Khutbah Jumat – Empat Sikap Hidup Manusia

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
khutbah jumat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَههُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّييْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ ففَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَععَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَللَيْكُمْ رَقِيْبًا

Hadirin Jamaah Jum’ah hafidhokumullah

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Surat Al-Qasas Ayat 60)

Kembali kita menyampaikan puji syukur ke hadirat Alloh swt. yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita. Sehingga dengan rahmat itu, kita masih dapat menikmati kehidupan ini dengan baik. Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ. Sebagai dan Rasul yang diamanatkan untuk membimbing umat manusia agar selamat hidupnya di dunia dan akhirat.

Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Alloh swt. dengan sebenar-benarnya takwa melalui pembuktian amal sehari-hari yang dipraktikkan secara umum ataupun ritual, karena memang kewajiban di dunia ini hanya semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya.

Pada kesempatan ini khatib mengajak kita semua untuk mengaji tentang kehidupan Rasulullah dalam sebuah judul, ‘Empat Sikap Hidup Manusia’ semoga kita mendapat pelajaran di dalamnya.

Hadirin Jamaah Jum’ah hafidhokumullah
Perbedaan nilai kehidupan dunia dan akhirat digambarkan oleh Alloh dengan perbandingan yang sangat jauh. Dari segi waktu, kehidupan di dunia tidaklah lama. Dunia adalah tempat persinggahan manusia sementara setelah melalui alam ruh dan alam rahim. Setelah alam dunia dilalui, maka manusia akan masuk ke alam barzah, kemudian alam akhirat yang merupakan akhir segala urusan. Diakhirat, manusia akan menjalani kehidupan yang kekal abadi. Dar segi kenikmatan, dunia dan akhirat tentu jauh berbeda, sebagaimana firman Alloh dalam beberapa ayat ini:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Surat Al-Qasas Ayat 60)

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 25)

Baca juga: Menuju Kesempurnaan Diri

Hadirin Jamaah Jum’ah hafidhokumullah
Bila ditinjau dari sudut agama Islam, terdapat empat kategori manusia dalam mengisi waktunya di dunia, yaitu:

1. Hidup Mulia di Dunia tapi Hina di Akhirat
Golongan ini adalah orang-orang yang kehidupan dunianya bergelimangan harta, emas, dan perak sebagai kekayaan dapat dibanggakan. Ditambah dengan jabatan yang berpangkat, istrinya cantik memikat hingga sampai empat. Seluruh waktu, tenaga dan pikirannya hanya tercurah pada harta, tahta, dan wanita. Semua itu bisa diperolehnya dengan cara halal ataupun haram, bahkan dengan konsep hidup Machiavelis, yaitu menghalalkan segala cara apapun asal tujuan tercapai. Tapi orang yang memburu dunia seperti ini hidupnya tidak selalu bahagia karena dihantui oleh rasa rakut dan gudah gulana. Takut kekayaannya dicuri, takut usahanya bangkrut, takut kehilangan jabatannyan, perebutan kekuasaan, dan lain-lain.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Surat Al-Baqarah Ayat 201)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan di dunia dengan berkecukupan, maka Alloh akan menjaminnya sampai diperoleh semuanya. Tapi jika kehidupan akhirat tidak pula dikejar, maka ia hanyaa akan meraih kemuliaan dunia dengan menggadaikan kehidupan akhirat. Sehingga balasanya adalah kehinaan di akhirat kelak.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Hud Ayat 15-16)

2. Hidup Hina di Dunia tapi Mulia di Akhirat
Kehidupan kelompok ini lebih menyedihkan dibandingkan dengan orang yang hidupnya mewah dengan harta. Walaupun upaya untuk mengejar dunia itu diusahakan, tapi hasilnya belum mengembirakan. Sehingga dapat digambarkan kehidupannya hanya berumah dengan daun rumbia pada sebuah gubuk tua, baju satu kering di badan, badan kurus dihimpit derita, sengsara sudah menjadi sahabatnya. Bagaimana akan bersaing dengan orang lain untuk meraih dunia kalau keahlian, keterampilan, dan ilmu untuk meraih itu tidak dimiliki. Wajaar kalau kehidupan yang dilalui cenderung miskin.

Meskipun demikian, mereka masih memiliki harapan meraih masa depan dan mengais kehidupan akhirat semampunya. Mereka mempunyai pandangan, walaupun di dunia tidak memperoleh apa yang diharapkan, tapi akhirat masih menantinya dengan iman dan melakukan amal shaleh.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(Surat Al-Jumu’ah Ayat 10)

Beruntunglah mereka menyadari bahwa semua yang dialami di dunia ini, miskin dan kaya, sengsara dan bahagia adalah ujian yang diberikan Alloh untuk menguji komitmen iman seseorang. Mereka adalah orang-orang yang ridha terhadap ketentuan Alloh. Semua ketentuan yang telah diberikan Alloh mengandung hikmah yang sangat dalam. Kegagalan atau keberhasilan, kejayaan atau kehancuran, semua itu berdasarkan ketentuan Alloh. Demikian pula keimanan dan kekafiran ditentukan balasannyaa sesuai dengan keputusan Alloh dengan seadil-adilnya.

Karena kesadaran dan keimananlah yang menguatkan mereka bahwa dengan beriman kepada Alloh akan memperoleh ketenangan dalam hidup, jauh dari gundah gulana, dan resah gelisah. Dengan keimanan dan ajaran agama yang diterapkan, mereka mampu mengkondisikan hidupnya hingga membekas pada ketenangan batinnya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Surat Ar-Ra’d Ayat 28)

3. Hidup Mulia di Dunia dan Akhirat
Ini adalah orang-orang yang beruntung mendapat berkah dari Alloh sehingga mampu meraih keduanya, yaitu mulia di dunia dan di akhirat. Dunia ini ia raih dengan kejujuran, keahlian, dan ilmu yang benar hingga cita-cita berhasil diraih. Semuanya dilalui dengan memperhatikan batas-batas yang wajar, perjuangan dijadikan jihad dan sarana beribadah pada Alloh. Hidup diartikan sebagai ujian yang harus dilalui. Ujian berat dalam hidup yang harus dilalui sesungguhnya adalah keberhasilan, kesuksesan, bahkan kemewahan, karena itu lebih sulit daripada melalui ujian hidup berupa kesengsaraan dan kegagalan.

Akhirat adalah target utama dalam hidupnya, sehingga apa yang mereka lakukan dalam hidupnya dapat menjadi tabungan amal untuk kehidupannya kelak di akhirat. Apabila mendapatkan nikmat dari Alloh, mereka selalu bersyukur, dan apabila mendapat musibah dan kesulitan hidup, mereka bersabar dan tetap optimis.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Surat Al-Baqarah Ayat 201)

4. Hidup Hina di Dunia dan Hina di Akhirat
Ini adalah golongan yang sangat merugi. Dunia tidak dapat diraih, hidupnya sengsara, miskin ilmu, dan senang berbuat maksiat. Ditambah lagi dengan kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, dan kekafiran. Sehingga lengkap sudah predikat yang mereka peroleh untuk mengakhiri kehidupan dunia dengan kehinaan dan akhirat dengan sia-sia.

Kekafiran adalah mengingkari kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ secara terang-terangan. Mereka bahkan melakukan perlawanan secara terbuka terhadap orang-orang beriman.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Surat Al-Baqarah Ayat 6-7)

Idealnya bagi seorang muslim adalah hidup mulia di dunia dan mulia pula di akhirat. Inilah doa dan harapan yang selalu kita sanjungkan ke hadirat Alloh. Selain berdoa untuk kemuliaan di dunia dan akhirat, iringi pula dengan mujahadah (perjuangan) untuk meraihnya, dengan mengerahkan tenaga, dana, waktu dan harga. Bila kesungguhan ini dilakukan maka Alloh akan membalasnya dengan surga.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Surat At-Taubah Ayat 111)

Hadirin Jamaah Jum’ah hafidhokumullah
Akan tetapi bila kita tidak mampu meraih keduanya, yaitu mulia di dunia dan di akhirat, maka paling tidak kita harus mencapai kemuliaan di akhirat, walaupun di dunia kita menerima hinaan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَننَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ ق قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat – Empat Sikap Hidup Manusia oleh M. Ayyub Syafii

Artikel Terbaru

eNHa TV

Masukkan kata pencarian disini