pada jasad di dalam rahim seorang ibu. Inilah alam kedua yang dilalui oleh setiap manusia sebelum akhirnya berada di muka bumi ini. Kehidupan di dunia ini ini bukanlah akhir dari segalanya. Ia bukan realitas yang final, dunia hanyalah tempat berhenti sejenak guna mengumpulkan bekal untuk melanjutkan perjalanan panjang. Setelah kematian, maka Inilah kehidupan sesungguhnya dimulai.

Manusia akan mengawali perjalanan panjangnya dari alam kubur, hingga hancurnya alam semesta (kiamat). Dilanjutkan dengan hari kebangkitan, kemudian massa dikumpulkan dan menunggu di padang mahsyar, lalu pemberian syafaat yaitu berupa pengajuan proposal keringanan kepada Allah, selanjutnya Hisab, kemudian pemberian kitab ( bagi yang berbuat baik akan menerima kitab nya dari sisi kanannya). Sementara yang berbuat buruk akan menerima kitab nya dari sisi kirinya. Kemudian Mizan yaitu menimbang segala amal baik dan buruk dan selanjutnya adalah Telaga dan kemudian jembatan (shirath). Dan terakhir yang ke empat belas dan lima belas adalah sorga dan neraka. Jika seseorang adalah orang yang selamat saat menapaki shirath maka ia akan langsung memasuki surga. Sebaliknya jika termasuk orang yang tidak selamat maka ia akan terjatuh ke neraka.

Seorang muslim maka ia pasti akan memasuki sorga. Bagi mereka yang berdosa (dhalimun linafsihi), bisa jadi dia akan memasuki neraka terlebih dahulu sesuai dengan beban dosa untuk dibersihkan atas segala dosa dan kesalahannya di neraka sebelum dirinya memasuki sorga. Sementara bagi seorang yang kafir dan berbuat syirik maka ia akan tinggal di neraka selamanya.

Untuk itu, alangkah beruntungnya seseorang selama di dunia mampu menahan diri dari godaan syetan dan selalu mengerjakan kebaikan karena ia akan memperoleh ampunan dan derajat yang tinggi di Sisi Allah swt berupa sorga. Ibarat seseorang yang tersesat di dunia maka ia masih ada kesempatan untuk mencari jalan yang benar. Namun jika tersesat di akhirat maka tidak ada kesempatan untuk kembali. Karena itulah, kerjakan amal ketaatan dan kepatuhan kepada Allah swt. Jauhi kemaksiatan dan kemungkaran, jangan sekali kali berani menentang dosa terlebih menentang neraka. Tidak jarang disaat nafsu menguasai diri, terungkap ucapan, “Neraka pun aku berani menantangnya”, yang artinya siap dan berani melakukan tindakan yang keluar dari syariat dan berani masuk sorga. Suatu ucapan dan tindakan kesombongan didasari atas kebodohan diri. Mereka yang bersikap demikian mengira neraka adalah ringan. Padahal paling ringannya siksa neraka adalah apabila seseorang berdiri di atas bara api dengan bawah kakinya maka yang mendidih adalah otaknya. Na’udzubillahi min dzalik.

Untuk itu, marilah diri kita jaga dan juga keluarga kita dari neraka dengan menjalani ketaatan dan kepatuhan atas agama Allah ini agar kelak diri kita diselamatkan oleh Allah swt dari siksa nerak dan dimasukkan ke sorganya tanpa dihisab. Aamiin

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 22.07.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com

Masukkan kata pencarian disini