PANDEMI DAN HILANGNYA RUH PENDIDIKAN
Oleh : Akhmad Muwafik Saleh
Salah satu yang paling terdampak selama pandemi covid-19 adalah dunia pendidikan. Semenjak pandemi menerpa negeri ini, seketika itu pula sekolah-sekolah tutup, semua lembaga pendidikan tutup, para siswa dan mahasiswa dipaksa sekolah secara daring, para guru atau dosen juga dipaksa untuk familiar dengan teknologi pembelajaran berbasis multimedia dengan beragam aplikasinya seperti google meet, zoom meeting dan sebagainya. Serta memaksa para orang tua untuk turut mendampingi selama proses pendidikan berlangsung. Sehingga tidak hanya siswa yang stress dengan banyaknya tugas namun orang tuapun ikutan stress karena selama ini mereka tidak terbiasa dengan proses pembelajaran di dunia pendidikan ditambah pula dengan ribetnya model kurikulum yang selama ini terus berubah.
Setahun pandemi berlangsung, namun sekolah masih ditutup dan sekolah tetap dilaksanakan secara daring. Namun anehnya, pasar – pasar dan pusat – pusat pembelanjaan dibuka lebar, tempat – tempat wisata pun juga tidak ditutup sebagaimana sekolah sekalipun mereka berargumen bahwa jumlah pengunjung dilakukan pembatasan. Sehingga tidak sepenuhnya salah manakala pada sebagian masyarakat kemudian banyak yang mempertanyakan tentang keseriusan bangsa ini dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Disaat pasar, pusat pembelanjaan (mall) dan tempat wisata dibuka lebar sementara sekolah dan tempat-tempat pendidikan ditutup rapat maka seakan akal sehat ini memberontak dan mempertanyakan, “masih adakah rasionalitas dalam diri bangsa ini “, atau negeri ini sedang di persiapkan menuju pembodohan generasi secara sistematik dengan argumentasi kebijakan yang seakan rasional dibalik teror pandemi.
Rasionalisasikan apakah yang dapat menjelaskan disaat pasar dan pusat pembelanjaan dibiarkan ramai berjubel, begitu pula dengan tempat-tempat wisata yang semakin longgar dari protokol kesehatan sementara sekolah-sekolah dan tempat pendidikan semakin diperketat dan ditutup rapat? . Maka mungkin rasionalisasi yang dapat menjelaskannya adalah bahwa kepentingan kapitalis lebih utama daripada kepentingan pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kekuatan materi seringkali dapat mengalahkan segala apapun dan mengalihkan orientasi sebuah tujuan utama dari sebuah bangsa, terlebih pula jika pengelola negara tidak memiliki keseriusan dalam membangun kehidupan berbangsa yang adil dan beradab kecuali sebatas lip service saja diawal kampanye.
Disorientasi tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang termaktub dalam sila kedua Pancasila untuk melahirkan manusia Indonesia yang berjiwa adil dan berperadaban telah bergeser menjadi pribadi-pribadi yang berjiwa materialistik dan individualistik sebagaimana dunia barat. Semua ini tidak terlepas dari lemahnya kekuatan berbangsa dalam menghadapi gempuran liberalisme. Anehnya, para pengelola negeri ini telah secara ikhlas mengamininya.
Mewujudkan manusia yang adil dan beradab hanya dapat ditempuh melalui proses pendidikan yang mampu mengarahkan pada realitas yang demikian pula dengan lebih mengedepankan nilai-nilai adab dalam seluruh proses pendidikan yang dilakukan. Namun pandemi telah merubah segalanya. Proses pendidikan yang hanya lebih menekankan dan mengedepankan aspek konten dan rasionalitas sementara tidak dikawal dengan nilai adab dan bahkan cenderung meremehkannya maka hanya akan melahirkan manusia-manusia cerdas tanpa moralitas.
Perhatikan bagaimana dalam setahun pandemi, mungkin para siswa dan mahasiswa merasa semakin hari semakin enjoy belajar secara daring, namun sebenarnya sedang menyisakan banyak persoalan baru yang sangat substansial yaitu hilangnya adab dalam proses pembelajaran sebagai ruh pendidikan.
Ketidakhadiran fisik siswa atau mahasiswa di sekolah dan kampus dalam model sekolah atau kuliah daring (online) tentu bukanlah sebuah persoalan serius. Namun yang paling serius nan tragis adalah manakala akhlaq telah hilang dalam proses pendidikan yang dilakukan secara daring ini. Jika dalam pembelajaran luring atau tatap muka, seorang siswa dianggap masuk kelas manakala secara fisik mereka berada di dalam kelas, mendengarkan dengan seksama penuh khidmad penjelasan dari para guru atau dosen. Maka hari ini, adab yang demikian tidak akan kita jumpai atau setidaknya para guru dan dosen sangat kesulitan mengontrol sikap siswa untuk bersikap yang demikian. Para siswa dan mahasiswa tidak lagi memperdulikan adab dalam proses pembelajaran. Bagaimana mungkin mereka melakukan kesibukan lainnya dengan meninggalkan sang guru sendirian menjelaskan ilmu di depan kamera sementara mereka mematikan kamera (off cam) saat proses pembelajaran daring. Fenomena tidak hanya terjadi di dunia pembelajaran daring sekolah namun di semua kegiatan daring lainnya seperti ceramah, seminar dan sebagainya.
Mungkin fenomena off camera saat kegiatan daring ini sepele, namun inilah gambaran hilangnya adab dalam pembelajaran. Murid tidak lagi mempedulikan adab akhlaq dalam memperoleh ilmu. Sementara adab dan akhlaq adalah ruh daripada ilmu. Betapa banyak para ulama yang telah menghabiskan waktunya untuk mendalami akhlaq terlebih dahulu daripada ilmu. Karena memang akhlaq adalah wadah dari ilmu. Apapun dapat disimpan dengan baik apabila telah disiapkan tempat atau wadahnya terlebih dahulu. Apabila adab dan akhlaq telah tercerabut dari dunia pendidikan maka hilanglah substansi pendidikan. Maka proses pendidikan hanya akan melahirkan manusia cerdas tapi minus moralitas, memiliki kompetensi rasional namun lemah spiritual, pandai dalam penguasaan materi pembelajaran namun lemah kepedulian atas lingkungan dan sekitar. Semua ini karena ruh telah lepas dari dunia pendidikan kita.
Sementara karakter berbangsa itu dibangun oleh perpaduan rasionalitas, emosionalitas dan spiritualitas yang seimbang melalui proses pendidikan yang membebaskan dan menyadarkan serta mengedepankan nilai-nilai adab dan akhlaq. Lalu akankah dunia pendidikan kita kehilangan ruhnya sebagaimana virus covid 19 telah banyak mengantarkan manusia menuju ajalnya. Wallahu a’lam
—————————-
*Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang ; Dosen FISIP UB, Sekretaris KDK MUI Propinsi Jawa Timur, Motivator Nasional Bidang Komunikasi Pelayanan Publik, Penulis 16 Buku Best Seller







