Para Pemula

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

Lapis-lapis Kebajikan Ramadhan: Para Pemula

  Sa’ad bin Abi Waqqash sangat berbakti kepada Ibunya yang bernama Hamnah binti Sufyan bin Abi Umayyah. Ia tidak pernah mambangkang, apa pun yang dihendaki ibunya. Tiap pagi, bersama saudara-saudara yang lain, ia selalu makan sama-sama.

Tetapi, hari itu wajah Sa’ad kelihatan muram. Ia telah mendengar, tokoh Quraisy yang sangat dipujanya, Abu Bakar telah memeluk agama yang dibawa Muhammad, kemenakan Abu Thalib. Begitu pula Ali dan Zaid bin Haritsah. Dari Abu Bakar ia telah memperoleh keterangan sejelas-jelasnya tentang agama itu, bagaimana caranya beribadah yang benar, memuji Tuhan yang benar, yaitu Allah swt. Dan akalnya yang cerdas ikut membenarkan agama itu. Sudah lama ia merasa tersiksa kalau bersama ibunya meneyembah-nyembah berhala dan patung-patung yang membisu. Mana mungkin Lata, Manata, dan Uzza, betapa pun raksasanya arca mereka, dapat berkuasa untuk dipuja. Padahal arca-arca itu dibikin manusia dan diperjual-belikan. Apakah mungkin Tuhan yang diperjual-belikan bisa mengatur kehidupan?

Karena itu, secara diam-diam ia pun memeluk agama Islam. Ia tidak berani terang-terangan untukl menjaga perasaan ibunya yang sangat setia kepada agama nenek-moyang.

Namun, pada suatu hari, ketika ia sedang bersujud di tikar sembahyang, beribadah kepada Allah, ibunya yang amat dicintainya itu secara tidak sengaja memergokinya. Dengan mata terbelalak murka ibunya menegur, “Anakku, apa yang kamu lakukan itu?”

Sa’ad belum selesai bersembahyang. Karena itu ia tidak menjawab. Setelah selesai, barulah ia menghadap ibunya dan menjawab, “Saya sedang beribadah kepada Allah, Tuhan yang esa, Ibu.”

Hamnah makin berang dan berduka cita. “Jadi, engkau telah meninggalkan agama nenek-moyang? Tidakkah engkau takut bakal dikutuk para berhala?”

“Berhala-berhala itu cuma patung yang kita bikin sendiri, Ibu. Mereka tidak memberi manfaat, dan tidak pula menyebabkan bahaya atas kita,” jawab Sa’ad.

“Anak durhaka. Aku tidak rela anakku menjadi pengikut Muhammad.”

Dengan halus Sa’ad menyahut, “Maaf, Ibu. Muhammad adalah utusan Allah. Dan Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang sebenarnya, yakni Allah Azza wa Jalla. Ia sendiri. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Ibu Sa’ad kian marah. Ia mengancam, apabila Sa’ad tidak mau kembali kepada kepercayaan lama, ia akan mogok makan dan minum. Ia akan menyiksa diri sampai mati. Kecuali jika Sa’ad bersedia keluar dari agama Muhammad.

Ancaman ini ternyata bukan bual kosong belaka. Ibu Sa’ad betul-betul tidak mau makan dan minum selama beberapa hari. Sampai badannya kurus kering dan matanya kuyu. Sa’ad sudah membujuk-bujuknya tiap hari, dan menyediakan makan-minumnya dengan penuh kasih saying, namun ibunya bersikeras pada pendiriannya.

Sa’ad memang tidak teragukan kecintaan dan kebaktiannya kepada orang tua. Namun, cinta dan baktinya kepada Allah jauh lebih besar dari apapun di dunia ini. Maka pada suatu hari berikutnya, tatkala dengan napas tersengal-sengal ibunya berkata, “Sa’ad, kalau engkau masih membandel juga tidak mau menyembah Latta, Manatta, dan Uzza, biarkanlah aku mati sekarang juga,” pemuda itu menunduk. Dengan bibir gemetar ia menjawab, “Ibu, di dunia ini tidak ada yang lebih berharga bagi Sa’ad kecuali Ibu. Tetapi, untuk ingkar dari Islam, walaupun misalnya Ibu mempunyai seratus nyawa dan nyawa itu keluar satu demi satu, jangan harapkan saya bergeser dari keyakinan dan keimanan saya, bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa Tuhan yang patut disembah hanyalah Allah. Sekarang terserah, bagaimana keputusan serta kebijaksanaan Ibu sendiri.”

Hamnah menangis tersedu-sedu. Kejadian ini pun terdengar oleh Rasulullah. Beliau ikut berduka. Sampai akhirnya turun firman Allah melalui surah Luqman ayat 14 dan 15 yang isinya mewajibkan setiap anak berbakti kepada orang tuanya meskipun mereka tidak mau seagama dan seiman, terutama kepada Ibu yang telah mengandungnya dengan susah payah hingga menyusuinya selama dua tahun.

Dengan turunnya ayat itu, Sa’ad lalu bersujud di kaki ibunya sambil memohon ampun. Diceritakannya ayat tersebut kepada Ibunya, bahwa selama ini sikapnya dianggap salah oleh Tuhan.

Mendengar keterangan Sa’ad tersebut, dan menyadari alangkah mulianya ajaran Islam yang disebarkan oleh Muhammad, sampai demikian tingginya menghormati kedudukan kaum ibu, Hamnah binnti Suryan bin Umayyah pun luntur kekerasan hatinya. Dengan penuh kesadaran ia memeluk agama Islam dan hidup sejahtera bersama anak-anaknya.

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.

Masukkan kata pencarian disini