OJOK NGRESULO : NIKMATI UJIAN HIDUP

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

CAHAYA FAJAR | OJOK NGRESULO : NIKMATI UJIAN HIDUP

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Sejati hidup ini adalah ujian, setiap persoalan atau ujian yang kita dihadapi seseungguhnya adalah untuk membuat kita lebih bertahan dalam menjalni kehidupan. Ujian atau persoalan yang kita alami dalam hidup adalah sebuah tantangan yang dengannya kita bertahan untuk terus hidup, karena merasa ada hal yang harus diselesaikan, disaat tantangan itu tidak ada maka besar kemungkinan kita akan terlena dengan suasana dan tidak mampu lagi untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Namun yakinlah bahwa apabila kita bersungguh-sungguh dalam menghadapi setiap ujian itu, maka dengan izin Allah kita pasti tampil sebagai pemenang yang mampu keluar dari masalah itu dengan gagah. Allah berfirman dalam Alquran :

Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan (adalah) untuk menguji kamu, siapakah diantara kamu yang terbaik amalnya..” (Q.S Al Mulk:3)

Berdasarkan informasi Allah tersebut menunjukkan bahwa hidup memang penuh dengan ujian karena ujian menjadikan hidup kita lebih hidup, dengan ujian menjadikan kita bisa bertahan. Ujian adalah cara Allah mempersiapkan diri kita untuk mewujudkan makhluk ciptaan yang terbaik. Sehingga dengan ujian itu Allah melatih diri kita melakukan hal-hal aktivitas terbaik selama ujian berlangsung. Dan hanya mereka yang bersikap terbaik selama ujian, dialah yang akan keluar sebagai pemenang.

Ujian adalah sesi antara dari dua realitas, yaitu realitas masa lalu dan realitas masa depan. Ujian adalah sebuah tangga sukses yang diharapkan. Ibarat seorang anak sekolah yang sebelumnya masih kelas satu, agar dia bisa naik ke kelas dua maka sesi antara kedua realitas itu adalah ujian. Kemudian dari sanalah diketahui siapa yang berhasil melalui ujian dengan cara yang terbaik dan hasil yang terbaik. Jika si anak mampu melewati ujian dengan hasil terbaik maka dia akan dinyatakan naik kelas dengan peringkat tertentu diantara rekan-rekannya yang lain. Mereka yang berhasil tentulah mereka yang telah mempersiapkan diri lebih matang sebelum menghadapi ujian dan bersikap yang terbaik disaat ujian itu berlangsung. Untuk itu sikap seseorang dalam menghadapi ujian menjadi tolok ukur berhasil tidaknya dia melewati masa-masa kritis kenaikan kelas tersebut.

Ujian (fitnah) berasal dari kata bahasa Arab fa-ta-na yang berarti imtihaan, ikhtiyaar, ibtilaa’, yang artinya ujian. Kalimat fatanu adz-dzahaab berarti membakar emas untuk memurnikannya, artinya emas perlu dibakar (diuji) dulu sampai ketahuan kualitasnya. Demikian juga pembakaran batu bata dan pencucian pakaian dilakukan untuk menguatkannya dan membersihkannya. Demikian pula ujian bagi manusia diberikan untuk menguatkan jiwanya dan membersihkan dosanya dan keluar sebagai pemenang. Artinya setiap ujian adalah untuk memastikan seberapa derajat kualitas keimanan (keyakinan) seseorang akan hal yang diimaninya (diyakininya). Sebagaimana Firman Allah :

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja (disaat) mereka mengatakan “kami beriman” dan mereka tidak diuji?” (QS. AL ‘Ankabuut:2).

Demikianlah setiap hal yang kita yakini, akan diuji oleh Allah, tentang seberapa kuat kita meyakininya. Rasulullah SAW adalah orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah, tapi ia juga orang yang paling banyak dan paling berat cobaannya. Para nabi as yang lain juga adalah manusia-manusia paling mulia dan paling dikasihi Allah SWT tapi mereka juga adalah yang paling banyak dan berat dicoba oleh Allah SWT. Kafilah ini lalu diikuti dengan kafilah para ulama salaf yang shalih, mereka adalah yang paling banyak dan berat pula cobaannya jika dibanding manusia lainnya. Imam Syafi’i mengalami pengusiran dari Kufah ke Mesir, Imam Ahmad dipenjara dan disiksa bertahun-tahun, dan Imam Malik disiksa sampai mematahkan kedua tulang bahunya.

Hikmah dari setiap ujian yang dihadapi seseorang akan selalu meningkatkan ketinggian dan kemuliaannya disisi Allah dan menguji kebenaran keimanannya. Hikmah yang lain dari ujian adalah bahwa seseorang menjadi semakin matang dan kuat, serta dengan adanya ujian menjadikan seseorang bertawakkal dan semakin berserah diri kepada Allah SWT. Mungkin sebelum datangnya ujian seseorang jarang berkomunikasi dengan Allah, jauh dari ibadah, solat malam jarang dilakukan, bahkan kedekatan dan doa jarang pula dipanjatkan, namun semenjak ujian itu datang, dirinya menjadi lebih dekat dengan Allah, ibadahnya semakin kuat dan solat malamnya dilakukan. Serta tidaklah cobaan yang datang kepada seorang, kecuali hal itu baik baginya sepanjang ia bersabar dan bersyukur, sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Menakjubkan urusan seorang mu’min, jika ia mendapatkan ni’mat maka ia bersyukur dan syukur itu sangat baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah maka ia bersabar dan sabar itu sangat baik baginya.” (HR Muslim & Tirmidzi)

Lihatlah istri Rasulullah SAW, Aisyah ra yang mendapatkan ujian yang sangat berat dalam sejarah Islam dengan fitnah yang keji, tetapi Allah SWT menyatakan bahwa hal tersebut sangat baik baginya. Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin-nya menceritakan tentang kisah dirinya sendiri, sangkaannya bahwa ia sudah mencapai kesempurnaan dalam bersabar, maka ia berdoa pada Allah untuk diberikan ujian sekehendak-Nya, maka Allah-pun mengujinya dengan ujian yang remeh, yaitu tidak dapat buang air kecil, maka iapun tidak mampu menanggung ujian tersebut, maka iapun bertaubat dan Allah SWT menyembuhkannya, maka iapun keluar ke jalan-jalan sambil berkata pada setiap anak kecil yang dijumpainya: “Pukullah pamanmu yang bodoh ini nak!”

Demikianlah bahwa ujian yang dialami setiap orang tentu berbeda sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing. Namun bagaimanapun ujian adalah sebuah kemestian yang pasti dialami oleh setiap insan untuk mengetahui tingkat keimanan seseorang dan meningkatkan daya tahan dalam menjalani kehidupan. Bahkan ujian adalah tanda cinta Allah kepada Hambanya, untuk itu bersyukurlah dengan setiap ujian yang dihadapi karena hal itu menandakan bahwa Allah masih mencintai kita dan berkehendak untuk meningkatkan derajat kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Dia (Allah) akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Yaitu ridlo Allah. Keridhaan Allah swt sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.

Untuk itu hadapilah setiap ujian dengan lapang dada, penuhi dengan rasa syukur dan bahagia, maka ujian akan datang kepada kita ibarat sang kekasih yang siap mewarnai kehidupan ini karena memang hidup ini adalah ujian. Jika kita tidak bersedia menerima ujian dalam hidup ini maka segeralah keluar dari arena kehidupan, demikian kata bijak.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 21.07.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com

Masukkan kata pencarian disini