
“Sosok Robbani adalah sosok yang sangat memperhatikan dan serius mengajarkan ilmu-ilmu dasar dan hal-hal kecil sebelum ilmu lanjutan dan hal-hal besar.”
JEMBER, PERSYADHA – Rabu Wekasan atau Rabu terakhir di Bulan Shofar adalah waktunya penyelenggaraan Multaqo Sanawy bagi Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah. Pada tahun ini, himpunan alumni santri Abuya Al-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani tersebut menyelenggaraan kegiatan Multaqo Sanawy yang ke-34. Bertempat di Pondok Pesantren Assunniyyah, Kencong, Kencong, Jember, Multaqo Sanawy berlangsung selama dua hari, mulai hari Rabu (12/8/2026) hingga Kamis (13/8/2026).
Tema Pesantren dan Teladan Abuya
Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah membawa tema “Menjaga Relevansi Pesantren Dengan Ilmu, Adab, dan Keteladanan Abuya Al-Maliki” pada multaqo kali ini. Tema ini diangkat guna menyikapi isu terkini terkait pergeseran opini masyarakat terhadap lembaga pesantren. Pesantren sebagai pusat pendidikan agama di Indonesia sedang dihadapkan pada krisis kepercayaan dan sentimen negatif, terutama di media sosial, seiring naiknya isu-isu pembulian, kekerasan seksual, hingga kualitas sarana yang kurang memadai.
Lihat juga: Multaqo Sanawy ke-34 Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah
Sebagai perkumpulan alumni Abuya Al-Maliki yang mayoritas merupakan pengasuh pesantren, Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah bertekad memperbaiki dari dalam dengan mengajak abna Abuya (putra-putra Abuya, sebutan untuk santri dan alumni Abuya Al-Maliki) kembali meneladani sosok Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki. Hal ini juga merupakan bentuk konsistensi Hai’ah Ash-Shofwah dengan mengangkat teladan sosok Abuya semenjak beberapa multaqo terakhir.
Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki memang tokoh besar, ahli hadits, serta panutan yang telah dikenal secara mendunia. Keilmuan dan akhlak Sang Sayyid diakui tidak hanya oleh santri, alumni, dan muhibbin (pecinta), melainkan juga ulama-ulama besar dunia, akademisi, bahkan tokoh-tokoh yang berseberangan paham dengan Abuya. Oleh karena itu, refleksi pada bagaimana laku lampah Abuya menjalani dakwah dan perjuangan perlu terus didengungkan dimulai dari santri dan alumninya.

Pesan Al-Aminul Aam
Saat menyampaikan taujih Multaqo Sanawy ke-34 pada Rabu (12/8/2026), Al-Aminul Aam Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah, K.H. M. Ihya Ulumiddin mengajak para alumni Abuya untuk mengembalikan jati diri pesantren sebagai pusat ilmu dan adab. Pesantren harus mencetak generasi yang kuat iman, agama yang mendalam, serta berpengetahuan luas dan memiliki lifeskill sesuai bakat dan kebutuhan zaman. Ini sebagai respon dari menguatnya penggeseran pemahaman masyarakat untuk menjauh dari agama melalui isu dan opini yang dikemas sedemikian indah namun menipu.
K.H. M. Ihya Ulumiddin juga menyampaikan perlunya para ulama untuk menjadi pribadi yang robbani sebagaimana termaktub dalam Q.S. Ali Imron ayat 79. Sosok Robbani adalah sosok yang sangat memperhatikan dan serius mengajarkan ilmu-ilmu dasar dan hal-hal kecil sebelum ilmu lanjutan dan hal-hal besar. Ulama robbaaniy selalu konsisten melakukan perbaikan dan memberikan kemudahan. Sosok inilah yang dirasa ada pada diri Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki dan perlu dicontoh dalam menjalankan tugas dakwah.
Kesadaran meneladani guru ini juga bagian dari menghargai washilah, yakni perantara yang mengenalkan santri pada Alloh subhanahu wataala dan Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam. Harapan dari keteladanan ini adalah lahirnya generasi santri yang baik lagi alim, amil, mukhlish, dan takut kepada Alloh. Santri-santri yang lulus menjadi seseorang dengan semangat kuat dalam dakwah, menyebarkan agama, serta melayani masyarakat dan bangsa.
Kontributor: TI Haryadi







