“I’tikaf bersama Abi memang menjadi momen kebersamaan bagi jamaah, karenanya jamaah dari luar kota pun berbondong-bondong untuk datang.”

SURABAYA, PERSYADHA – Sepuluh hari terakhir bulan Roamdhon adalah hari-hari spesial yang didalamnya turun Lailatul Qodar. Karenanya, masjid-masjid semakin ramai dengan jamaah yang beri’tikaf, terutama pada malam-malam ganjil ntanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Romadhon. Pemandangan itu pula yang dapat disaksikan di sisi utara Masjid Sunan Ampel di Jl. Ampel Masjid No.23, Surabaya pada Ahad dini hari, 15 Maret 2026 yang dipenuhi jamaah Persyarikatan Dakwah Al Haromain. Sejak Sabtu malam (14/3/2026), jamaah berdatangan untuk melaksanakan I’tikaf bersama Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin (Abi Ihya). Mereka berasal dari berbagai kota seperti Tulungagung, Madiun, Malang, Pasuruan, serta Surabaya dan sekitarnya.
Kegiatan I’tikaf bersama Abi memang rutin diselenggarakan setiap Romadhon tiba. Waktunya mengambil malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Romadhon yang bertepatan dengan akhir pekan karena pada saat itu merupakan jadwal Abi Ihya berada di Surabaya. Kegiatan ini memang dimaksudkan salah satunya untuk menjemput nafahat yang amat besar yang dijanjikan Alloh bagi hambanya di Bulan Romadhon, lebih-lebih pada lailatul qodar. Pada penyelenggaraan kali ini, i’tikaf bertepatan dengan malam ke-25 Romadhon 1447 H.
I’tikaf bersama Abi memang menjadi momen kebersamaan bagi jamaah, karenanya jamaah dari luar kota pun berbondong-bondong untuk datang. Ada yang berangkat secara mandiri, ada pula yang bersama rombongan. Sebagian jamaah juga memanfaat momen ini untuk sekaligus berziarah ke makam Sunan Ampel, salah satu Wali Songo yang makamnya tepat di sebelah barat Masjid Sunan Ampel.

Qiyamullail dan Dzikir
Abi Ihya yang datang bersama keluarga, hadir di Masjid Sunan Ampel sekitar pukul 02.15 dan langsung memulai qiyamullail. Seperti tahun-tahun sebelumnya, qiyamullail dilaksanakan dengan sholat tasbih sebanyak 4 rokaat dengan sekali salam. Sholat tasbih adalah sholat yang diajarkan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib. Sholat ini terdiri dari 4 rokaat dan bisa dilaksanakan dengan dua kali salam maupun sekali salam. Di tiap gerakan terdapat perintah membaca tasbih yang jika ditotal maka tasbih yang dibaca sebanyak 300 kali dari keempat rokaat.
Setelah sholat tasbih, Abi melanjutkan dengan membaca dzikir jamai dengan tambahan bacaan istighfar dan bacaan wirid Romadhoniyah yang diijazahkan Abi. Kegiatan pun ditutup dengan doa dan mushofahah. Jamaah kemudian melaksanakan sahur. Ada yang sahurnya berkumpul dengan keluarga, bersama teman, dan ada pula bersama rombongan jamaahnya. Semua saling berbagi sehingga kegiatan i’tikaf ini penuh dengan kebersamaan.
Kontributor: TI Haryadi






