“Keterangan tersebut menandakan bahwa nafahat berupa pembebasan neraka tidak terjadi di 10 hari terakhir saja.”

SURABAYA, PERSYADHA –Ngaji Poso bersama Abi Ihya edisi kedua yang bertepatan dengan hari ke-10 Romadhon berlangsung dengan khidmat. Halaman Sentra Dakwah Al Haromain, Ketintang, Gayungan, Surabaya pada Hari Sabtu (28/2/2026) dipenuhi jamaah yang bersemangat menimba ilmu dari Abi. Ketika jam menunjukkan pukul 16.40 waktu setempat, Abi memulai ngaji dengan pembacaan dzikir jamai.
Setelah membaca dzikir jamai, Abi pun menyampaikan materi taklim di depan jamaah yang hadir. Ada tiga materi utama yang ditekankan Abi agar jadi perhatian jamaah yakni perlunya penunjuk jalan, pemaknaan hadits bulan Romadhon sebagai rahmat, maghfiroh, dan pembebasan dari neraka, serta pintu-pintu maghfiroh. Abi menjelaskan bahwa semua orang perlu penunjuk jalan atau rambu-rambu. Di dalam bahasa Arab diistilahkan sebagai “ma’alimu al-thoriq”. Rambu-rambu ini dipakai sebagai penunjuk menuju jalan keselamatan yakni jalan menuju Alloh subhanahu wataala.
Benarkah Nafahat Alloh terbagi 3 Waktu?
Berikutnya, mengenai hadits:
شَهْرُ رَمَضَانَ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
Artinya: “Bulan Ramadhan, awalnya rahmat, tengahnya ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. H.R. Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asakir, dan Baihaqi.
Menurut penjelasan Abi, hadits ini banyak dimaknai para penceramah sebagai pembagian nafahat Romadhon menjadi tiga bagian, 10 hari pertama berisi rahmat, 10 hari kedua berisi ampunan, dan 10 hari terakhir berisi pembebasan dari neraka. Padahal, makna sesungguhnya tidaklah demikian. Jika dikomparasikan dengan hadits lain,
لِلَّهِ عِنْدَ كُلِّ فِطْرٍ عُتَقَاءُ
“Pada setiap waktu berbuka, Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan (dari siksa neraka).” (H.R. Ahmad).
Keterangan tersebut menandakan bahwa nafahat berupa pembebasan neraka tidak terjadi di 10 hari terakhir saja. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa hadits pertama sebaiknya dijadikan motivasi agar senantiasa semangat dalam beribahad di bulan Romadhon baik di awal, tengah, maupun akhir. Abi menekankan, seluruh Romadhon penuh dengan rahmat, maghfiroh, dan pembebasan dari neraka, tidak terpisah-pisah tiap 10 hari.

3 Pintu Maghfiroh
Dengan demikian, penting bagi jamaah agar memanfaatkan kesempatan saat Romadhon. Terlebih, terdapat ancaman bagi orang yang gagal mendapat manfaat di Romadhon. Suatu ketika Rosululloh membaca “amiin” sebanyak tiga kali ketika naik ke mimbar. Ketika ditanya alasannya, Rosululloh menjawab bahwa Malaikat Jibril mendatanginya dan berdoa celaka bagi orang yang menjumpai Romadhon dan melewatinya tapi dosa-dosanya tidak diampuni, orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya tapi tidak bisa memasukkannya ke surga, dan orang yang ketika nama Rosululloh disebut di dekatnya, tapi tidak bershalawat.
Sebab itu pula, Abi menjelaskan tiga pintu besar maghfiroh, yaitu baik dalam bermuamalah dengan manusia, utamanya orang tua. Pintu lainnya yakni bermuamalah yang baik dengan Nabi dengan cara banyak membaca sholawat. Di antara dua pintu tersebut, ada pintu maghfiroh yang bisa diraih dengan cara memenuhi bulan Romadhon dengan amalan-amalan ibadah seperti qiyamullail, baca Al-Qur’an, dan banyak membaca wirid.
Kontributor: TI Haryadi







