Orang Yang Membuat Rosululloh Turun dari Mimbarnya

Artikel ini menampilkan akhlak Rasulullahﷺ.
mimbar

Orang Yang Membuat Rosululloh Turun dari Mimbarnya

“Ia memperkenalkan diri sebagai orang asing yang belum paham tentang agama Islam dan memohon kepada Rosululloh agar mengajarinya. Rosululloh pun langsung menghentikan khutbah beliau dan turun dari mimbar.”

Abi
Tangkapan layar Taklim Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin, Kitab Shahih Muslim pada hari Jumat (12/12/2024) di Surabaya. (Youtube EnhaTV)

Rosululloh adalah seagung-agungnya manusia. Jika beliau sudah berbicara apalagi berkhutbah, maka para sahabat pasti mendengarkan dengan seksama. Mereka menunduk takzim hingga andai ada burung hinggap di atas kepala mereka, niscaya burung tersebut tidak akan terganggu karena begitu khusyuknya para sahabat. Namun, suatu saat ada seseorang yang karenanya, Nabi memberhentikan khutbahnya dan turun dari mimbar. Siapakah dia? Mari kita simak penjelasan Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin dalam taklim beliau pada hari Jumat (13/12/2024) di Sentra Dakwah Al Haromain, Ketintang, Surabaya.

Lihat Video: Ngaji Abi Ihya’ – Shohih Muslim : كِتَابُ الْجُمْعَةِ – K.H. M. Ihya’ Ulumiddin

Kedatangan Seorang Badui

Dia adalah Abu Rifa’ah, seorang badui. Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim disebutkan suatu saat Nabi sedang berkhutbah.

قَالَ أَبُو رِفَاعَةَ انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَجُلٌ غَرِيبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِينِهِ لَا يَدْرِي مَا دِينُهُ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ حَسِبْتُ قَوَائِمَهُ حَدِيدًا قَالَ فَقَعَدَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا

Abu Rifa’ah berkata; “Aku tiba di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berkhutbah. Lalu aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ada orang asing yang sengaja datang kepada Anda untuk bertanya tentang agama, ia tidak tahu tentang agamanya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangiku dan memutuskan khutbahnya. Ketika beliau sampai di dekatku, diberikanlah sebuah kursi—aku memperkirakan kaki-kakinya terbuat dari besi—untuk beliau duduki. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di kursi tersebut dan mengajarkan kepadaku perihal agama yang telah diajarkan Allah kepada beliau. Setelah itu, beliau meneruskan khutbahnya hingga selesai.” (H.R. Muslim)

Di tengah-tengah khutbah beliau, datanglah Abu Rifa’ah dan langsung menyela khutbah Rosululloh. Ia memperkenalkan diri sebagai orang asing yang belum paham tentang agama Islam dan memohon kepada Rosululloh agar mengajarinya. Rosululloh pun langsung menghentikan khutbah beliau dan turun dari mimbar.

Abi
Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin bermushofahah dengan jamaah yang ahdir saat Taushiyah Syahriyah Desember pada hari Ahad (1/12/2024) di Sentra Dakwah Al Haromain, Ketintang, Surabaya. (TIH)

Akhlak Rosululloh

Abi menjelaskan jika ini adalah akhlak Rosululloh yang senantiasa menghargai orang lain dan menyenangkannya. Di dalam keterangan lain, Nabi jika berbicara dengan orang lain, maka wajah dan badan beliau selalu menghadap lawan bicaranya. Dengan begitu, seseorang akan merasa mendapat perhatian dari Nabi. Terlebih, di kisah Abu Rifa’ah ini, Nabi sampai menghentikan khutbahnya dan turun dari mimbar menghampiri Abu Rifa’ah.

Setelahnya, para sahabat menyiapkan kursi yang kaki-kakinya terbuat dari besi untuk diduduki Nabi. Sambil duduk di atas kursi, Nabi menjelaskan kepada Abu Rifa’ah perihal yang ia tanyakan higga tuntas. Setelahnya, Nabi kembali ke mimbar dan melanjutkan khutbahnya.

Di dalam taklimnya, Abi membacakan sebuah sarah yang menyebutkan jika khutbah pada saat itu kemungkinan bukan khutbah jumat. Nabi sendiri sering mengumpulkan sahabat dan berkhutbah di depan mereka jika ada suatu urusan atau hal yang perlu diumumkan. Khutbah seperti ini disebut khutbat al-amri. Nabi juga biasanya berkhutbah jika ada suatu hajat seperti pernikahan, dan ini disebut khutbat al-hajah.

Disebutkan pula oleh Abi jika ada yang berpendapat, isi khutbah Nabi pada saat sebelum ditanya Abu Rifa’ah masih berhubungan dengan jawaban Nabi padanya. Sehingga, tidak masalah apakah Nabi berbicara dari atas mimbar ataupun saat di kursi karena materi yang disampaikan masih dalam satu topik yang sama.

Ambil pelajaran

Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran tentang menghargai dan menyenangkan orang lain dari cara Nabi menyambut Abu Rifa’ah. Hal yang senada juga menjadi syakilah Abi dan diajarkan kepada jamaah, yakni senantiasa nguwongno uwong, nyenengno uwong, nggatekno uwong, lan ora nggelakno. Selain itu, kesigapan sahabat dalam menyiapkan kursi untuk diduduki Nabi juga mengajarkan kesigapan dan cekatan dalam berkhidmah.

Nabi memang didesain oleh Alloh memiliki sifat kasih sayang kepada umatnya.

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Al-Ahzab: 43)

Di ayat tersebut, meski sebagian besar menafsiri sifat rohim (kasih saying) sebagai milik Alloh, namun terdapat pula ulama yang menafsiri jika sifat rohim yang dimaksud adalah milik Rosululloh. Hal itu sejalan dengan ayat terakhir Surat Al-Taubah.

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Al-Taubah: 128)

 

Disarikan dari Taklim Kitab Shohih Muslim oleh Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin pada hari Jumat, 12 Desember 2024.

Penyunting: TI Haryadi

 

Masukkan kata pencarian disini