MALANG – Amal Bakti Santri (ABS) Kubro kini telah sampai pada edisi ke-33. Program penerjunan santri Ma’had Nurul Haromain ke lingkungan masyarakat ini menjadi bagian dari pendidikan agar setiap santri siap menjadi dai. Pada edisi kali ini, ABS diselenggarakan di Desa Selorejo, Dau, Malang, sebuah desa yang dikenal dengan pertanian jeruknya. Mereka ditugaskan berdakwah selama 25 hari.

Pengurus Harian Yayasan Persyada Al Haromain berkesempatan mengunjungi kegiatan ABS pada hari puncak acara penutupan, Rabu (06/03/2024). Pengurus juga sempat singgah di salah satu rumah milik warga setempat yang dijadikan Pos 5. Menurut Keterangan Ust Turmudzi, Ketua ABS Kubro ke-33 kali ini, terdapat 8 pos yang disebar di beberapa titik di Desa Selorejo. Masing-masing pos ditugaskan lima hingga enam santri. Selama 25 hari mereka mengadakan pembinaan dan pelayanan bagi masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Beragam acara juga diselenggarakan seperti khitan masal, dialog remaja, dan Festival Anak Islam (Fais).
Lihat pula: Video Dialog Remaja ABS Kubro ke-33

Masyarakat mengaku senang dengan keberadaan santri-santri dari Ma’had Nurul Haromain di tengah-tengah mereka. Santri-santri bisa memberi nuansa baru bagi dakwah keagamaan di Desa Selorejo. Mereka juga mampu berbaur dengan baik terlebih dengan anak-anak desa.

Setelah 25 hari, santri-santri akan kembali ke Ma’had. Oleh karena itu, mereka menyelenggarakan kegiatan penutupan sebagai bentuk pamit kepada masyarakat Selorejo. Bertempat di halaman Kantor Kepala Desa Selorejo, Penutupan ABS mengundang masyarakat, tokoh desa, dan perangkat desa untuk ngaji dan bershalawat bersama. K.H. Rofi’an Karim, salah satu alumni Ma’had Nurul Haromain yang berdakwah di Kota Batu diundang untuk memberikan taushiyah. Sementara itu, Habib Hilmi Baraqbah diundang untuk memimpin shalawat bersama. Para santri juga memberi ruang bari para pelaku ekonomi untuk menggelar dagangannya pada acara penutupan ini.
Lihat pula: Video Penutupan ABS Kubro ke-33

Kegiatan ABS atau yang di dunia kampus dikenal dengan KKN (kuliah kerja nyata), memberikan warna tersendiri bagi pendidikan pesantren. Mereka tidak hanya berkutat di dalam pondok, namun juga dikenalkan dengan lapangan dakwah secara nyata. Bagi pesantren yang memiliki visi mencetak para dai, kegiatan ABS ini bisa menjadi contoh untuk diterapkan pada proses mendidik santri.
Kontributor: TI Haryadi







