Tadinya orang tua itu hidup berkecukupan, yaitu sewaktu anak dan menantunya masih hidup. Mereka bisa mengontrak sebuah rumah yang cukup besar selama tiga tahun.
Tetapi, ketika anaknya telah hamil enam bulan, ada telegram dari tempat kerja menantunya di Irian Jaya bahwa suami anaknya itu tewas dalam suatu kecelakaan. Semenjak itu fisik anaknya yang sedang hamil itu makin melemah, dan akhirnya ketika melahirkan, ketahanannya habis sama sekali. Maka orok yang baru saja dilahirkan itu pun menjadi anak yang tidak punya bapak dan ibu.
Sepeninggal anaknya nenek tua itu hanya hidup bersama cucu perempuannya yang makin hari makin lucu dan pintar. Untuk makan terpaksa dijual-jualnya barang-barang di rumah sampai akhirnya hampir tidak ada yang tersisa.
Ketika itu bulan Puasa hampir berakhir. Orang-orang lain sedang bergembira dan sibuk menyiapkan kue dan pakaian baru buat menyongsong datangnya Lebaran. Tetapi, nenek itu justru sedang kebingungan. Besok pagi kontrak rumahnya habis. Ia tidak mampu berpikir kemana akan mencari uang.
Terpaksa pagi-pagi sekali ia memberesi barang-barangnya yang tidak seberapa itu. Cucunya digandeng. Air matanya bercucuran, namun apa dayanya. Ia hanya memiliki sisa-sisa umur. Ia tidak punya apa-apa lagi selain badan tua dan sakit-sakitan.
Si cucu yang polos bertanya, “Mau kemana, Nek?”
Orang tua itu, sambil menahan perih dadanya, menjawab dengan tersenyum, “Jalan-jalan ke rumah saudara Nenek.”
“Naik apa?”
“Enakan jalan kaki saja.”
Maka berjalanlah mereka mengitari kota, tidak tahu mau kemana tujuannya. Menjelang sore anak kecil itu bertanya kelelahan, “Dimana rumah saudara Nenek?” Nenek itu hanya mengelus dada. Ia tidak bisa menjawab karena tangis telah menyekat lehernya.
“Inah capek, Nek. Inah lapar.” Mulai anak itu merengek-rengek minta makan.
Orang tua itu kebingungan. Ia mendekati seorang pemuda gelandangan. Mau minta-minta kepada orang-orang yang lewat, tidak sampai hatinya. Malu dan takut. Kepada pemuda itu ia berkata, “Nak, tolong jualkan kain ini,” sambil melolos selendangya yang sudah butut itu.
Pemuda itu menatap si nenek, dan kemudian memandangi Inah, cucunya. “Mana laku, Nek, kain sudah sobek-sobek begitu,” jawabnya.
Orang tua itu terdiam. Memang kainnya sudah amat jelek.
“Nenek lapar?” Tanya pemuda gelandangan itu.
Nenek tua itu menjawab, “Yang penting cucu saya ini.”
“Tunggulah di sini.”
Maka pemuda itu pun pergi sebentar. Ia bicara-bicara dengan seorang tukang warung. Waktu datang lagi ia membawa dua bungkus nasi. Diberikannya makanan itu. Nenek dan cucu itu pun makanlah dengan lahap.
Setelah selesai makan, pemuda itu bertanya, “Pulangnya ke mana, Nek?” Perempuan itu tidak bisa berkata apa-apa. “Saya tidak punya rumah.”
“Famili juga tidak?”
Nenek itu menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, tinggal saja bersama saya.”
“Hah?” teriak nenek tersebut kegirangan. “Terima kasih, Nak.”
Lalu mereka bertiga, setelah malam datang, berjalan beriringan menuju ke Jalan Kalilio. “Rumah Abang di sini?” Tanya si cucu.
Pemuda itu tersenyum, mengangguk.
“Di mana?”
“Itu, di bawah jembatan.”
“Hah?”
Mereka, nenek dan cucunya itu kaget, tetapi tetap senang. Sambil berjalan mereka bercanda dengan gembira.
Demikianlah, bersama pemuda gelandangan yang baik hati itu tinggallah nenek tersebut di kolong jembatan Kalilio bertiga dengan cucunya.[]
Oleh | Abdurrahman Ar-Rosidi.







