oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Islam bukan hanya sekedar mengajarkan umatnya untuk berpasrah tawakal dengan menyerahkan urusan kepada Allah, namun konsep ketawakalan dalam Islam lebih menekankan pada tindakan aktif untuk mencari berbagai solusi dalam menghadapi bencana atau musibah. Perhatikan bagaimana kisah seorang sahabat yang ditegur oleh Rasulullah sebab hanya mengandalkan model kepasrahan pasif, sementara Rasulullah memahami dengan konsep kepasrahan aktif, yaitu berusaha semaksimal mungkin yang mampu dilakukan kemudian berpasrah diri kepada Allah.

Adanya konsep Lockdown yang melarang seseorang untuk keluar dari wilayah yang terkena wabah ataupun masuk ke daerah wabah. Demikian pula dengan konsep sosial distancing yang mengatur jarak sosial antara individu dengan individu lainnya sebagaimana yang di anjurkan oleh Amr Bin Ash dalam menghadapi wabah bencana pada saat itu. Bahkan pula Rasulullah Saw melarang para sahabat untuk dekat-dekat dengan penderita kusta. sebagaimana dalam sabdanya:
“Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta” (HR al-Bukhari).
Semua tindakan ini adalah sebagai wujud dari konsep tawakal aktif itu sebab Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali ada upaya sungguh-sungguh dari kaum itu sendiri untuk merubah nasibnya.

Ketawakalan aktif dalam bencana mensyaratkan adanya usaha sungguh-sungguh yang disebut dengan ikhtiar. Ikhtiar dibagi dua yaitu ikhtiar lahir dan ikhtiar bathin. Ikhtiar lahir adalah setiap tindakan diupayakan melalui usaha-usaha secara fisik semisal melakukan proses pencegahan dan tindakan tindakan preventif lainnya atas suatu wabah yang terjadi. Sementara ikhtiar batin secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, yaitu berdoa dan tawakal. Ikhtiar lahir haruslah lebih didahulukan daripada hanya sekedar ikhtiar batin sekalipun ikhtiar batin mampu lebih menenangkan seseorang sehingga tidak salah jalan dalam melakukan ikhtiar lahir. Artinya, kedua jenis ikhtiar ini harus dilakukan secara bersamaan, terlebih khususnya sebagai sebuah tindakan dalam menghadapi wabah.

Setiap tindakan ikhtiar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil maksimal dalam melakukan ikhtiar tersebut. Sebagaimana dalam firman Allah :

وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُوراً
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha (berikhtiar) ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya (ikhtiarnya) dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Israa’ ayat-19)

Seseorang yang berikhtiar di dalam menghadapi musibah dengan mencari berbagai cara agar dapat keluar dari musibah ataupun bencana menandakan nilai kehambaan dirinya dan menjauhkan dari kesombongan. Hal demikian adalah syariat yang diajarkan oleh Allah agar manusia berupaya sekeras tenaga untuk dapat menghadapi musibah dengan penuh ketawakalan (aktif) dan tidak berpasrah diri begitu saja. Sebagaimana Firman Allah swt :

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ. لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri, (QS Al-Hadid, Ayat 22-23).

Untuk itulah di saat terjadi sebuah wabah atau bencana maka tugas manusia berikhtiar agar dapat menemukan jalan keluar untuk terhindar dari bencana, seperti halnya yang terjadi atas wabah covid-19. Maka Islam menganjurkan untuk berupaya menemukan obat penawarnya, solusi strategi menghadapinya agar dapat terhindar dari wabah tersebut. Semua ini adalah bentuk upaya agar manusia tidak dianggap sombong oleh Allah swt. Dapatlah dianggap sebagai suatu tindakan kesombongan disaat manusia hanya berpasrah diri saja dalam memghadapi bencana atau bahkan menantangnya dengan menghadapinya tanpa upaya untuk menghindarinya. Sikap demikian itulah yang dibenci oleh Allah swt dan dikategorikan dalam kesombongan sikap, sebagaimana dalam ayat di atas.

Perspektif teologis Islam amatlah seimbang dalam mengarahkan sikap manusia dalam menghadapi bencana yaitu dengan menganjurkan untuk bersabar dan bertawakkal, namun pula mendorong pula untuk bersikap realistik atas bencana melalui upaya menghindarinya dengan berupaya menemukan jalan keluar atas suatu bencana. Untuk itu dengan adanya wabah pandemi covid-19 yang terjadi maka hal ini adalah momentum untuk menghadirkan kreatifitas tentang bagaimana cara menghadapinya dan menemukan solusinya dengan bingkai ilmu pengetahun yang dimiliki oleh manusia. Hanya orang terbaiklah yang dapat keluar dari bencana wabah pandemi covid-19 ini.

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk, Ayat 2)

Wabah pandemi covid-19 adalah sebuah momentum untuk berfastabiqul khairat untuk menjadi manusia yang terbaik. Semoga setiap musibah, bencana termasuk wabah covid-19 menjadikan kita sebagai manusia terbaik yang dapat keluar sebagai pemenang.

Penulis KH Akhmad Muwafik Saleh Pengasuh Pesma Tanwirul Afkar dan Dosen FISIP UB