KEIMANAN SEBAGAI LANDASAN KOMUNIKASI PROFETIK

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

CAHAYA FAJAR | KEIMANAN SEBAGAI LANDASAN KOMUNIKASI PROFETIK

Oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Kajian komunikasi yang berkembang selama ini menjadikan rasionalisme sebagai dasar pijak dalam menilai berbagai fenomena dan aktifitas komunikasi manusia ataupun media. Sehingga fenomena spiritual seperti misal komunikasi manusia dengan dunia ghaib tidak mendapatkan tempat yang mumpuni dalam perbincangan studi komunikasi barat yang dibangun atas dasar konsep ide rasionalisme ini yang lebih mengandalkan pada fakta-fakta empiris yang kasat mata dan inderawi.

Komunikasi profetik amat berbeda secara diametral dengan studi komunikasi rasionalisme ini. Perspektif profetik tidak hanya memberikan ruang pada hal-hal empirik rasional namun pula memberikan perhatian pada berbagai aspek yang tidak kasat mata dan bersifat spiritual. Bahkan menjadikan hal yang bersifat ghaib, tidak kasat mata sebagai fokus kajian utama yang mendasarkan pada keyakinan keimanan. Artinya bahwa landasan utama dalam kajian komunikasi profetik adalah keimanan. Hal ini mengingat bahwa pondasi dasar berpikir dan bersikap seseorang ditentukan oleh basis keimanannya. Iman adalah sesuatu yang sangat sentral menentukan arah tujuan dari seluruh gerak langkah manusia. Seseorang yang beriman dengan yang tidak beriman akan berbeda dalam mempersepsi dan mensikapi suatu persoalan tertentu, misal bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang tua atau yang lebih tua, bagaimana seseorang mensikapi suatu fenomena bencana atau sebuah masalah pribadi. Seorang yang berpikir rasional tentu akan berbeda dalam menanggapi suatu fenomena bencana alam dan sikapnya dalam menyusun pesan komunikasi dengan seorang yang menjadikan keimanan sebagai dasar pijak berpikirnya. Seorang rasionalis akan mengatakan bahwa bencana adalah sebuah peristiwa alam belaka akibat berbagai faktor empirik , sementara seseorang yang menjadikan keimanan sebagai landasan berpikir akan mengatakan bahwa berbagai bencana alam yang terjadi adalah akibat perilaku dosa manusia. Tentu kedua cara pandang ini akan melahirkan sikap dan tindakan komunikasi yang berbeda.

Komunikasi profetik menjadikan keimanan sebagai landasan dasar sekaligus sentral dalam mengolah informasi dan membangun jalinan komunikasi dalam beragam aspeknya. Hal ini mengingat keimanan adalah landasan gerak utama, sebagaimana ditegaskan dalam teks sumber wahyu:

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” ( Al-Baqarah, Ayat 285)

Landasan berpikir profetik didasarkan atas 6 dasar keimanan yaitu iman kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul, hari akhir, taqdir. Dari keenam dasar keimanan tersebut memberikan ruang yang sangat besar pada keimanan atau keyakinan pada hal yang ghaib, sesuatu yang tidak tampak secara kasat mata. Dasar keimanan yang seperti ini akan sangat berpengaruh pada cara pandang dan cara sikap seseorang dalam menanggapi berbagai realitas.

Kepercayaan pada yang ghaib adalah puncak dari sebuah paradigma atau cara pandang. Secara sederhana bahwa jika seseorang terhadap yang tidak tampak (ghaib) mampu percaya maka tentu terhadap yang tampak akan jauh lebih mudah. Iman pada yang ghaib memberikan arahan tentang pentingnya berpikir dan bertindak melampaui realitas. Jika berpikir rasional yang mengandalkan otak dan indera hanya berhenti pada tataran fakta realitas, maka hati (qalbu) mampu menjangkau ruang-ruang tanpa batas yang tidak bisa jangkau oleh akal rasionalitas sehingga mampu melampaui dari realitas rasional (beyond rational).

Rasionalitas manusia memiliki keterbatasan ruang gerak. Ia berada dalam ruang fisik yang berbatas, yaitu dibatasi oleh kemampuan indera manusia. Kemampuan indera mata terhalangi hingga pada batas jarak area penglihatan, semisal dinding. Indera penciuman juga terbatas pada area jarak cium, namun jika indera ini diserang oleh penyakit maka jarak penciuman akan semakin terbatas. Demikian pula dengan indera pendengaran yang terbatas pada ruang jarak dengar manusia normal. Kemampuan otak manusia pun terbatas pada sejumlah bacaan dan pengalaman yang dikonsumsi oleh dirinya. Semua indera ini yang menjadi jalur utama menuju otak hingga memberikan berbagai informasi tertentu akan suatu realitas atau fenomena di sekitar kita. Sekumpulan Informasi yang berada pada ruang keterbatasan inilah yang kemudian pula membentuk cara pandang (paradigma) berpikir dan selanjutnya mengarahkan pada tindakan. Sehingga paradigma yang dihasilkan dari sekumpulan informasi yang terbatas ini pulalah yang membentuk pola pikir seseorang. Karena itu ruang cakrawala seseorang yang akan mempengaruhi cara bersikap atas sesuatu.

Kemampuan rasionalitas sangatlah terbatas untuk mampu membaca berbagai realitas yang ada di sekitar manusia. Sementara dalam kehidupan manusia terdapat realitas yang bisa di indera, namun ada pula berbagai fenomena yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia namun hal itu dirasakan dan diyakini benar-benar ada (misal makhluk supranatural dll). Untuk itulah, mengandalkan pada kemampuan rasionalitas inderawi atau otak manusia dalam membaca dan menganalisa semua realitas yang kompleks dalam kehidupan manusia dan di alam semesta ini adalah tindakan yang kurang bijaksana (bodoh). Dari sinilah Islam menyediakan suatu cara pandang dengan menghadirkan sebuah konsep keimanan atas hal yang ghaib sebagai solusi agar manusia tidak terjebak pada kekakuan dan keterbatasan cara berpikir serta membebaskan atau memerdekakan pikiran manusia dari penjajahan rasionalitas.

Untuk itulah yang disebut iman adalah keteguhan seseorang yang tertanam di dalam hatinya atas suatu konsepsi nilai tertentu yang diyakini kebenarannya baik melalui mekanisme inderawi maupun intuisi hati. Dalam perspektif profetik, keimanan menjadi landasan utama seseorang dalam menggerakkan semua potensi diri kemanusiaannya, baik berpikir, merasa, memahami dan bertindak dalam seluruh aktivitas dan menanggapi seluruh realitas ataupun fenomena yang ada dalam kehidupan ini. Sementara pula, keimanan yang dimaksud adalah keimanan yang dipandu langsung oleh Tuhan Sang Pencipta kehidupan yaitu Allah swt melalui teks-teks suci sumber wahyu serta contoh keteladanan dari Rasul utusanNya yang memilik sifat sidiq, amanah, tabligh dan fathonah sehingga mampu menjamin keimanan itu sebagai sebuah kebenaran dan mampu menjadi solusi bagi seluruh realitas kehidupan.

Komunikasi yang dilahirkan dari dasar landasan keimanan melahirkan realitas komunikasi dan perilaku yang terbaik. Sebagaimana di jelaskan dalam teks sumber wahyu dan sabda nabi berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” (QS. Al-Ahzab : 70-71)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat : 12)

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR. Bukhari)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari no. 6475)

Keimanan telah menjaga dan mengantarkan seseorang menjadi seorang berkepribadian dan berperilaku baik. Keimanan inilah yang menjadi landasan bagi manusia dalam menjalankan tindakan komunikasinya saat berinteraksi dengan berbagai fenomena yang ada disekitarnya. Keimanan menjadi dasar dalam memproduksi dan mengolah pesan serta menganalisis setiap peristiwa yang ada, sehingga menghasilkan analisis yang hidup karena dilihat secara holistik integratif dan mampu memuaskan akal rasionalitas serta hati dan perasaan manusia yang merdeka.

Komunikasi yang dihasilkan dari landasan seperti ini akan melahirkan komunikasi yang membahagiakan, mendamaikan dan menentramkan jiwa sehingga lahirlah realitas hubungan antar manusia yang mampu memanusiakan manusia (human humanization) dan kehidupan sosial yang harmonis. Demikianlah yang pernah terjadi pada masa kenabian dan kehidupan para sahabat, yang disebut-sebut sebagai realitas kehidupan terbaik sepanjang masa (khairul qurun). Yaitu realitas kehidupan masyarakat yang saling peduli, saling membantu, saling mengerti, saling menghormati, saling dukung, penuh persaudaraan, penuh ukhuwah dan segala kebaikan kehidupan sosial lainnya. Dan itulah realitas keberhasilan dari komunikasi profetik itu..!

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 19.12.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com

 

Artikel Terbaru

eNHa TV

Masukkan kata pencarian disini