Maulid Nabi, Antara Dalil dan Perkembangan Tradisi dalam Islam

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

Mengutip gurunya, Syeikh Ali jumah, Gus Faiz menjelaskan bahwa ajaran agama Islam dibagi menjadi dua, ada tsawabit dan ada mutaghoyyirot.

MALANG, PERSYADHA – Islam adalah agama yang dijamin eksistensinya hingga akhir zaman. Penyebarannya melintasi benua dan samudera. Bertemu dan beradaptasi dengan peradaban yang telah hidup di tiap-tiap komunitas masyarakat dunia. Maka begitu pula yang terjadi dengan sub-sub bagian dari ajaran Islam. Termasuk di antaranya cara umat dalam mengekspresikan kecintaan kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, sang pembawa Islam.

(Dari kiri) K.H. Syihabbudin Syifa, K.H. M. Ihya Ulumiddin, dan K.H. M. Faiz Syukron Mu’min saat menghadiri Dzikro Maulidirrosul ke-36 di Ma’had Nurul Haromain, Ngroto, Pujon, Malang pada Ahad (30/8/2026). TIH

Dalil Peringatan Hari Lahir Nabi

K.H. Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta memaparkan bagaimana ekspresi cinta kepada Nabi kemudian berkembang dalam bentuk yang bermacam-macam, salah satunya melalui perayaan Maulid Nabi. Disampaikan dalam momen Dzikro Maulidirrosul ke-36 di Ma’had Nurul Haromain, Ngroto, Pujon, Malang, Kyai yang akrab disapa Gus Faiz tersebut mengutip bagaimana Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menjelaskan ihwal perayaan Maulid Nabi. Kata beliau, di antara dalam pembahasan tradisi, kebiasaan, dan agama dalam perayaan Maulid Nabi, Sayyid Muhammad menggunakan dalil yang kuat dan termaktub di dalam kitab-kitab hadits yang paling dikenal atau kutubussittah. Hadits tersebut yakni saat seorang sahabat bertanya alasan Nabi berpuasa pada hari Senin. Nabi menjawab,

“ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ – أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ”

Artinya: “Hari itu (Senin) adalah hari di mana aku dilahirkan, dan hari di mana aku diutus (sebagai nabi) atau hari di mana wahyu pertama kali turun kepadaku.” (HR. Muslim).

Hadits tersebut menunjukkan adanya perhatian Nabi atas hari kelahirannya. Perhatian tersebut yang kemudian diikuti umatnya dan diikuti perkembangan tata caranya. “Agama ini memberi konsep (dan) payung hukum. Teknis pelaksanaannya diserahkan kepada manusia tergantung pada kebiasaan, zaman, dan keinginannya.” Jelas Gus Faiz.

K.H. M. Faiz Syukron Mu’min saat menghadiri Dzikro Maulidirrosul ke-36 di Ma’had Nurul Haromain, Ngroto, Pujon, Malang pada Ahad (30/8/2026). TIH

Kelompok “Islam Protestan”

Menurut Gus Faiz, sekarang ini muncul kelompok-kelompok yang ia sebut sebagai “Islam Protestan”. Alasannya karena kelompok-kelompok tersebut “senang protes”. Ada tahlilan, tasyakuran 4 bulan kandungan, peringatan Isro Mi’roj, semua diprotes. Protes yang dimaksud adalah dengan selalu memberikan label bid’ah dan sesat. Padahal, banyak hal-hal lain dalam agama yang juga berkembang di saat dunia juga berkembang.

Mengutip gurunya, Syeikh Ali Jum’ah, Gus Faiz menjelaskan bahwa ajaran agama Islam dibagi menjadi dua, ada tsawabit dan ada mutaghoyyirot. Tsawabit berarti tetap, dan mutaghoyyirot berarti berubah. Maksudnya adalah ajaran Islam ada yang hukumnya tetap seperti rukun-rukun dalam sholat, namun ada pula yang berubah seperti bagaimana kategori berpakaian yang baik ke di dalam masjid.

خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Artinya: “… Pakailah pakaianmu yang bagus (perhiasanmu) di setiap (memasuki) masjid…” (QS. Al-A’raf: 31)

Gus Faiz sempat menceritakan kisahnya ketika sholat tarawih di sebuah musholla di Mesir. Kebetulan, imam yang rutin memimpin sholat sedang sakit dan berhalangan hadir. Di saat jamaah kebingungan, datanglah seorang pria dengan celana jins dan berjaket kulit. Gaya rambutnya yang juga necis tanpa ditutupi kopyah maupun sorban membuat prasangka terlintas di benak Gus Faiz. Namun ternyata, sang imam pengganti dapat memimpin jalannya sholat tarawih dengan lancar. Padahal, surat-surat yang dibaca adalah surat-surat panjang dan cukup sulit untuk dihafal seperti Surat Al-A’raf. Gus Faiz yang penasaran, langsung menanyakan ke pengurus masjid dan dijawab bahwa sang imam adalah guru besar yang menguasai qiroah ‘asyroh (sepuluh sanad bacaan Al-Qur’an).

Islam memberi ruang inovasi

Kesimpulannya, menurut Gus Faiz, “jadi, meski Islam diturunkan di zaman Nabi, tapi juga bisa dilaksanakan mengikuti zaman. Hadistnya tetap, tapi pelaksanaannya bisa berubah”. Gus Faiz mengutip Abdulloh bin Abbas bahwa Semua teks agama itu hammal, yang berarti luas maknanya.

(Dari kiri) K.H. M. Ihya Ulumiddin, K.H. Hasan Djauhary, dan K.H. Syihabbudin Syifa, saat mahallulqiyam pada acara Dzikro Maulidirrosul ke-36 di Ma’had Nurul Haromain, Ngroto, Pujon, Malang pada Ahad (30/8/2026). TIH

Masih banyak bentuk-bentuk inovasi lain yang berkembang di dalam Islam. Menurut Sayyid Muhammad, yang mebid’ahkan (maulid Nabi), tidak tahu sejarah Quran. Al-Qu’ran awalnya ditulis di bebatuan, kulit, dan daun-daun kurma. Para sahabat menyatukannya dalam mushaf dengan tulisan tanpa tanda titik agar dapat dibaca oleh seluruh riwayat bacaan. Mushaf lalu berkembang dengan titik, harokat, tanda baca, bahkan kini banyak mushaf memberi tanda pada jenis-jenis bacaan tajwid.

Pada intinya, maulid itu bentuk cinta Nabi, jadi bentuk ekpresinya bebas. “Tsawabitnya cinta Nabi, bentuknya perayaan maulid” pungkas Gus Faiz. Sama seperti anjuran masuk masjid pakai baju yang bagus, baju bagus berkembang mengikuti tradisi masyarakat. Sarung saja di Indonesia menjadi simbol santri dan kyai. Jubah yang modis di zaman sekarang, berbeda dengan jubah Nabi. Yang tsawabit dipegang, yang mutaghoyyirot harus arif menyikapinya.

 

 

Kontributor: TI Haryadi

Masukkan kata pencarian disini