Jima’ Sewaktu Puasa Batal

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

Di siang hari Ramadlan seseorang batal puasa oleh sebab sesuatu. Lalu dia berkehendak mengumpuli isterinya. Pada kasus ini apakah dia terkena kaffarat yang sangat berat akibat mengumpuli isterinya di siang hari Ramadlan itu?

Fauzi, Manyar Gresik

Abi Ihya’ menjawab:

Membatalkan puasa di bulan Ramadlan tanpa udzur yang diperbolehkan oleh syara’ merupakan pelanggaran yang sanksinya tidak ringan. Di antara dalilnya yaitu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ أَفْطَرَيَوْمًامِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخّصَهَا اللهُ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ

Barang siapa berbuka sehari di bulan Ramadlan tanpa ada rukhsoh yang telah diberikan Allah Ta’ala maka hal itu tidak akan bisa digantinya dengan puasa setahun penuh walaupun puasa setahun penuh itu dilaksanakannya (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Mengumpuli isteri termasuk hal membatalkan puasa yang pelanggaran terhadapnya tanpa udzur diancam keras dengan hukuman yang berat, yaitu membayar kaffarat berupa memerdekakan budak, atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberikan makanan untuk 60 orang miskin, di samping mengqodlo puasanya. (Lihat Al Fiqhul Islami I/678)

Namun, manakala mengumpuli isteri dilakukan dengan adanya udzur yang diberikan oleh syara’ (seperti bepergian, lupa, dan sebagainya) maka tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Suatu misal, seseorang yang bepergian jauh mengumpuli isteri dengan niat menerima rukhsoh (keringanan) yaitu boleh tidak berpuasa atas bepergiannya maka baginya tidak wajib membayar kaffarat, kecuali hanya mengqodlo puasa yang dibatalkannya (Lihat Ahmad Isa Asyur: Al Fiqh Almuyassar: 159). []

Artikel Terbaru

eNHa TV

Masukkan kata pencarian disini