Kasus Palestina dan Ujian Keamanan Pasca Ramadhan

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

KASUS PALESTINA DAN UJIAN KEIMANAN PASCA RAMADHAN

oleh: Akhmad Muwafik Saleh

Mungkin terlalu sederhana mempersangkutpautkan antara kasus yang terjadi di Al Aqsa Palestina atas gempuran tentara Israel dengan an keberhasilan puasa Ramadhan kita. Namun apabila kita cermati bahwa puasa Ramadhan yang berujung pada tercapainya rasa bertakwa mensyaratkan nilai keimanan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Tepat di akhir Romadon dan awal Idul Fitri, media sosial di tanah air dan seluruh dunia diramaikan dengan peristiwa kejahatan kemanusiaan yang menggugah rasa kemanusiaan kita, terlebih setelah 30 hari ditempa dengan nilai-nilai keimanan melalui Madrasah Ramadhan, yaitu agresi militer Yahudi Israel terhadap saudara muslim di Palestina khususnya di Jalur Gaza. Bahkan mereka menyerang secara brutal hingga ke dalam masjid Al Aqsha, Kiblat pertama umat Islam. Yang menyebabkan ratusan kaum muslimin meninggal sebagai syuhada dan ribuan lainnya termasuk anak-anak yang terluka.

Anehnya, dalam menanggapi peristiwa ini ummat Islam khususnya di Indonesia negeri kaum muslimin terbesar dunia terbelah menjadi beberapa bagian. Ada diantara mereka yang mengutuk keras agresi israel tersebut, ada yang diam seribu bahasa, ada yang menyalahkan palestina dan ada pula yang malu-malu untuk mendukung israel. Mereka yang mengutuk keras berargumentasi bahwa Palestina adalah negeri kaum muslimin yang disana terdapat masjid agung Al Aqsha yang wajib dibela, sehingga kelompok ini meramaikan medsos untuk membangunkan kesadaran bersama ummat Islam.

Sementara mereka yang diam dan bersikap netral berargumen bahwa konflik yang terjadi adalah bukan konflik agama dan hal itu urusan dalam negeri mereka. Mereka yang menyalahkan palestina berargumen karena di Palestina tidak hanya muslim namun ada juga non muslim dan di sana pula masih ada kelompok yang berseteru yaitu Fatah dan Hamas yang menjadi sebab tidak pernah tercapainya penyelesaian konflik. Dan kelompok yang terakhir berargumen bahwa agresi israel tersebut adalah untuk memerangi kelompok teroris yang ada di Palestina. Lebih aneh lagi pada sebagian kelompok yang diam tak peduli, mereka berargumen bahwa buat apa jauh-jauh peduli pada Palestina yang nyata-nyata jauh dari tanah air lebih baik berjuang di negara sendiri saja. Sehingga buat apa ramai di medsos, lebih baik ikut kiyainya saja (padahal beda level pendekatan antara sang kyai dengan si murid).

Terlepas apapun perdebatan tentang siapa saja dan apa saja yang terlibat dalam pertikaian di palestina, maka suatu hal pasti bahwa Masjidil Aqsha yang terletak di Yerusalem Timur, wilayah kota tua. Masjidil Aqsa dahulu adalah Baitul Maqdis, yaitu kiblat pertama umat Muslim. Masjid Al-Aqsa merupakan kompleks masjid yang terletak di Palestina. Keberadaanya sekarang masih menjadi sengketa antara Palestina dan Israel. Kompleks ini menjadi tempat yang disucikan oleh umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Tak dapat dipungkiri bahwa Masjid Al Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam, Masjid yang sangat di agungkan oleh Islam selain Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, tempat persinggahan isra dan mi’raj Nabi Muhammad saw, serta tempat yang diberkahi oleh Allah swt. Sehingga mempertentang persoalan konflik palestina- Israel dalam konteks ini menjadi tidaklah begitu berarti. Terlebih manakala kita membuka sejarah tentang asal mula kedatangan bangsa yahudi di palestina hingga kemudian pendudukan atau penjajahan bangsa Israel atas bumi Palestina.

Kasus Agresi Militer Israel terhadap saudara Muslim Palestina menegaskan beberapa hal. Pertama, menjadi barometer ujian keimanan tersendiri bagi kaum muslimin khususnya pasca puasa Ramadhan yang mereka kerjakan selama sebulan penuh sebelumnya. Bahwa madrasah Ramadhan mengajarkan seorang muslim untuk menguatkan rasa keimanannya dengan berbagai amaliyah di dalamnya dengan tujuan untuk meningkatkan ketaqwaan. Sehingga persis di akhir ramadhan, ketaqwaan itu diuji oleh Allah swt. Seakan Allah swt ingin mengetahui siapa diantara hambanya yang berpuasa itu memiliki keimanan yang kuat. Sebagaimana Firman Allah swt :

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? (QS. Al-Ankabut, Ayat 2)

Demikian pula dalam ayatNya yang lain :

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تُتۡرَكُواْ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَلَمۡ يَتَّخِذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَا رَسُولِهِۦ وَلَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَلِيجَةٗۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. At-Taubah, Ayat 16)

Boleh jadi peristiwa Palestina di akhir Ramadhan ini adalah ujian keimanan bagi kaum muslimin untuk mengetahui siapa diantara Mereka yang masih memiliki rasa keimanan. Karena tanda keimanan itu salah satunya adalah kesediaan untuk berjihad atau berpihak pada jihad serta siapa yang didukung untuk dijadikan teman setianya, mujahid atau kafir dan munafiqun ?.

Kedua, menegaskan akan pentingnya kepedulian terhadap sesama saudara muslim. Dan inipun juga menjadi salah satu dari barometer keimanan seseorang. Bahwa seorang yang beriman dan bertaqwa (hasil dari puasa Ramadhan) adalah memiliki kepedulian yang tinggi pada sesama muslim. Bahkan tidak sedikit dari amaliyah di bulan Ramadhan yang mengajarkan tentang kepedulian ini. Untuk itu tepat di akhir ramadhan, jiwa kepedulian ini langsung diuji oleh Allah. Sehingga barang siapa yang minus kepedulian maka patutlah ia bertanya kembali tentang bagaimana puasa Ramadhan yang dikerjakan sebelumnya. Bahkan apabila seseorang minus kepedulian atas saudaranya yang muslim diancam oleh Rasulullah dengan ancamannya.

مَنْ لاَ يَهْتَمُّ بِأََمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka dia bukan dari mereka” (HR. Thabrani)

Sekalipun hadits tersebut lemah namun tidak apa dipergunakan sebagai fadhail a’mal. Namun hadits yang serupa terkait kepedulian atas saudara muslim dapat pula kita gunakan hadits berikut :

الْمُؤْمِنِ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَثُّدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya” (HR. Bukhari)

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اثْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas” (HR. Muslim)

Bahkan argumen yang menyatakan bahwa buat apa jauh-jauh peduli pada peristiwa yang jauh di palestina, lebih baik berjuang di dalam negeri saja. Argumentasi ini menandakan minusnya kepedulian sekaligus hal ini bentuk ketidakpedulian atau tiadanya kepedulian. Sebab rasa kepedulian yang dimilikinya akan habis atau hilang manakala dibagi Na’udzubillah.

Ketiga, menegaskan tanda cinta pada Allah. Cinta itu penuh dengan ujian. Manakala kita cinta Allah sebagai buah dari puasa Ramadhan kita. Maka tentu akan lebih mengutamakan orang lain, kepedulian pada saudara muslim dan mendukung jihad mereka, sekalipun dengan cara meramaikan medsos agar kaum muslimin yang lain bersedia peduli dan kemudian bersedia membantu mereka dengan dana dan doa. Allah swt menegaskan dalam FirmanNya :

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah, Ayat 24)

Wahai saudara muslim, jika kasus Palestina dan agresi militer Israel terhadap masjid Al Aqsha saja tidak mampu menggetarkam hati untuk turut peduli, lalu dengan cara apa lagi keimananmu akan diuji, kecuali hanya satu alasan yang dapat diterima yaitu saat ini hatimu sedang bermasalah, antara sakit atau telah mati. Wallahu a’lam.

 

—————————-
*Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang ; Dosen FISIP UB, Sekretaris KDK MUI Propinsi Jawa Timur, Motivator Nasional Bidang Komunikasi Pelayanan Publik, Penulis 16 Buku Best Seller

Masukkan kata pencarian disini