Kultum#23 Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Kultum, sajian ceramah pendek 7 menit dalam mengisi antara shalat isya' dan tarawih. Kami siapkan untuk antum, untuk insiprasi dikala buntu tidak tahu mau memberikan tentang. Kami sajikan 30 seri.

Kultum#23 Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan 

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالشُّكْرُ لِلَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَالصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ مَنْ وَالَاهُ وَ مَنْ تَبِعَهُم بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Tidak terasa, puasa kita hari ini telah memasuki 10 terakhir dari bulan Ramadhan. Sebentar lagi bulan yang penuh berkah ini akan segera meningalkan kita, dengan membawa segala catatan amal perbuatan kita untuk selanjutkan dilaporkan kepada Tuhan semesta alam. Tentu laporan itu adalah sebagai bukti apakah puasa kita nantinya bisa menjadi saksi yang menolong kita di hadapan Allah, atau sebaliknya sebagai saksi yang memberatkan kita.

Perlu diketahui bahwa Ramadhan tahun ini adalah makhluk baru yang Allah ciptakan. la bukan Ramadhan tahun kemarin atau tahun yang akan datang. Nantinya setiap Ramadhan akan berdiri sendiri sebagai saksi di hadapan Allah . Kia semua berharap semoga seluruh Ramadhan yang kita lewati dan yang akan kita lalui,benar-benar menjadi saksi penolong kita sekaligus pemberi syafaat kelak di hari yang mana syafat tidak berguna kecuali atas izin Allah Di hadapan kita – insya Allah – sesuai hitungan kalender.masih ada 9 atau 10 hari lagi. Selama 9 atau 10 hari,Ramadhan masih akan setia menemani kita dengan segala keberkahan dan keistimewaannya. Bahkan keinstimewan itu semakin bertambah dan meningkat bersamaan dengan habisnya bulan Ramadhan.Hal ini terbukti dengan semakin giatnya Rasulullah dan para sahabat dalam melakukan ibadah dan amal saleh. Dalam riwayat Imam al-Bukhari, dari Aisyah ,ia berkata, “Bila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan) Rasulullah mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”

Kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia,

Di antara ibadah dan amal saleh yang dilakukan Rasulullah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah 'menghidupkan malam. Ini mengandung pengertian bahwa kemungkinan beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Diriwayatkan dalam hadis marfu’ dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali, “Barang siapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu berpuasa pada siang harinya, melakukan shalat pada sebagian malamnya, menundukkan pandangannya, menjaga kemaluannya, lisan dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jumat;sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, dan mendapatkan Lailatul Qadar.” (HR. Ibnu Abid-Dunya).

Disampingitu, Rasulullah  membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir. Ath-Thabarâni meriwayatkan dari Ali ,”Bahwasanya Rasulullah *membangunkan keluarganya pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat.” Dalam hadis sahih diriwayatkan,bahwa Rasulullah mengetuk (pintu) Fachimah dan Ali pada suatu malam seraya bersabda”Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat?” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hal Ini menunjukkan bahwa beliau sangat bersungguh-sungguh dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Termasuk amal ibadah yang biasa dilakukan Rasulullah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah iktikaf di masjid.Salah satu tujuan iktikaf adalah totalitas penghambaan diri kepada Allah . Iktikaf disyariatkan di dalam dan di luar bulan puasa.Namun dalam bulan puasa, terlebih pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, keutamaan iktikaf semakin bercambah. Dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim disebutkan, dari Aisyah,”Bahwasanya Nabi senantiasa beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, hingga Allah mewafatkan beliau.”

Di samping amalan-amalan yang bersifat pribadi, kita juga dianjurkan untuk meningkatkan amalan-amalan sosial.Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mencapai tingkatan kesempurnaan takwa, hingga ia mampu mencapai ketakwaan secara pribadi dan sosial, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah  dan para salafus saleh.[]

 

Masukkan kata pencarian disini