Kultum#20 Bagaimana Puasa Telinga
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ وَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَمَنْ نَهَجَ مَنْهَحَهُمْ إِلَى يَوْمٍ كَانَ فِيْهِ مَسْئُولًاأَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Telinga adalah salah satu alat informasi dan pengetahuan bagi seseorang. Telinga adalah jendela ilmu dan ilmu terbaik bagi telinga yang sadar akan diiringi dengan zikir. Mendengar kebenaran menambah kemantapan pijakan hati diataskebenaran,sedang mendengar kebatilan akan mewariskan dampak-dampak kebatilan kè dalam hati. Kedudukan telinga yang begitu tinggi di antara anggota tubuh dalam menerima sebuah informasi,menjadikan dirinya disebut pertama kali dalam Al-Qur’an.Allah berkalam, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”(al-Isrâ: 36). Di samping itu, dalam ayat ini secara tegas Allah akan meminta pertanggungjawaban telinga tentang apa yang ia dengar. Karena itu, tidak semua informasi pantas dan layak untuk didengar oleh seorang mukmin yang bertakwa. Apalagi dalam kondisi ia sedang berpuasa. Seorang yang berpuasa dididik untuk mampu menahan telinganya dari mendengarkan berbagai hal yang tidak diperbolehkan oleh syarak. Karena tidak semua suara pantas untuk didengar. Jabir bin Abdillah berkata,”Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu.penglihatanmu,dan lisanmu dari dusta dan dosa-dr menyakiti tetangga.”
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Baik di bulan puasa atau di luar bulan puasa, kita dituntut mampu memaksimalkan anggota tubuh untuk beribadah kepada Allah.Pendengaran kita, diisi dengan mendengarkan Al-Qur`an,taushiyah,nasihat, dan perkataan yang baik. Karena ternyata,kebanyakan orang menyia-nyiakan pendengarannya dalam hal-hal yang tidak benar. Mereka layaknya hewan, karena tidak mampu memfungsikan pendengarannya dengan baik. Allah berkalam,”Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.Mereka itu tidak lain hanyalah binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqân:44). Di antara mereka ada yang memenuhi telinganya dengan nyanyian yang diharamkan,atau informasi penuh dosa. la menutupi telinganya dari mendengar Al-Qur`an, sunnah Nabi, atau taushiyah kebenaran.
Berbeda dengan perilaku para salafus saleh, di mana mereka sangat rindu untuk mendengarkan kalam ilahi,sunnah Rasulullah ,dan nasihat para ulama. Tidak sedikit mereka yang menangis karena terbawa dengan apa yang mereka dengar.Karenanya Allah memuji orang-orang yang mampu menggunakan telinganya untuk mendengarkan kebaikan. Allah berkalam, “Dan,apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur`an) yang telah mereka ketahui.”(al-Mâ`idah:83)
Kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia,
Dengan demikian, puasa telinga adalah dengan mence-gahnya dari mendengar suara-suara atau perkataan yang tidak baik; seperti mendengarkan gosip, gunjingan, umpatan, dan suara atau perkataan buruk lainnya. Karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan, juga dilarang untuk didengarkan.Ini sungguh tidak mudah, karena manusia adalah makhluk informatif yang senang kepada segala informasi. Kalau tidak sadar dan berhati-hati, kita akan lebih senang mendengarkan informasi yang berbau fitnah, gunjingan, ghibah, dan sejenisnya.Di samping itu, alat informasi terus berkembang, dan pasti setan memasang perangkapnya lewat sarana-saana semacam itu.Padahal mendengarkan perkataan batil kedudukannya sama dengan orang yang memakan harta secara batil. Keduanya sama keharamannya. Dalam Al-Qur’an, Allah berkalam,”Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal.”(al-Mâ`idah:42).
Oleh karena itu, untuk menjaga telinga dari suara yang tidak dibenarkan oleh syarak adalah dengan menghindarkan diri dari tempat yang penuh kemungkaran, dan selektif ketika membuka chanel atau memilih acara TV, atau radio. Karena salah satu karakter orang mukmin, sebagaimana yang Allah jelaskan adalah, “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu,kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (al-Qhashash: 55). Apabila kita tidak mau berpaling, maka hukum kita sama dengan mereka, yakni dianggap melakukan kemaksiatan tersebut. Allah berkalam dalam wahyu-Nya, “Jika engkau (tetap duduk bersama mereka),sungguh,engkau pun seperti mereka…” (an-Nisâ’: 140) []







