Membina Remaja Melalui Spiritual Camp

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

Surabaya – Mulai Hari Jumat sore (24/11/2023) beberapa remaja putra mulai berdatangan ke Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah yang beralamat di Jl. Gubeng Kertajaya VD No.22, Kelurahan Airlangga, Gubeng, Surabaya. Mereka merupakan peserta kegiatan Spiritual Camp for Youth I Tahun 2023 yang diselenggarakan Bidang Pembinaan, Departemen Kema’hadan Pembinaan dan Dakwah, Yayasan Persyada Al Haromain. Tidak hanya remaja putra, peserta juga berasal dari kalangan remaja putri yang singgah di Pesantren Mahasiswi Baitul Hikmah. Pesantren ini hanya berjarak sekitar tujuh puluh meter dari Pesantren Mahasiswa (putra), lebih tepatnya di Jl. Gubeng Kertajaya VD No.47A, Surabaya. Pada edisi Spiritual Camp for Youth kali ini, Bidang Pembinaan sengaja memilih lingkungan Pesantren Mahasiswa dan Pesantren Mahasiswi Baitul Hikmah sebagai venue kegiatan karena jarak yang relatif dekat dari domisili peserta yang sebagian besar berasal dari Surabaya. Kedua pesantren tersebut menjadi tempat penginapan para peserta. Sementara itu, kegiatan utama diselenggarakan di Mushalla Nurul Hidayah, Jl. Gubeng Kertajaya VD No.18 dan Masjid Darussaslam di Jl. Gubeng Kertajaya VII Raya No.44, Surabaya. Kegiatan dimulai sejak hari Jumat (24/11) setelah shalat Isya dan berlangsung sampai hari Ahad sore (26/11) dengan membawa tema “Remaja Sholih Harapan Umat”.

Ustadz Ahmad Fatkhurrohman, S.E., selaku anggota Dewan Ahlu Syuro Yayasan Persyada Al Haromain diundang untuk memberikan nasihat dan motivasi bagi peserta dalam pembukaan acara pada Jumat malam (24/11) di Mushalla Nurul Hidayah. Di dalam pesannya, disampaikan pentingnya remaja untuk selalu mencari ilmu dan berteman dengan orang lain atas dasar ketaatan pada Allah. Pada diniharinya, hari Sabtu (25/11) peserta dibangunkan untuk melaksanakan kegiatan qiyamullail (shalat malam) berjamaah. Meski harus menahan rasa kantuk, peserta tetap antusias mengikuti kegiatan hingga datang waktu subuh. Pada hari kedua ini, peserta mendapatkan beberapa materi utama yaitu Fikih Air untuk Bersuci dan Tahsinul Wudhu (Memperbaiki wudhu) bersama Ustadz M. Tajuddin, S.Hum., M.Pd.I.; Jalan Menuju Iman bersama Ustadz Masykur Ismail, S.S.; dan Gharizah Tadayyun (Kecenderungan Beragama) bersama Ustadz Atho’ Maftuh. Mereka juga berdiskusi mengenai fenomena boikot produk-produk yang terafiliasi dengan negara Israel bersama Ustadz Fairuzzudin Zuhair, S.Si.. Kegiatan hari pertama ini berlangsung di Mushalla Nurul Hidayah. Sebelum datang waktu maghrib, seluruh peserta diarahkan untuk menuju Masjid Ampel di Jl. Ampel Masjid No.53, Surabaya untuk mengikuti kajian Kitab Al-Tadzhib fii Adillah Matn al-Ghayah wa al-Taqrib bersama Abina K.H. M. Ihya Ulumiddin. Kajian tersebut dilaksanakan di sisi selatan serambi Masjid Ampel. Pada hari Ahad (26/11), bertempat di Masjid Darussalam, para peserta megikuti pelatihan Kaifa Tusholli yang dipandu oleh Ustadz Masyhuda Al-Mawaz dari Kaifa Tusholli Training Center Pesantren Nurul Haromain Pujon. Pelatihan dilaksanakan mulai pagi hingga waktu Asar tiba. Peserta dilatih tata cara shalat sesuai riwayat hadist. Dengan begitu, peserta diharapkan dapat memperbaiki tata cara shalatnya agar lebih sempurna dan mampu bersikap toleran atas beberapa tata cara shalat yang ada di masyarakat umum. Acara kemudian ditutup dengan nasihat dan doa dari Ustadz Masyhuda. Beliau berpesan agar setiap peserta dapat terus menambah ilmunya, karena dengan ilmu, konsistensi (dalam beramal) akan senantiasa terjaga. Dengan ilmu pula, seseorang akan menjadi orang yang bertakwa dan berakal. Peserta dianjurkan menghafal beberapa ilmu sebagaimana para ulama menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi. Untuk dapat semakin merasakan manfaat ilmu maka harus ada sikap menghargai terhadap ilmu tersebut. Ilmu harus mewujud dalam amal. Setiap orang harus senantiasa menghindarkan diri dari kebodohan karena hal itu akan mendorong dan membawa seseorang pada sekian banyak risiko buruk seperti kesalahan, dosa, dan kemaksiatan. Ustadz Masyhuda juga mendorong agar setiap peserta berkumpul dalam komunitas yang berorientasi pada kebaikan. Hal itu untuk menjaga keistiqamahan dalam ibadah dan hal baik lainnya, karena dalam sebuah komunitas akan ada sikap saling mengingatkan.

 

Pewarta: TI Haryadi

Artikel Terbaru

eNHa TV

Masukkan kata pencarian disini